Mengapa Dakwah Perlu Menyentuh Sisi Kemanusiaan?

Dalam sebuah kisah yang cukup populer dalam Sirah Nabawiyah, dikisahkan Rasulullah SAW melakukan perjalanan dakwah ke Thaif yang berjarak 60 mil dari kota Makkah ditemani sahabat beliau Zaid bin Haritsah.

Setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya sampailah beliau di kota Thaif. Rasul dengan lemah lembut mengajak penduduk setempat untuk memeluk agama Islam. Di luar dugaan, ternyata penduduk Thaif menolak dengan keras ajakan tersebut. Bahkan Rasulullah dan Zaid bin Haritsah diusir dan dilempari batu agar segera keluar dari Thaif.

Dengan tubuh berlumuran darah rasul keluar dari kota Thoif, mencari tempat persembunyian. Pada saat itu Malaikat Jibril datang lalu berkata, ”Wahai Muhammad, Allah mengizinkanmu untuk menimpakan dua gunung itu pada penduduk Thaif”.

Ditawari hal tersebut serta merta Rasulullah segera menolak lalu menjawab, ”Jangan, siapa tahu Allah akan mengeluarkan seseorang yang mengucapkan ‘Laa ilaha ilallah’ dari rahim mereka.”

Itulah pilihan sikap Baginda Nabi kepada penduduk Thaif yang telah menyakitinya. Bukan doa untuk mencelakakan, melainkan doa kebaikan yang dipersembahkan.

Banyak pelajaran berharga dari kisah di atas, mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dibandingkan nilai hukuman bagi para penentang syiar Islam.

Dalam beberapa kisah lainnya, rasul acap kali menunjukkan hal yang sama. Pertimbangan utama yang harus dikedepankan dalam mengajak sebuah kebaikan yaitu pertimbangan dari sisi kemanusiaan dan akhlak.

Firman-Nya dalam surat Ali Imran ayat 159, ”Maka dengan rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka. Bila engkau berlaku kasar dan berhati keras maka pastilah mereka akan menghindar dari sisi mu.”

Artinya, manusia cenderung menolak ajakan kebaikan yang dilakukan dengan cara kurang tepat (kasar).

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam sebuah nasihatnya mengatakan, ”Ibadahmu itu belum sempurna bila belum mampu memancarkan cahaya Ilahi”.

Makna “Cahaya Ilahi” disini adalah, sudah seharusnya dakwah memiliki efek kebaikan yang bisa dirasakan dalam kehidupan baik untuk diri sendiri maupun untuk masyarakat luas. Para ulama Nusantara telah mencontohkan pada awal masuknya Islam ke Indonesia. Dengan pendekatan kemanusiaan mereka dapat mengislamkan 90 % masyarakat saat itu.

Mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan adalah puncak dalam beragama.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...