Pangersa Abah Mengislamkan Orang Saat Dalam Kondisi Koma

Kisah ini adalah pengalaman saya yang tak terlupakan, membuat saya bertambah yakin dengan mursyid sebagai guru pembimbing ruh. Setiap menceritakan kisah yang terjadi 3 tahun lalu, mata saya selalu berkaca-kaca.

Saya mempunyai kakak ipar, laki-laki, non muslim, usia 69 tahun. Sudah dua pekan sakit-sakitan. Masuk ke salah satu rumah sakit di Bogor sudah dalam keadaan koma. Ia masih mempunyai anak usia 2 tahun, susah untuk keluar masuk ruangan UGD.

Saya bersepakat dengan kakak saya untuk berbagi tugas. Saya menjaga di dalam ruangan mendampingi kakak ipar, sedangkan kakak saya mengurus semua administrasi dan kelengkapan surat-surat yang dibutuhkan rumah sakit.

Pada situasi seperti itu, saya bingung apa yang harus diperbuat untuk meringankan sakit kakak ipar. Inspirasi datang untuk melakukan tawassul dan khataman di ruang UGD.

Pada saat berlangsung khataman saya terkejut, kakak ipar sadar dari komanya dan memanggil saya.

Saya: “Ada apa ko?”

Kakak Ipar: “doa kan saya ya….”

Dengan ragu saya jawab, ”Saya doakan dengan cara saya ya ko…”

Kakak Ipar: “Iyaaaa…”

Saya lanjutkan dzikir khatam sampai selesai. Pada saat selesai khataman terlihat banyak sosok berwarna hitam pekat di ruangan UGD, dan barang-barang yang ada di sekitar kami bergetar dengan keras. Saya yakin itu bukan manusia, mereka berebut masuk ke tubuh kakak ipar yang sedang terbaring.

Saya rabithah kepada Pangersa Abah Anom, memohon agar berkenan menjaga kakak ipar dari sekumpulan sosok hitam tersebut. Saat itu kondisi kakak ipar kembali tidak sadar atau koma. Tidak lama kemudian datang sosok bayangan putih mengusir sosok bayangan hitam. Setelah itu kondisi kakak ipar menjadi lebih baik, wajah dan raut muka menjadi tenang.

Pada saat sadar yang kedua, kakak ipar merasa haus dan kembali minta bantuan doa.

Ketika kondisi koma yang ketiga, kakak ipar berada di ICCU yang tidak bisa selalu ditunggu oleh keluarga.

Dua hari setelahnya ketua perawat dari ruangan ICCU menghampiri saya, menanyakan kepercayaan kakak ipar. Saya bertanya-tanya dalam diri kenapa suster menanyakan keyakinan atau agama kakak ipar.

Suster: “Permisi bu…maaf saya mau tanya tentang keyakinan atau agama pasien apa ya…?”

Saya: “Setahu saya non muslim. Memangnya ada masalah apa dengan kakak ipar saya, suster…!?”

Suster: “Karena di data pasien tertulis agama non muslim. Saya heran dan kaget, dalam keadaan tidak sadarkan diri, pasien selalu berdzikir dengan lantang dan jelas dibanding pasien muslim. Saya bingung dan penasaran, sehingga saya beranikan diri bertanya kepada pihak keluarga”.

Informasi dari suster membuat saya terkejut, terharu dan bahagia sekaligus penuh tanda tanya. Mengapa orang yang selama ini saya kenal, tidak pernah mempelajari dan mengenal agama Islam, kok bisa melafalkan kalimat dzikir yang sama dengan ikhwan TQN selama ini.

Belum hilang rasa terkejut, tiba-tiba kakak ipar sadar dan memanggil-manggil saya untuk mendekat dengannya.

Saya: “Ada apa ko!?”

Kakak Ipar: “Saya sudah masuk Islam.”

Saya: “Saya sudah masuk Islam?” (dengan terkejut) “kok…bisa?!”

Kakak Ipar: “Ini rahasia antara saya dengan seorang bapak tua yang berpakaian putih. Saya tidak bisa menceritakan kepada siapa pun. Itu pesan dari bapak tua tersebut.”

Saya makin bertambah penasaran namun tidak bisa menanyakan lebih dalam lagi.

Kakak Ipar: “Saya mau dimandikan oleh bapak yang di belakang kamu”.

Saya: “Masa iya…minta dimandikan dengan saya, bukan mahram ko….! (dengan nada bercanda dan tersenyum).

Kakak ipar: “Bapak tua yang di belakang Sarah itu yang janji akan memandikan saya”

Keesokan harinya kakak ipar dinyatakan boleh pulang. Kami pun berkemas untuk persiapan pulang. Setelah sampai di rumah, kakak ipar selalu bertanya tentang bapak tua yang telah mengislamkannya.

Kakak Ipar: “Mana bapak tua yang akan memandikan saya, dia sudah janji.”

Setelah berkali kali menanyakan tentang bapak tua itu, saya berinisiatif menunjukkan foto Pangersa Abah Anom yang ada di layar HP saya.

Kakak Ipar: “Betul itu bapak tua yang sudah janji akan memandikan saya.”

Saya:  “Sabar ko ya….nanti bapak tua pasti akan memandikan ko ya.”

Itulah dialog terakhir saya dengan kakak ipar. Setelah itu saya kembali pulang ke rumah.

Sore hari berikutnya, kakak ipar dipanggil oleh Yang Maha Kuasa sekitar pukul 17.00 WIB. Mendengar kabar tersebut, saya dan suami langsung ke rumah duka di daerah Bogor, membantu penuh pemakaman hingga selesai.

Pemakaman dilaksanakan sesuai adat Cina dan tidak ada satu pun orang yang percaya dengan cerita ini termasuk istri dan keluarga besarnya. Akhirnya kami (saya dan suami) menyolati jenazahnya secara gaib. Karena saya yakin kakak ipar saya meninggal dunia dalam keadaan muslim.

Terima kasih Abah. Semoga kita semua diakui sebagai murid pangersa Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin (qs). Al-fatihah.

(Sarah Merrys Kumontoy, Ibu BELLA Jakarta, Bidang Organisasi)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...