Meraih Taman Surga di Majelis Dzikir

Salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan umat Islam adalah ibadah haji ke baitullah. Ibadah haji harus dilaksanakan ketika telah terpenuhi berbagai persyaratan.

Menurut ulama ahli fiqih, syarat wajib haji adalah beragama Islam, berakal sehat, sehat secara jasmani dan rohani, baligh, mencapai usia dewasa, merdeka dan mampu, baik secara fisik, mental dan juga materi.

Walaupun tidak termasuk rukun haji, berkunjung ke Raudhah menjadi salah satu tujuan jemaah haji. Mengapa? Karena Raudhah merupakan tempat yang memiliki keistimewaan sebagaimana disampaikan Nabi Muhammad Saw.

مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ

Rasulullah Saw bersabda: “di antara rumahku dan mimbarku ada raudhah min riyadhil jannah (sebuah taman di antara taman-taman surga).” (HR. Bukhari). Baca juga…

Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan bahwa, Raudhah itu tempat seperti taman surga, orang yang memasukinya akan mendapat ketenangan dan kedamaian batin, beribadah di tempat ini akan membuat pelakunya masuk surga, kelak Raudhah akan dipindahkan ke surga dan menjadi salah satu taman di akhirat.

Secara bahasa raudhah berasal dari bahasa Arab yang berarti taman. Raudhah merupakan tempat yang paling mulia di masjid Nabawi, Madinah al-Munawwarah. Dahulu tempat ini merupakan area antara rumah nabi Muhammad Saw dan mimbar tempat beliau berkhutbah di Masjid Nabawi yang asli, sebelum mengalami perluasan.

Tempat seluas + 330 m2 ini selalu didatangi jamaah umrah dan haji yang berziarah ke masjid Nabawi. Umat muslim yang melaksanakan shalat di Raudhah seolah-olah mereka sedang duduk di salah satu taman surga. Shalat yang dilakukan di sana memiliki banyak pahala.

Dahulu Rasulullah Saw lebih memakmurkan area Raudhah ini daripada bagian lainnya. Saat berada di masjid, beliau lebih senang mengerjakan salat sunnah di Raudhah, ketika menggelar majelis taklim beliau juga memilih untuk menggelarnya di Raudhah, dan ketika datang beberapa tamu dari luar kota Rasulullah Saw pun menemuinya di Raudhah.

Itu artinya Raudhah memang tempat yang istimewa. Namun, sayang dalam dua tahun terakhir ini, nampaknya keinginan jemaah haji Indonesia untuk berkunjung ke Raudhah harus tertahan akibat mewabahnya virus covid-19.

Hal ini berdampak pada kebijakan pemerintah Arab Saudi yang tidak mengijinkan calon jamaah haji asal Indonesia datang melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, Makkah al-Mukarramah.

Menurut informasi dari Kementerian Agama Republik Indonesia, dari 60 ribu orang kuota jamaah haji tahun ini, sebagian adalah WNI yang menetap di Saudi. Dan tercatat lebih dari 320 orang yang menjadi jamaah haji tahun ini. Artinya banyak WNI yang belum berkesempatan melaksanakan ibadah haji. Baca juga…

Dengan demikian, bisa dipastikan banyak yang tidak dapat mengunjungi Raudhah. Tidak mendapat berbagai keistimewaan darinya, serta tidak akan merasakan kenikmatan melaksanakan ibadah di sana.

Pertanyaannya kemudian, kapan wabah covid-19 ini akan berakhir? Kapan kita bisa mengujungi Raudhah? Wallahu a’lam bishshawab.

Sebagai umat Islam semestinya kita tidak boleh putus asa lantaran tidak bisa mengunjungi Raudhah. Karena sejatinya Raudhah yang berarti taman surga itu ada di sekeliling kita. Bahkan ada di setiap waktu dan sisi kehidupan kita.

Kita perhatikan sabda Rasulullah Saw, berikut ini:

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ ؛ فَارْتَعُوا “. قَالُوا : وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ ؟ قَالَ : ” ” حِلَقُ الذِّكْرِ

Anas bin Malik ra meriwayatkan bahwa beliau Saw bersabda, “Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang”. Para sahabat bertanya: “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab: “Hilaqudz Dzikr (kelompok-kelompok dzikir).” (HR. Tirmidzi).

Berdasarkan hadits tersebut, maka jelaslah Raudhah min Riyadhil Jannah itu ada di sekeliling kita, yakni majelis dzikir. Lalu mengapa majelis dzikir disebut sebagai Raudhah (taman surga)? karena majelis dzikir memiliki banyak keutamaan.

Pertama, majelis dzikir adalah taman surga di dunia ini. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, siapa ingin menempati taman-taman surga di dunia, hendaklah dia menempati majelis-majelis dzikir; karena ia adalah taman-taman surga.

Kedua, majelis dzikir merupakan majelis malaikat. Majelis dzikir menjadi penyebab turunnya ketenangan dan rahmat serta Allah membanggakannya kepada malaikat.

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah sekelompok orang duduk berdzikir kepada Allah Swt, kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat (Allah) meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang ada di sisi-Nya. (HR. Muslim).

Ada banyak pilihan bagi umat Islam untuk bisa meraih Raudhah min Riyadhil Jannah. Salah satunya hadir di majelis dzikir.

Ada dua makna dzikir tersebut. Makna ‘aam (umum) dan makna khash (khusus). Majelis dzikir secara umum artinya majelis ilmu. Kehadiran kita di majelis ilmu (pengajian, kuliah, diskusi) merupakan upaya meraih Raudhatul jannah (taman surga)-Nya Allah Swt.

Sedangkan majelis dzikir secara khusus adalah majelis yang digunakan untuk berdzikir kepada Allah Swt. Beberapa dzikir yang biasa diucapkan adalah tasbih (ucapan subhanallah), takbir, (ucapan Allah akbar), tahmid, (ucapan alhamdulillah), istighfar (ucapan astaghfirullah), tahlil (ucapan laa ilaaha illa Allah).

Namun dari sekian kalimat dzikir tersebut yang paling utama adalah kalimat laa ilaha illa Allah. Maka hadirnya kita di majelis-majelis dzikir merupakan bagian dari upaya meraih raudhah min riyadhil jannah. Semoga kita bisa memanfaatkan majelis dzikir yang ada di sekeliling kita guna meraih ridha-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Oleh: Nana Suryana, S.Ag., M.Pd. (Dosen IAILM Suryalaya Tasikmalaya)

#majelisdzikir #raudhah #nanasuryana

Rekomendasi
Komentar
Loading...