Pengajian di KJRI Hongkong: Keistimewaan Baginda Nabi Muhammad SAW

Hongkong – Senin (18/9) menjelang siang, sekitar pukul 10.30 salah satu Dai Ambassador TIDIM (Tim Inti Dai Internasional & Media) LDNU, Muhammad Halabi berangkat ke KJRI yang tidak jauh dari Kantor PCINU. Kehadiran ia di sana untuk memenuhi undangan Ketua Pengajian Mushalla al-Falah KJRI Hongkong, Ibu Dhina Andry.

Ibu Dhina adalah salah seorang aktifis dakwah yang sudah cukup lama berdakwah di kota yang terletak di bagian tenggara Tiongkok itu. Menurutnya, kunci sukses dakwah kepada BMI (Buruh Migran Indonesia) di Hongkong adalah dengan pendekatan kultural. Terlebih lagi jika ditopang dengan kemampuan komunikasi yang baik.

Dalam kesempatan tausiyah hari itu, Ust. Halabi mengingatkan bahwa Allah telah menjadikan diri kita sebagai manusia dengan wujud yang sempurna. “Sungguh kenikmatan yang sangat agung dan tak ternilai harganya. Tanpa pernah kita minta, Allah memfasilitasi kehidupan kita,” ujar ustadz yang berdomisili di Banjarmasin.

Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran ayat 91; “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.”

“Jadi, sudah selayaknya kita selalu mengedepankan rasa syukur atas segala yang terjadi pada diri kita,” ujarnya.

Ia pun melanjutkan dengan menukil sebuah keterangan yang ada dalam kitab Bidayatul-Hidayah. Diceritakan bahwa pada hari kiamat nanti akan didatangkan neraka jahanam dengan mengeluarkan suaranya. Suara nyala api yang sangat dahsyat gemuruhnya, hingga semua umat menjadi berlutut karena tak sanggup menahan ketakutannya.

Allah S.W.T berfirman, “Kamu lihat (pada hari itu) setiap umat berlutut (yakni merangkak pada lututnya). Tiap-tiap umat diseru kepada buku amalannya. (Dikatakan kepadanya) Pada hari ini kamu dibalasi menurut apa-apa yang telah kau kerjakan.” (Surah al-Jatsiyah ayat 28).

Ketika mereka menghampiri neraka, mereka mendengar gemuruh api neraka yang suaranya sudah dapat mulai didengar sejarak 500 tahun perjalanan. Pada waktu itu, akan berkata setiap orang, bahkan para nabi sekalipun akan berucap, “Diriku, diriku (selamatkanlah diriku Ya Allah), kecuali hanya seorang nabi saja yang akan berkata, “Umatku, umatku.”

Beliau ialah junjungan besar kita Nabi Muhammad S.A.W. Pada masa itu akan keluarlah api neraka jahim seperti gunung-gunung, umat Nabi Muhammad berusaha menghalanginya dengan berkata, “Wahai api! Demi hak orang-orang yang shalat, demi hak orang-orang yang ahli sedekah, demi hak orang-orang yang khusyuk, demi hak orang-orang yang berpuasa, supaya engkau kembali.” Walaupun dikata demikian, api neraka itu tetap tidak segera kembali, lalu malaikat Jibril berkata, “Sesungguhnya api neraka itu menuju kepada umat Muhammad S.A.W”

Kemudian Jibril membawa semangkuk air dan Rasulullah meraihnya. Berkata Jibril A.S. “Wahai Rasulullah, ambillah air ini dan siramkanlah kepadanya.” Lalu Baginda mengambil dan menyiramkannya pada api itu, maka padamlah api itu. Setelah itu Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada Jibril A.S. “Wahai Jibril, Apakah air itu?”

Maka Jibril berkata, “Itulah air mata orang durhaka di kalangan umatmu yang menangis karena takut kepada Allah S.W.T. Sekarang aku diperintahkan untuk memberikannya kepadamu agar engkau menyiramkan pada api itu.” Maka padamlah api itu dengan izin Allah SWT.

“Begitu agungnya anugerah islam, iman dan ihsan. Tidak hanya menyelamat nasib kita di hari kiamat, tapi juga dapat menyelamatkan orang lain dari siksa neraka. Maka wajib bagi untuk mensyukurinya, dengan mengaplikasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dimanapun, baagaimana pun dan kapan pun,” jelas Ust. Halabi seraya menutup dengan doa dan shalat zhuhur berjamaah. (Idn)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...