Menteri Nadiem, Pendidikan Karakter Perlu Diiringi Dengan Tarekat

Jakarta – Seusai diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan pendidikan karakter akan menjadi program prioritasnya.

Mantan bos Gojek ini mengungkapkan untuk mencetak pemimpin bangsa di masa depan ia ingin memperkuat pendidikan karakter.

“Pendidikan karakter itu tidak bisa diajarkan. Pendidikan karakter yang terbaik itu harus dipercontohkan dan dikerjakan,” ujar Nadiem saat memberi sambutan dalam acara Milad 107 Muhammadiyah di Yogyakarta Senin (18/11).

Sekarang yang sedang terjadi dengan besarnya peran teknologi, kalau pemuda tidak punya karakter, integritas, analisa informasi dengan kuat, maka akan tergerus dengan berbagai macam informasi yang tidak benar,” terangnya.

Karakter
Bagaimana seharusnya pendidikan karakter diterjemahkan? karakter apa yang perlu diperkuat untuk mencetak pemimpin bangsa? Bagaimana tarekat dapat berperan dalam memperkuat pendidikan karakter?

Dalam kacamata tarekat, berbicara karakter hal utama yang perlu dipahami adalah konsep tentang diri atau nafs.

“Sesungguhnya Aku-lah Pencipta basyar dari tanah” (QS. 38:71).

“Ketika sudah Ku-sempurnakan lalu Ku-tiupkan ke dalamnya sebagian dari ruh-Ku (QS 38:72).

Manusia memiliki 2 dimensi basyariah (jismaniah) dan ruhaniah. Basyar sendiri terdiri dari 3 komponen, jasad, hayat dan hawa.

Jasad bisa diartikan sebagai tubuh fisik, hayat adalah sumber kehidupan berupa energi yang ada dalam tubuh. Sedangkan hawa adalah hasrat, naluri atau kecenderungan dasar seperti makan-minum, istirahat, berbicara dan seks. Inilah yang kita kenal sebagai tubuh kebinatangan, karena binatang memiliki 3 komponen basyar.

Ruh telah dicipta oleh Allah (swt) jauh sebelum adanya alam semesta, bahkan waktu. Menurut keterangan dalam quran:

“Bukankah telah datang atas insan suatu masa dari waktu, yang -pada masa itu – ia belum menjadi sesuatu yang dapat dikenali?” (QS 76:1).

Ketika ruh dihadirkan masuk ke dalam tubuh saat itulah tugas-tugas suci melekat kepada setiap insan. Tugas utama adalah menjadi khalifah, wakil Tuhan (QS 2:30) dan pengelola bumi (QS 6:165).

Bisa disimpulkan basyar atau tubuh biologis berfungsi sebagai cangkang, wadah bagi ruh untuk menunaikan tugas suci dari langit.

Dalam kbbi disebutkan karakter adalah tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain; watak.

Karakter melekat dengan dimensi ruhaniah. Berbicara tentang karakter tidak bisa lepas dari aspek spiritual.

Ada apa di dalam qalbu?
Hakikat diri adalah diri yang ruhaniah dengan pusatnya qalbu. Qalbu sebagai inti kemanusiaan memiliki banyak potensi.

  • Kesadaran, ingatan – dzikir (QS 50:37, 43:36)
  • Kecerdasan, aqal – fikir (QS 22:46, 7:179)
  • Perasaan (QS 2:260, 40:35, 57:16)
  • Iman (QS 5:41, 39:45)
  • Iradah (QS 10:99)

Fungsi dari qalbu sendiri ada 2, dzikir dan fikir (QS 3:191).

“Mereka mendzikirkan Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring, serta berfikir tentang kejadian langit dan bumi.”

Nadiem menjelaskan pendidikan karakter, ada yang sifatnya kognitif, ada yang sifatnya moral atau akhlak. Artinya Pak Menteri ingin fungsi dzikir dan fikir bisa optimal.

Ia juga menambahkan akan menerjemahkan pendidikan karakter ke dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak bisa hanya dimasukkan ke dalam kurikulum ataupun baca buku saja.

Upaya Kemendikbud patut kita dukung. Karakter memiliki peran yang sangat penting dalam membangun negeri. Negeri yang kuat ditopang dengan karakter masyarakatnya.

Peran Tarekat
Tarekat adalah jalan menuju Tuhan. Praktik olah ruhani yang dibimbing oleh seorang mursyid yang sempurna dan mampu menyempurnakan.

Apa kaitannya dengan karakter?

Hadirnya manusia di muka bumi mengemban misi mulia, sebagai khalifatullah. Hidup bukan untuk sekedar hidup. Hidup bukan untuk memperturutkan hawa nafsu. Hidup adalah kesempatan untuk melayani-Nya. Hidup adalah jalan untuk kembali kepada-Nya.

Jalan untuk melayani-Nya adalah dengan melayani sesama, seluruh makhluk di alam semesta.

Setiap individu berhak dan bisa untuk sukses, maju, kaya, makmur dan sejahtera. Setiap individu juga penting memiliki karakter sebagai pekerja keras, dermawan, penyabar dan disiplin.

Apa motivasi kita menjadi pekerja keras? Apa tujuan kita menjadi makmur dan sejahtera?

Dalam Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya ada sebuah doa yang selalu dibaca sebelum memulai dzikir.

إِلَهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْوَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْأَعْطِنِيْ مَحَبَّـتَكَ وَ مَعْرِفَتَكَ

Tuhanku, Engkaulah yang kumaksud… Dan ridhaMU yang kucari…Limpahkan daku cintaMU dan makrifahMU.

Segala aktivitas dilakukan karena-Nya. Segala aktivitas dikerjakan untuk mencari ridha-Nya. Yang diharap hanyalah cinta dan makrifah.

Dengan amaliah tarekat terjadi pemurnian niat melalui bimbingan guru. Apa artinya kesuksesan jika kita semakin menjauh dari rahmat-Nya. Apa arti kemakmuran jika tidak menambah dekat kepada-Nya.

Tarekat adalah upaya untuk membersihkan qalbu, memperkuat karakter ilahiah. Menggeser dari paradigma Anthropocentic menuju Allahcentric.

Pendidikan karakter bukan hanya untuk memajukan bangsa semata namun juga mendekatkan warganya kepada Tuhannya.

Selamat bertugas Pak Menteri! (Idn/redaksi)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...