Mengapa Tak Ada Kata Dakwah dalam Tanbih?

Tanbih merupakan pesan dan wasiat dari Mursyid TQN Pontren Suryalaya Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad yang dikenal dengan Abah Sepuh. Beliau adalah seorang ulama, pejuang dan pendiri Pontren Suryalaya sejak 05 September 1905.

Sebagai manusia tentu usia seseorang terbatas, begitupun dengan Abah Sepuh yang wafat di usianya yang ke-120 pada 25 Januari 1956. Tetapi sebagai ulama, Abah sepuh sudah menyusun wasiat dan pedoman yang ditinggalkan untuk murid-muridnya laki-laki dan perempuan, baik tua maupun muda.

Warisan Abah Sepuh ini sudah seyogyanya diamalkan dan dilestarikan. Sehingga bisa dimengerti mengapa setiap manaqib yang diselenggarakan selalu dibacakan kembali tanbih agar terus diingat, dihayati dan diamalkan.

Tanbih juga mengingatkan kita bahwa para ulama sebagai pewaris nabi selalu meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi generasi setelahnya. Karena seperti yang kita tahu bahwa para ulama memang mewarisi ilmu dari para nabi dalam melanjutkan perjuangan dan dakwahnya.

“Sungguh ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi itu tidaklah mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Siapa yang mengambil dengannya (ilmu), maka sungguh dia mengambil dengan bahagian yang besar dan sempurna (dari warisan kenabian tersebut).” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).

Makna Tanbih

Tanbih sendiri berasal dari kata nabbaha yunabbihu yang berarti memberitahukan, mengingatkan, memberi peringatan, menarik perhatian, membangkitkan, menggairahkan dan membangunkan.

Sehingga tanbih bisa dikatakan sebagai peringatan yang mesti mendapat perhatian secara seksama. Tanbih juga mengingatkan mereka yang lalai dan belum sadar.

Selain itu tanbih membangkitkan mereka yang jatuh dan terpuruk serta membangunkan mereka yang tengah tertidur lelap. Tanbih yang dibacakan, diperdengarkan serta dikaji mampu menggairahkan orang untuk mengamalkan dan melestarikan nilai-nilai di dalamnya.

Tak aneh jika tanbih yang berisikan pesan moral itu selalu dibahas dan tak berhenti dikaji. Sudah banyak tulisan ilmiah yang mengupas kekayaan isi tanbih dari berbagai perspektif.

Misalnya, “Wasiat Pendidikan Sufistik Dalam Naskah Tanbih Mursyid Tarekat Qodiriyyah Naqsyabandiyah Suryalaya (Telaah Pemikiran Guru Mursyid Tqn Suryalaya)”, “Tanbih Dalam Kehidupan Bermasyarakat (Studi di Pondok Pesantren al-Kautsar Pademawu Pamekasan)”, “Etika Normatif Dalam Tanbih Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya (Studi Naskah Tanbih)”, “The Message of Religious Moderation In Tanbih Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya” dan “Etika Politik Dalam Naskah Tanbih (Wasiat Etika Politik dari Mursyid Tarekat Qodiriyyah Naqsyabandiyah Suryalaya Terhadap Murid-muridnya)”.

Dakwah dalam Tanbih

Yang menarik ialah saat tanbih tak satupun memuat kata dakwah di dalamnya. Dakwah yang merupakan tugas mulia bahkan hingga dibentuk lembaga dakwah secara khusus justru tak masuk dalam susunan wasiat murid dari Syekh Tolhah tersebut.

Tetapi jika dicermati isi dan kandungannya, tanbih adalah dakwah itu sendiri. Dakwah yang diusung oleh Abah Sepuh bukan dakwah dalam arti sempit seperti berceramah atau memberikan mauidzah hasanah.

Abah Sepuh dan Abah Anom.

Dakwah bukan ditempatkan pada posisi yang hanya bisa dilakukan oleh para dai, ustadz maupun kiai. Justru Abah Sepuh meletakkan dakwah itu bisa dilakukan oleh siapapun. Salah satunya dengan ungkapan ‘lebih baik buktikan kebajikan yang timbul dari kesucian’.

Dakwah dalam tanbih juga tak ditempatkan mengawang selalu ke langit tetapi mempertimbangkan realitas dan memperteguh relasi antara agama dan negara.

Dakwah yang disasar oleh tanbih juga tidak ekslusif hanya mengarah dalam persaudaraan sesama muslim ataupun sesama ikhwan, tapi justru inklusif mengukuhkan persaudaraan kemanusiaan.

Dakwah dalam tanbih tak hanya melihat manusia sebagai subjek dan objek dakwah secara materialistik, tapi melihatnya secara utuh.

Dakwah yang diajarkan oleh Abah Sepuh tidak menekankan pada perkataan dan nasehat tetapi keteladanan yang justru menjadi kunci dakwah itu sendiri.

Secara komprehensif, tanbih mengajak kita untuk membangun, memperbaiki dan menjaga keharmonisan dalam hubungannya dengan Sang Khalik dan makhluk-Nya. Mulai dari keharmonisan dengan diri sendiri, sesama manusia, sesama pemeluk agama, hingga lingkungan dan alam raya.

Dakwah dalam tanbih juga bukan hanya fokus pada mewujudkan kesehatan manusia secara fisik tetapi sehat secara lahir batin yang diistilahkan dengan kata cageur bageur lahir batin.

Dakwah yang diajarkan tanbih bukan hanya bersifat individualistik tapi menekankan pada sinergitas, kerja sama, kolaborasi dan gotong royong dengan sesama tanpa pandang bulu.

Dakwah yang diisyaratkan tanbih bukan dilakukan secara serampangan dan berantakan, tapi justru dilakukan secara manajemen yang baik (tertib). Dan masih banyak lagi mengenai dakwah yang bisa dipetik dalam tanbih.

Jika disimpulkan, tanbih sejalan dengan misi yang dibawa oleh Rasulullah Saw yakni untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak dan sebagai rahmat bagi alam semesta.

Rekomendasi
Komentar
Loading...