Memilih Pemimpin Yang Tahu Diri

Hajatan politik masih berlangsung seru. Setelah beberapa saat lalu kita menggelar pemilu legislatif, puncak acara berlangsung Juli mendatang, pemilu presiden. Suka-duka menyelimuti seantero negeri. Suka ria dirasakan para caleg dan pendukungnya yang menang. Sementara duka dialami mereka yang kalah.

Mari kita sejenak menyendiri, merenungkan tentang apa sebenarnya yang tengah berlangsung di negeri ini. Semua orang berbicara, berdebat dan sibuk tentang politik. Segalanya dikerahkan, tenaga, pikiran, perasaan, harta-benda. Tak jarang bahkan, pergulatan politik ini mengorbankan hal-hal berharga sepeti persaudaraan dan persahabatan. Apa sebenarnya yang dicari?

Demokrasi membuka peluang kepada semua orang untuk aktif berpolitik. Urusan negeri ini diurus oleh rakyat sendiri. Jabatan-jabatan pemerintahan, di daerah maupun pusat, digilir setiap lima tahun sekali.

Namun, sistem demikian ternyata melahirkan efek yang tidak diharapkan. Kebebasan politik ini “mengobral” jabatan-jabatan itu kepada siapa saja yang mau, mampu dan pantas. Akhirnya, banyak orang yang mau, serta merasa bisa dan pantas. Apalagi, terbukti jabatan-jabatan ini dapat mendongkrak peran, popularitas, prestise dan kekayaan banyak orang yang menjabatnya. Keuntungan-keuntungan duniawi ini juga menjadi “berkah” bagi para pendukung pejabat tersebut.

Jadilah pemilu lima tahunan ajang rebutan menjadi pemimpin. Apapun diupayakan dan dikorbankan demi memenangkan jabatan yang diincar. Secara hukum kenegaraan, ini adalah hak setiap warga negara. Tapi sebagai Muslim, hak tersebut harus juga dipertimbangan dengan tuntunan agama.

Sah saja kita mencalonkan diri jadi pemimpin. Tapi selaku Muslim, kita perlu memperhatikan juga tuntunan-tuntunan agama. Suatu hari Rasulullah saw menasehati seorang sahabatnya saat ia meminta diberikan suatu jabatan.

“Ya Abdurrahman bin Samurah, engkau jangan meminta jabatan, sebab jika jabatan diserahkan kepadamu berdasarkan permintaanmu, maka akan diserahkan sepenuhnya. Tapi jika jabatan itu diserahkan kepadamu bukan atas dasar permintaanmu, kamu akan dibantu melaksanakannya.” (HR. Bukhari).

Jabatan itu hakikatnya adalah amanah dari Allah, yang diberikan kepada orang-orang yang dipilih-Nya. Allah akan memberikan kekuatan yang diperlukan agar si hamba tersebut mampu menjalankan amanah-Nya. Pada posisi ini, si hamba tersebut sadar akan posisinya selaku hamba yang lemah, tiada kekuatan dan kemampuan apapun. Kekuatan dan kemampuan hanya milik Allah.

Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...