Pendaki yang Tersesat, Lupa Jalan Pulang

“Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang…” sayup-sayup terdengar dari kamar sebelah. Itulah penggalan lirik lagu Butiran Debu dari grup band Rumor.

Hah! Tersesat?

Seketika teringat dengan salah satu penggalan ayat dari Al-Quran:

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (سورة الفاتحة : ٧

“…Bukan golongan mereka yang dimurkai dan bukan pula mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah : 7).

Penyebab seorang pendaki tersesat seringkali karena lupa jalan, tidak tahu mau kemana, atau hanya sekedar ikut-ikutan temannya saja.

Begitupun kita, penyebab tersesat di dunia ini seringkali disebabkan lupa akan jalan pulang dan terseret derasnya arus syahwat. Padahal Allah SWT telah memberikan peta dan kompas kepada kita, kemana tujuan ekspedisi kita. Rabbuna Jalla wa ‘Ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات : ٥٦)

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melaikan mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56).

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (البقرة : ١٥٦)

“..Sesungguhnya kami milik Allah, dan kami akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 156).

Ekspedisi kita telah jelas rutenya, tinggal kita ikuti petanya. Jelas pula perbekalannya. Allah SWT anugerahkan kita akal, qalbu dan tubuh guna menyelesaikan misi itu. Bahkan tiap waktu Allah Jalla wa ‘Ala senantiasa cukupkan isi perbekalan kita.

Kita kembali ke Adh-Dhalin. Siapakah dia? Selalu kita akan kembalikan ke pertanyaan itu. Siapakah “pendaki “ yang tersesat itu?

Dalam Tafsir Al-Wadih, Syaikh Mahmud Hijazi mengatakan:

الضالين: الذين ضلّوا الطريق، وقيل: هم النصارى.

Artinya: “Adh-Dhalin: adalah orang-orang yang lupa jalan, dan dikatakan: mereka adalah Nasrani.” [1]

Namun ada yang unik jika kita membuka tafsir karya seorang wali besar, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani qs. Ia berpendapat:

ولا الضالين: بتغريرات الدنيا الدنية وتسويلات الشياطين عن منهج الحق ومحجة اليقين.

Artinya: “Bukanlah orang-orang yang sesat: disesatkan oleh fatamorgana dunia yang hina dan tipu daya syaithan (agar tersesat) dari jalan kebenaran dan tujuan yang hakiki.” [2]

Jika kita melirik tafsir berdimensi mulkiyyah dengan dimensi pengetahuan dan ilmu maka natijah (nilai) Adh-Dhalin adalah Nasrani. Namun jika kita lebih dalam mengupas maknanya berdasarkan tafsir berdimensi hakikat maka orang-orang yang tersesat adalah kita. Astaghfirullah..

Artikel Terkait: Ibj Turun ke Bantar Gebang Distribusikan Paket Sembako

Bukan kah justru yang lupa akan jalan pulang adalah kita? Kita yang sering kali terperdaya oleh dunia, silau oleh harta, gila jabatan, akhirnya buta oleh fatamorgana sampai lupa jalan pulang. Lebih parahnya salah alamat karena dapat alamat palsu.

Kita lah yang sebetulnya tersesat ; Aku, Kamu, Kita. Semoga Allah ampuni khilaf kita.

Mari kita “Innalillah”-kan diri!

Catatan Kaki:
1. Syaikh Muhammad Mahmud Hijazi, Tafsir Al-Wadih, (Kairo: Darul Quds Arobi, 2018), hlm 10.
2. 2. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, Tafsir Al-Jailani, (Suriah: Maktabah Istanbul, 2013), hlm 38.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...