Meraih Kesempurnaan Ritual

Negeri ini adalah negeri yang penuh kontradiksi. Kita adalah negeri dengan jumlah orang shalat terbanyak di dunia, pada saat yang sama merupakan satu dari sekian yang terkorup di dunia. Kita adalah negeri dengan jumlah masjid dan mushalla terbanyak di dunia, pada saat yang sama satu dari yang paling banyak orang miskinnya. Kita adalah negeri dengan jumlah jemaah haji terbanyak di dunia setiap tahunnya, sekaligus yang terparah kerusakan hutannya. Dan seterusnya dan seterusnya.

Di negeri ini pula, Islam, anutan sebagian besar rakyatnya, menjadi kian menakutkan, tak hanya bagi non-Muslim, bahkan bagi penganutnya sendiri. Mereka dijauhi oleh saudara-sudara seimannya. Semakin taat semakin banyak membenci orang. Akibatnya, tak sedikit orang menjadi sinis pada praktek ketaatan ritual. Mereka tak jarang menjumpai rekan, tetangga atau keluarga mereka yang disiplin shalat berjamaah dan berpaikaian “Islami”, misalnya, tapi gemar menghujat Muslim lainnya, emosi saat ceramah, menjauhi keluarga dan tetangga yang berbeda faham, menghina tradisi keagamaan di lingkungannya, dan seterusnya.

Kesempurnaan Iman

Betapa ironis, seharusnya semakin Islam mengakar di suatu negeri, semakin makmur, teratur dan damai negeri itu. Sebab Islam adalah agama pamungkas, tuntunan sempurna bagi manusia dalam menjalani hidup dan membangun peradaban ideal (baldatun thayyibatun). Rahmat bagi semesta alam. Mendatangkan kedamaian bagi seluruh mahluk. Menawarkan kesejahteraan hidup di dunia dan akherat bagi kaum beriman.

“Pada hari ini, telah Aku sempurnakan jalan anutan/agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku untukmu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai jalan hidupmu..” (al-Maidah:3).

Maka ketaatan ritual yang tidak membuahkan rahmat adalah ketaatan semu. Hal ini telah diwanti-wanti Rasulullah saw, “Akan datang suatu zaman dimana orang-orang berkumpul di mesjid untuk shalat berjamaah, tetapi tak seorang pun dari mereka yang mukmin” (Kanz al’Ummal, 3110).

Sejauh ini, shalat berjamaah dan beberapa praktek ritual lainnya memang sering dijadikan indikator ketaatan seseorang. Rasulullah sendiri menjadikannya media kritik, atau pesan tentang keimanan yang sejati. Takni ketaatan ritual yang memiliki dua dimensi: ritualitas dan spiritualitas.

Dimensi ritualitas adalah kedisiplinan seorang Mukmin menjalankan ibadah-ibadah ritual seperti shalat dan puasa. Sedangkan dimensi spiritualitas adalah kemampuan Muslim menggali spirit/semangat dari pelaksanaan setiap sisi ibadah tersebut, serta kemauannya untuk mengamalkan spirit tersebut dalam setiap ucapan, sikap dan tindakannya.

Kedua dimensi ini tidak bisa dipisahkan. Bersyahadat, mengerjakan shalat, puasa, zakat dan haji baru menghantarkan kita pada level Muslim (orang Islam). Level ini menjadi tangga kita untuk menaiki tingkat selanjutnya, yaitu Mukmin (orang beriman).

Seperti diajarkan Rasulullah, Mukmin adalah orang yang: memuliakan tetangganya; menjaga hubungan kekeluargaan; menjaga lisannya dengan banyak berkata yang baik; menghindari kata-kata yang menyakitkan; mencintai saudara Muslimnya seperti mencintai dirinya; dan seterusnya.

Tidak sempurna iman seseorang jika hanya memperdulikan satu dimensi saja. Jika berhenti pada dimensi ritual, inilah yang dikecam oleh Rasulullah dalam hadits di atas. Sebaliknya, melalaikan ritualitas dan hanya berfokus pada spiritualitas, akan tertolak—meski di depan manusia mungkin masih dianggap sebagai kebaikan. Sebab, lima aktifitas ritual tersebut (rukun Islam) adalah pilar keimanan seseorang—tangga bagi amal seseorang agar sampai ke akherat. Dalam Islam, keduanya harus berimbang.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...