Menyambangi Kota Judi

Oleh: Saepuloh

Salah satu sebab mengapa umat Islam di Indonesia amat solid dan memiliki kultur persatuan yang kuat walau dalam keragaman, ialah karena Islam disebarkan oleh para pengelana yang berhijrah dari satu pulau ke pulau lainnya, serta para pedagang yang hilir mudik masuk melalui pelabuhan-pelabuhan yang menyebabkan terjadinya pertukaran budaya.

Dan masyarakat setempat biasa menerima pendatang karena adanya hubungan yang saling menguntungkan. Mereka juga sadar suatu saat masyarakat yang dikunjungi akan mengunjungi daerah lainnya dan itu memerlukan keterbukaan dan penerimaan.

Akbatnya karakteristik masyarakat yang terbangun di Nusantara ialah masyarakat yang terbuka dan menerima. Berbeda dengan negara-negara yang bukan senang membangun hubungan atau jembatan ketika terjadi konflik atau perseteruan, justru mereka malah membangun tembok hingga terbentuklah seperti Tembok China dan Tembok Berlin.

Malam itu 31 Mei 2017 atau hari kelima Ramadhan, saya diantar oleh Mba Tika dan adiknya, Mba Tri serta Ustad Mustofa yang sore tadi kami berduet mengisi kajian di Taman Kowloon. Berita keputusan siapa yang akan menuju Macau memang baru sore tadi saya dapat pada saat di lokasi bersama puluhan BMI yang sedang giat-giatnya menempa pengetahuan di majelis ilmu. Saya langsung menyambut siap begitu datang berita tersebut.

Pukul 22:05 terdengar suara dengungan yang semakin nyaring, suara ‘turbo jet’, kapal yang siap mengantar ke destinasi selanjutnya. Saya duduk di deret sebelah kanan bangku ketiga dari jendela. Tak ada seorang pun yang saya kenal di kapal ini. Walaupun tadi ketika di imigrasi saya sempat salah masuk loket, saya akhirnya sudah duduk di kursi yang nyaman. Dua orang di sebelah kanan saya sepertinya sudah pulas, bahkan sebelum kapal berangkat.

Perjalanan diperkirakan memakan waktu satu jam dari Hong Kong menuju Macau. Terlihat jelas dari sini berbagai aktivitas penumpang mulai mereka yang makan, nonton film, bermain dengan gadget-nya, atau sama seperti saya yang sesekali membolak-balik majalah yang terselip di depan kursi. Di dekat tempat majalah itu, terdapat juga kantong kertas putih, yang sepertinya disiapkan bagi mereka yang mengalami mabuk perjalanan laut.

Di tengah goyangan kapal ke kanan dan ke kiri, terlihat pramusaji yang mondar-mandir hilir- mudik mengantar dan menerima pesanan penumpang. Saya sendiri mau tidur tapi takut melewatkan momen ini, walaupun pemandangan di luar jendela hanya kegelapan yang diselingi bintik bintik cahaya yang pendar.

Saya dalam perjalanan melanjutkan dan mewakili perjalanan Tim Inti Dai Internasional dan Media LDNU. Katanya Macau kota Judi. Hmm penasaran juga…. (Eep)

Saepuloh, pendakwah, salah satu ustad anggota Dai Ramadhan dari Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Hong Kong dan Macau.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...