Modal Dasar Hidup Manusia (3)

Setelah permohonan Iblis untuk hidup sampai kiamat dikabulkan oleh Tuhan, Iblis pun mengumbar tekad, “Fa bi’izzatika…” artinya, dengan kuasa-Mu juga, maka sudah pasti (di sini gunakan lam taukid dan nun taukid) “la ughwiyannahum” aku akan selalu menyimpangkan mereka, sungguh pasti aku akan menyesatkan mereka. Tetapi tetap ada pengecualian, yaitu hamba-hamba-Mu yang mukhlash.

Ada segelintir manusia yang tidak bisa digoda oleh iblis. Itulah manusia mukhlash. Mukhlash berasal dari kata khallasha: pure, murni. Akhlasha: memurnikan. Dari kata ini muncullah istilah ikhlash: pemurnian.

Kita sering mendengar bahwa kalimat Laa ilaaha illallaah disebut kalimat ikhlas. Mengapa? karena kalimat ini adalah kalimat pemurnian. Yang di-ilahkan hanya Allah, tidak yang lain. Dan orang yang sedang akhlasha, orang yang sedang memurnikan, pelakunya disebut mukhlish. Artinya, orang yang sedang memurnikan. Dan pada level tertentu, ia menjadi mukhlash, yaitu termurnikan. Di level ini setan angkat tangan. Tidak bisa lagi si manusia diganggu.

Kalau kita, insya Allah, masih di level mukhlish, karena kita masih asyik dengan akhlasha, memurnikan, yaitu dengan Laa ilaaha illallaah. Latihkan terus kalimat ini, pada level tertentu dia akan menjadi mukhlash, termurnikan. Sama dengan batu permata, digosok digosok digosok, kapan dia menjadi stare, berkilat, kita tidak tahu pada gosokan keberapa, pada menit keberapa. Yang penting, bersihkan, bersihkan dan bersihkan. Pada titik tertentu, maka dia akan menjadi mukhlash.

Jelas sudah bahwa Iblis mempunyai dua permintaan. Pertama, dia minta hidup sampai kiamat; dan yang kedua, dia bertekad untuk selalu aktif menyesatkan. Maka Iblis tidak lagi menjadi pembangkang yang pasif (pembangkang yang kecewa), tetapi dia telah berubah menjadi pembangkang yang aktif. Begitu dia aktif menyesatkan, saat itulah dia disebut syaithan.

Syathana artinya sesat, al-bu’du‘an al-haqq (jauh dari kebenaran), dan syaithan artinya penyesat. Maka dengan pernyataannya, dia bukan sekadar jin, dia bukan sekedar iblis (pembangkang pasif), dia adalah syaithan (penyesat aktif). Ayatnya QS Al-An’am/6: 112, dan An-Nas/114: 6.

Jin karena kecewa lalu membangkang pasif, diam saja, itu disebut iblis. Diusir dan dilaknat, lalu dia aktif menyesatkan, maka disebut syaithan. Begitu dia sudah menyesatkan, maka akan ada manusia-manusia yang tersesat, dan manusia itu bergabung lalu ikut menyesatkan orang lain, maka itu manusia itu disebut setan juga. Itu sebabnya setan itu ada dari golongan Jin dan manusia. Tertuang di dalam surat Al-An’am/6 ayat 112, “Kami jadikan bagi setiap Nabi ada musuhnya.” Siapa musuh para nabi, yaitu syayathin (setan-setan), dari golongan manusia dan jin. Juga di dalam surat al-Nas/114 ayat terakhir, “dari golongan jin dan manusia”. Bersambung…

(Whf)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...