Menghadirkan Cinta di Dalam Qalbu

Di dunia ini, tidak ada seorang pun yang mampu menopang kehidupannya sendiri. Sehebat-hebatnya dia pasti perlu relasi atau hubungan dengan orang lain, meskipun minim.

Sebuah keluarga membutuhkan asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan harian di rumah. Begitu juga sebaliknya, asisten rumah tangga memerlukan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya.

Ada satu relasi khusus yang disediakan Allah SWT agar kehidupan bisa berlangsung sampai hari akhir. Relasi itu dinamakan relasi Cinta. Relasi yang tidak membutuhkan imbal balik dalam hal materi, muncul dari ketulusan dan keikhlasan.

Para sufi selalu belajar menghadirkan cinta di dalam qalbunya. Cinta kepada Tuhannya, Allah SWT.

Perjalanan ruhani bukanlah perjalanan yang mudah, melainkan penuh dengan rintangan. Kita tidak mampu melewatinya bila qalbu belum cinta dengan alur perjalanan ini. Bagaimana kita bisa bangun malam, puasa, dzikir, meninggalkan segala kesenangan duniawi bila di dalam qalbu masih ada ikatan-ikatan duniawi yang memberatkan ia untuk melakukannya.

Beberapa ulama sufi yang mengajarkan mahabbah (cinta) antara lain Sayidah Rabiah Al Adawiyah, Syekh Jalaludin Rumi, Al Hallaj dan lain sebagainya. Menurut mereka cinta kepada selain Allah adalah kebatilan. Amalan yang tidak dimaksudkan kepada Allah adalah batil.

Dalam HR Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda, ”Dunia ini terlaknat dan segala yang terkandung di dalamnya juga terlaknat, kecuali orang yang berdzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang alim atau penuntut ilmu syari”.

Para pengamal tarekat memiliki amaliah rutin, yaitu dzikrullah dengan memperbanyak ucapan Lā ilāha illā Allāh. Dalam berbagai keterangan hadits dijelaskan, Lā ilāha illā Allāh adalah kalimat dzikir yang paling utama dari dzikir-dzikir lainnya.

Pada kalimat Lā ilāha illā Allāh mengandung 2 makna, penafian dan pengokohan. Lā ilāha adalah upaya untuk menafikan, menegasikan, menolak, mengingkari, segala sesuatu yang berpotensi menjadi ilah. Sementara illā Allāh  adalah pengokohan hanya Dia, Allah SWT yang perlu dicinta, didamba, dipuja, dipentingkan dan disegalakan.

Kalimat dzikir inilah yang menghadirkan cinta di dalam qalbu melalui bimbingan syekh mursyid.

Dalam Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah Pontren Suryalaya ada 2 dzikir yang dilatihkan. Dzikir jahri dan dzikir khafiy. Dzikir ini dipraktikkan setiap selesai ibadah shalat fardhu, minimal sebanyak 165 kali, lebih banyak lebih bagus.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...