Pengaruh Teknologi Artificial Intelligence dalam Kehidupan Beragama

Si A ingin mengetahui hukum menggunakan credit card dalam Islam. Dia menyalakan HP nya yang terhubung dengan internet dan berbicara dengan bahasa Indonesia, “Apa pandangan Islam tentang penggunaan credit card?”

Sebuah program yang disebut chatbot mencoba memahami dan menginterpretasi pertanyaan ini untuk memberikan jawaban dalam bahasa Indonesia melalui bahasa ucapan.

Selanjutnya terjadi dialog dan tanya jawab antara si A dengan chatbot mengenai topik tentang hukum menggunakan credit card dalam pandangan Islam.

Bila pertanyaan dari si A dianggap terlalu sulit oleh chatbot, baru kemudian chatbot ini menyerahkan jawaban lebih rincinya kepada seorang kiyai atau ulama. Demikian skenario yang diungkapkan oleh Prof. Bambang R. Trilaksono yang merupakan pakar AI Institut Teknologi Bandung (ITB).

Prof. Bambang R. Trilaksono menjelaskan empat alasan mengapa AI akan terus semakin berkembang?

“Data makin berlimpah, algoritma yang makin baik, CPU dan GPU makin powerful, serta aplikasi yang makin beragam,” tuturnya dalam ngaji lingkungan online dalam program ecoMasjid pada Kamis malam (04/02).

Banner acara dari EcoMasjid.

EcoMasjid sendiri merupakan program pelestarian lingkungan hidup berbasis masjid yang digagas oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) khusunya Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (Lembaga PLH dan SDA) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI).

Muhammad Ghifary, PhD, pakar AI Bank Rakyat Indonesia mengatakan, secara praktis mengawinkan big data dengan AI. Tetapi penelitian yang saat ini berkembang ialah bagaimana data yang lebih sedikit tapi lebih efisien.

Dengan kata lain, dengan data yang sedikit tapi cukup untuk menggambarkan manusia yang bisa mengambil keputusan dengan menggabungkan intuisi dengan data driven decision making. Sehingga keputusan bisa diambil lebih hemat terhadap data.

“Saat ini kita sedang berada di era konseptual yang basisnya kreativitas, spiritualitas dan keindahan. Era ini adalah eranya meng create value dan memberikan manfaat,” tutur Dr. Indra Utoyo, Managing Director Digital & Information technology BRI.

Pandemi Covid-19 membuat terjadinya percepatan transformasi teknologi sekaligus beralihnya sebagian kehidupan sosial, ekonomi, politik dan pendidikan ke dalam dunia maya.

Dengan perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Data-data yang melimpah tersebut menjadi hal strategis yang berpengaruh langsung di segala aspek kehidupan masyarakat. (Foto: FreePik)

Pada dasarnya teknologi itu netral, manfaat dan mudharatnya tergantung dari penggunanya. Oleh karenanya para ulama, dai dan masyarakat perlu menyesuaikan diri dengan memanfaatkan teknologi AI.

AI bukan untuk mengancam manusia tapi digunakan untuk kemaslahatan serta memecahkan masalah sosial keagamaan kontemporer atau demi melayani umat secara lebih efisien dan efektif.

Acara yang bertemakan “Pengaruh Teknologi Artificial Intelligence dalam Kehidupan Beragama” dimoderatori oleh Hufadil As’ari, MM., M.Comm., pakar digital dan IT Strategi.

Serta dihadiri oleh Dr. Ir. H. Hayu Susilo Prabowo, Direktur Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam MUI, KH. Wahfiudin Sakam dari Komisi KPK MUI, pengurus MUI, komunitas TQN Pontren Suryalaya dan pengurus Dewan Masjid Indonesia.

Rekomendasi
Komentar
Loading...