Panglima TNI Berkisah Tentang Jenderal Sudirman

Jakarta – Dalam sambutan di acara Kirab Nasional yang dihelat siang ini (22/10) di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berkisah tentang Panglima TNI Jenderal Sudirman.

Gatot menjelaskan jika TNI mempunyai hubungan yang erat dengan ulama dan Jenderal Sudirman adalah seorang santri, guru agama. Dia bercerita bahwa pada saat Jenderal Sudirman sedang melakukan gerilya, ternyata ada seorang anggotanya yang berkhianat. Pengkhianat ini memberikan informasi kepada Belanda lokasi dimana Jenderal Sudirman berada.

Beberapa saat kemudian, rumah dimana Jenderal Besar Sudirman berada telah dikepung oleh Belanda. Saat diinformasikan oleh salah seorang anggotanya, Panglima Besar TNI tersebut menyampaikan “tenang saja.”

“Dalam kondisi terkepung, Jenderal Sudirman perintahkan seluruh anggotanya untuk berdzikir Laa ilaaha illallaah terus menerus hingga Belanda masuk,” sambung Gatot. Akhirnya saat Belanda masuk ke dalam rumah, sang pengkhianat berkata kepada tentara Belanda, “Ini dia yang namanya Jenderal Sudirman, orang yang sedang kalian cari.”

Mendapat informasi itu, tentara Belanda memperhatikan Jenderal Sudirman dengan teliti. Si pengkhianat mengulangi kembali kalimatnya, “Ini dia yang namanya Jenderal Sudirman, orang yang sedang kalian cari.” Si tentara Belanda kembali memperhatikan Jenderal Sudirman, untuk memastikan apakah benar dia orang yang sedang dicari.

Tentara Belanda akhirnya menodongkan pistol ke si pengkhianat karena dianggap telah berbohong karena orang yang dia tunjuk bukanlah Jenderal Sudirman yang sedang dicari. “Anda bohong, dia bukan Jenderal Sudirman yang saya cari,” lanjut Gatot. Dan seketika itu si pengkhianat langsung ditembak mati oleh tentara Belanda.

Setelah kejadian itu, anggota bertanya kepada Jenderal Sudirman, “Apa jimat Pakde?” Gatot menjelaskan jika Jenderal Sudirman sering di panggil oleh anggotanya Pakde dan Pak Kyai.

Gatot lalu menyampaikan, “Ada tiga (3) hal yang selalu dijaga oleh Jenderal Sudirman. Pertama, selalu menjaga diri dalam keadaan suci (berwudhu), kedua, selalu shalat tepat waktu dan yang terakhir adalah menjaga niat tulus ikhlas berjuang untuk rakyat Indonesia.” Di akhir cerita Gatot berpesan, “Janganlah menjadi pengkhianat bangsa karena dunia-akhirat sengsara. Lebih baik berkarya membangun bangsa.” (Idn)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...