Mengintip Peluang Bisnis E-Commerce dari Desa

Bisnis adalah menangkap peluang. Seorang entrepreneur sejati seharusnya tak mudah dikalahkan oleh situasi dan kondisi apapun, bahkan karena pandemi sekalipun.

Kenapa demikian? Sebab dalam kondisi seperti apapun, ada kebutuhan manusia yang tak bisa dihentikan.

Dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang, pada umumnya dunia bisnis terkena dampak. Seperti bisnis pariwisata dan perhotelan, penerbangan, restoran, MICE, dan bisnis-bisnis lain yang meniscayakan crowd atau perkumpulan manusia.

“Tapi, bukankah dalam situasi pandemi juga tetap ada peluang? Salah satu proses bisnis adalah mengidentifikasi peluang,” demikian disampaikan Kevin Wu, CEO EndorsMe dan Riseller.com, saat menyampaikan webinar tentang “Peluang Bisnis E-Commerce” kepada para peserta pelatihan wirausaha digital TQN Preneur, Jumat, 5/5/2020.

Acara pelatihan berbasis digital yang diselenggarakan TQN News tersebut telah berlangsung secara online sejak 1 Juni 2020 dengan peserta para pengamal tarekat TQN Pontren Suryalaya, yang rata-rata juga entrepreneur.

Menurut Kevin, saat ini kebutuhan manusia yang tak bisa dihentikan adalah kebutuhan pokok seperti sembako, toiletries, produk kebutuhan anak yang tidak bisa distok, dan beberapa kebutuhan lainnya.

Restoran sebagai penyedia makanan konsumsi juga tetap dibutuhkan, tapi mereka harus menyesuaikan diri, misalnya dengan membuat produknya menjadi ready to cook atau frozen food.

“Mungkin saat ini orang tidak berpikir untuk beli rumah atau pakaian mahal, tapi kebutuhan pokok pasti mereka harus beli. Jadi, intinya peluang itu tetap ada, dan itu yang perlu digali,” kata Kevin.

Belajar pemberdayaan desa dari negeri Cina

Kevin mengingatkan, salah satu peluang bagus saat ini adalah mengangkat produk-produk dari desa ke jaringan pasar yang lebih luas.

Kita tahu, banyak sekali kebutuhan pokok seperti beras, jagung, sayuran, lauk-pauk, buah-buahan berasal dari desa. Namun, masih banyak dari produk-produk tersebut yang belum terpasarkan dengan baik ke jaringan konsumen yang lebih luas.

Kebetulan, Kevin sendiri pernah mengunjungi perusahaan e-commerce kelas dunia, Alibaba, di kantor pusatnya di Hangzhou. Di sana, dia dan beberapa orang dari Indonesia belajar secara intensif selama 2 minggu.

Salah satu pelajaran menarik yang ia temui di sana, dan sangat bisa diterapkan di Indonesia adalah bisnis yang melibatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan dengan pemanfaatan e-commerce.

Kevin dikenalkan dengan Taobao Village misalnya, sebuah desa hasil kolaborasi dengan e-platform e-commerce Taobao. Syarat sebuah desa disebut Taobao Village, minimal tiga: penjualannya minimal 10 juta RMB atau sekitar 20 Miliar, ada 100 toko online di desa tersebut, dan harus dilakukan oleh orang lokal.

Hasilnya sangat signifikan. Jika pada 2013 hanya ada satu Taobao Village, data terakhir pada tahun 2019 (Agustus) sudah mencapai lebih dari 4.300 desa, 6.600 toko online aktif, dengan total penjualan sekitar 1.300 triliun per tahun. Rata-rata pendapatan penduduk desa juga meningkat 3 kali lipat

Dia mencontohkan, ada seorang pengepul dan pengemas kacang (semacam kacang tanah) di sana, yang tinggalnya di desa, penampilannya juga orang desa, tapi secara penghasilan tak kalah dengan orang-orang kota yang ditandai dengan kepemilikan barang-barang mewah seperti mobil dan sebagainya.

“Kuncinya adalah koneksi dengan pasar. Walaupun tinggal di desa, kacangnya bisa dia jual sampai ke Afrika,” cerita Kevin, seraya memotivasi peserta pelatihan.

Apakah bisnis serupa bisa dilakukan di Indonesia? Kevin sendiri mendirikan Riseller.com, salah satunya untuk tujuan itu. Dia meyakini potensi besar Indonesia dengan 17 ribu pulau, di mana tiap pulau memiliki produk lokal yang khas dari pelosok-pelosok desa.

Ada sejumlah syarat jika ingin sukses mengembangkan e-commerce, khususnya dengan produk-produk dari desa, di antaranya: kolaborasi, produk yang baik dan konektivitas ke pasar dan yang tak kalah penting adalah tim harus punya misi.

“Dalam mengembangkan produk dari desa, misi utamanya adalah membantu meningkatkan produk lokal, itu saja dulu,” kata Kevin.

Terkait kolaborasi banyak hal yang bisa dilakukan. Peserta TQN Preneur misalnya, bisa berperan menjadi inspirator atau penggerak masyarakat desa untuk menjualkan produk-produk mereka ke platform digital dengan kerja sama yang saling menguntungkan.

Masyarakat desa bisa lebih berfokus pada produksi dan pengembangannya ke arah yang lebih baik. Sementara, untuk platform digital banyak yang membuka pintu kerjasama, dan yang di depan mata tentu saja Riseller.com.

“Dan yang terpenting, dalam menjalankan bisnis harus segera planning, action, lalu review. Ada kekurangan perbaiki. Jangan sampai kehilangan momentum,” tandas Kevin.

 

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...