Muballigh Bisa Juga Loh Jadi MarComm. Ini Kisahnya Kiai Wahfiudin…

Banten – Tak disangka, kehadiran Kiai Wahfiudin Sakam di RS Mata Ahmad Wardi Rabu (25/9) untuk membantu pembuatan video promo justru bertepatan dengan baksos operasi katarak untuk 100 orang.

Menurut Anggota Dewan Syariah Dompet Dhuafa (DD) kelahiran tahun 1961 ini, kehadirannya kali kedua di rumah sakit mata berbasis wakaf pertama di dunia sangat menarik.

“Saat melangkah masuk ke ruang operasi saya berpapasan dengan orang-orang Kuwait dari Jam’iyah Khayriyah,” ungkapnya melalui pesan singkat.

Suasana shooting video promo bersama Dompet Dhuafa.

“Saya gunakan kesempatan ini untuk berdialog dengan mereka. Memperkenalkan diri, menyampaikan program DD di Banten, khususnya Rumah Sakit Mata Ahmad Wardi. Sekaligus berterima kasih atas kerjasama mereka,” sambungnya.

Usai dialog, Kiai Wahfiduin diajak mereka untuk hadir di acara peresmian Pesantren Ardaniyah.

“Beruntung pula di acara tersebut saya ‘dianggap’ rombongan Kuwait, sehingga didudukkan di panggung kehormatan bersebelahan dengan tim Kuwait.”

Wakil Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat ini sempat agak kalang kabut ketika Syekh Yusuf Ibrahim bertanya tentang data geografis Banten.

Muballigh yang akrab dengan multimedia ini sigap meraih smartphone dari saku kemeja batik lengan pendeknya untuk berselancar.

Sejurus kemudian Kiai Wahfiudin menampilkan peta Provinsi Banten, menceritakan geografis dan demografis provinsi dengan jumlah penduduk hampir 13 juta jiwa. Menurut dinas kesehatan penderita katarak di Banten sekitar 2% alias 250.00 orang.

Berbincang sambil naik andong dengan Syekh Yusuf Ibrahim.

“Wilayah tropis membuat mereka hidup sepanjang tahun terpapar cahaya matahari. Banyak yang tinggal di tepi pantai. Orang-orang miskin harus hidup mencari nafkah di alam bebas, ladang, pantai. Maka wajar prevalensi penderita katarak sangat tinggi,” jelasnya.

Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya ini juga memaparkan kesenjangan ekonomi yang terjadi di Banten. Banyak dhuafa yang tertinggal dari proses pembangunan.

Saat Syekh Yusuf Ibrahim bertanya ranking RS Mata Ahmad Wardi, Kiai Wahfiudin lugas menjawab, “This is the only eye hospital in Banten. We have no benchmark to compare,” pungkasnya.

Biaya operasi katarak di RS Mata Ahmad Wardi sebesar 7,5 juta. Di Jakarta hampir 3 kali lipatnya, sekitar 20 jutaan. Bahkan untuk para dhuafa dapat dicarikan sponsor hanya dengan biaya 4,5 juta.

Syekh Yusuf kembali bertanya, “Apa lagi yang mau dikembangkan rumah sakit?”

“Kami akan mengembangkan retina and glaucoma center,” terang Kiai Wahfiudin.

Untuk membangun sebuah pusat retina dibutuhkan dana tidak sedikit, sekitar 13 miliar.

Rombongan Kuwait sangat mengapresiasi kebersihan rumah sakit, peralatan yang dimiliki serta tata laksana operasi mata.

Salah seorang anggota rombongan bertanya, “Mesin-mesin yang digunakan dan teknologi yang dipakai dari mana?”

“Kita gunakan mesin merek DORC (Dutch Optalmology Research Center). It is the best technology of eye operation in Europe,” tegas Kiai Wahfi.

Mesin dapat digunakan untuk 2 operasi sekaligus, katarak dan retina. Terlebih lagi RS Mata Ahmad Wardi sudah memiliki kompressor sendiri.

Kia Wahfiudin juga menyampaikan para dokter yang bertugas sudah sesuai International Standard Operating Procedures. The doctors are certified in their expertise.

Usai perjumpaan dan acara dengan rombongan Kuwait Kiai Wahfiudin mengungkapkan dari mana ia dapat mengetahui hal-hal teknis seperti itu.

KH. Wahfiudin Sakam menerima penghormatan kalungan bunga.

“Saya lulusan STM Penerbangan, punya naluri keteknikan. Dan sehari sebelumnya sempat jumpa dengan orang-orang marketing dari PT Optik Tunggal yang meminjamkan mesin tersebut ke rumah sakit untuk kegiatan baksos katarak.”

“Jadi sudah menggali terlebih dahulu data-data teknis tentang mesin, teknologi, termasuk info dari para dokter. Semua digabungkan menjadi satu. Naluri keteknikan, marketing, jurnalistik dan keustadzan,” jelasnya.

Muballigh sangat penting membekali diri dengan berbagai keahlian. Segala yang terjadi disekitar kita adalah bahan dakwah. Muballigh harus mempunyai kemampuan menangkap dan mengolah informasi yang diterima menjadi pembelajaran.

“Alhamdulillah semua berjalan lancar dengan skenarioNya. Kali ini saya berperan untuk meyakinkan para donatur dari Kuwait. Sekali-kali jadi staf MarComm dadakan untuk DD,” tutupnya. (Idn)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...