Musibah: Cermin Bagi Diri Sendiri

Setiap musibah datang dari Allah dalam dua kemungkinan, sebagai azab atau ujian. Jika itu ujian, maka kita wajib bersabar dan ikhlas dalam menjalaninya. Bagi yang tidak terkena, maka wajib bersabar dan ikhlas dalam membantu meringankan beban korban bencara, serta ikut membesarkan hati mereka. Musibah ini ialah ujian. Ujian ini ialah cara Allah menaikkan derajat kita di hadapan-Nya, jika kita mampu melewatinya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Bukankah setiap yang menginginkan kenaikan tingkat harus melalui proses ujian?

Musibah bisa juga berarti azab. Hukuman atas sikap dan tindakan kita selama ini yang sering menyalahi aturan Allah. Ironisnya, azab ini tak jarang justru disikapi dengan kemungkaran. Kita merasa kecewa dan dendam kepada Allah atas musibah-musibah itu. Semakin dalam kita terperosok. Na’udzu billâh min dzalik.

Hidup itu adalah untuk belajar dan menjadi ahli ilmu. Bukan ilmu untuk mengejar dunia, tapi mengenal Allah. Jika pun tak ada kesempatan ba-nyak belajar dan ilmu yang dimiliki hanya sekedarnya, yang pertama dan utama ialah menjadi orang yang banyak dzikir dan bergulat dengan apapun yang terkait dzikrullâh.

Seorang ahli dzikir, qalbunya benar-benar menjadi raja yang kuat dalam dirinya. Qalbunya menggerakkan badan untuk bekerja dan mengarahkan pikiran untuk berpikir apapun, bukan untuk dunia tapi untuk Allah SWT. Ia akan selalu sadar bahwa segala sesuatu, gerak badan dan pikirannya, digerakkan oleh Allah. Allah-lah yang menjadi sebab dirinya bersedekah, sebab datangnya ide-ide dan rencana, sebagai sebab air matanya mengalir dan seterusnya. Yang demikian, lantaran dzikirnya telah tembus menghujam ke dalam sang qalbu. Kecuali kemaksiatan, yang timbul hanya dari kelalaian dan kelemahannya.

Pelan tapi pasti, tumbuhlah cinta kepada Allah yang kian hari kian besar. Semakin hari, semakin takut menge-cewakan Allah dengan keingkaran dan kemaksiatan. Semakin ia tak sanggup berlama-lama terpisah/lupa dari kekasihnya, Allah SWT.

Qalbu adalah raja. Masalahnya, raja dalam diri banyak manusia ini menjauh dari Allah. Inilah awal dari berbagai kerusakan oleh umat manusia, terhadap sesamanya maupun terhadap alam. Qalbu yang jauh dari Allah senantiasa memerintahkan jasad untuk ingkar kepada-Nya.

Inilah yang banyak terjadi di negeri ini. Qalbu terikat dengan dunia. dengan kekuatan duniawi yang dimiliki, pohon-pohon ditebang. Bangunan-bangunan tinggi dan villa dibangun. Sementara keseimbangan dan kelestarian alam diabaikan. Semuanya hanya demi memenuhkan pundi-pundi hartanya.

Maka, Allah pun mengirim musibah banjir. Dengan banjir, Dia memangil kita untuk mendekat. Setiap kejadian hendaklah menjadikan setiap hamba Allah justru semakin dekat kepada-Nya.

Bersabarkah kita menjalaninya atau justru berputus asa? Jika telah terisi penuh dengan dzikir, qalbu akan bersabar dan berpasrah diri kepada setiap kehendak-Nya. Al-Quran telah menjamin orang-orang bersabar: (QS Ali Imran, 3:146), (QS al-Baqarah, 2:153), (QS al-Anfal, 8:46 dan 66).

Dengan dzikir yang berkumandang tiada henti dalam qalbu, akan timbul sikap santun, budiman, tertib dan damai kepada sesama manusia dan alam semesta. Sekaranglah waktunya. Allah telah mengingatkan kita. Banjir mengepung kita. Karena Andaikan tidak demikian, pasti sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna.

Bagaimana dengan Anda?

(hmz)

Rekomendasi
Komentar
Loading...