“Penglihatan” Syekh Tolhah: Godebag Tempat Terbaik Kembangan TQN

Ketika pertama kali Syekh Mubarok pergi ke Cirebon untuk berguru kepada Syekh Tolhah, ia sudah menjadi pengajar di Pesantren Tundagan, bahkan menjadi pimpinannya. Pesantren ini didirikan oleh Syekh Mubarok dibantu dengan para kerabatnya. Syekh Mubarok saat itu dikenal dengan panggilan Ajengan atau Kiai Tundagan.

Di Tundagan Syekh Mubarok cukup lama menjalankan pesantren sambil belajar ke Syekh Tolhah di Cirebon setiap 3 bulan. Ia juga menerangkan kepada warga sekitar tentang ajaran TQN. Beberapa ulama di sekitar Tundagan menilai ajaran yang disampaikan Syekh Mubarok menyimpang dan berbahaya.

Pemerintah kolonial Belanda akhirnya mengetahui jika tarekat yang dipelajari dan diamalkan Syekh Mubarok adalah tarekat yang mensponsori pemberontakan di Cilegon, Banten pada tahun 1888. Belanda menganggap Syekh Mubarok menjadi ancaman dan TQN harus dicegah penyebarannya.

Akibat situasi di Tundagan yang semakin rawan dan kurang menguntungkan untuk menyebarkan TQN, Syekh Mubarok mulai mencari tempat yang dipandang lebih aman.

Berdasarkan berbagai pertimbangan, Syekh Mubarok memindahkan pesantren beserta keluarganya ke Kampung Cisero, 26 km jaraknya ke arah barat Tundagan. Lokasi baru ini masuk ke dalam wilayah Desa Pagerageung, Kecamatan Tarikolot (sekarang menjadi Kec. Pagerageung).

Artikel Terkait: Syekh Abdul Qadir Al Jaelani QS

Kampung Cisero adalah kampung orang tua Syekh Mubarok yaitu Raden Nur Muhammad yang bertugas sebagai Upas Kecamatan Tarikolot. Upas adalah Polisi Pamong Praja zaman kolonial, bertugas sebagai aparat keamanan kecamatan).

Di Cisero tidak cukup lama karena gangguan dari mereka yang belum memahami tarekat ternyata cukup besar. Selain itu, lokasinya pun kurang sesuai untuk tempat pendidikan dan mudah terlihat oleh aparat pemerintah Belanda.

Dari Cisero pesantren dipindahkan ke Kampung Godebag, 2,5 km arah ke timur Cisero, sekitar tahun 1904. Di Kampung Godebag, Desa Tanjungkerta, Syekh Mubarok segera membangun masjid dan rumah-rumah untuk tempat tinggal keluarga dan santri yang mondok.

Setiap perpindahan pondok dari Tundagan ke Cisero dan akhirnya ke Godebag, Syekh Mubarok selalu melaporkan, memohon izin dan restu Syekh Tolhah.

Abah Sepuh.

Di Godebag inilah Syekh Mubarok berkenalan dengan penjara Tasikmalaya. Karena keadaan menjadi lebih tidak menyenangkan, Syekh Mubarok mengajukan usul kepada Syekh Tolhah untuk diizinkan mencari tempat lain yang lebih aman. Tempat yang jauh dari tekanan aparat kolonial Belanda dan ulama-ulama yang belum bisa menerima tarekat.

Permohonan Syekh Mubarok ditolak Syekh Tolhah. Menurut “penglihatan” Syekh Tolhah, Godebag (akhirnya menjadi Suryalaya) mempunyai masa depan yang gemilang.

Artikel Terkait: Kisah Abah Sepuh Berguru ke Syekh Tolhah

Untuk membesarkan dan menambah keyakinan hati muridnya, Syekh Tolhah yang sudah tua itu datang berkunjung ke Suryalaya sekitar tahun 1908 atau 1909. Beliau bersedia tinggal beberapa waktu lamanya di sana.

Syekh Tolhah yakin bahwa Godebag adalah tempat yang terbaik bagi perkembangan TQN di masa yang akan datang.

Pada masa itu Syekh Tolhah mengajak murid kesayangannya yang sudah ditetapkan sebagai penerusnya  untuk “melihat masa depan” Suryalaya. Dalam “pandangannya” mereka melihat di kemudian hari Suryalaya akan sangat ramai dikunjungi orang-orang yang datang dari berbagai daerah, jauh maupun dekat.

Gerbang makam Puncak Suryalaya.

Suryalaya akan banyak dikunjungi oleh berbagai orang dari berbagai latar belakang, termasuk para pemimpin pemerintahan. Jumlah mereka banyak dan tidak ada putus-putusnya. Akan berdiri masjid dan gedung yang bagus-bagus dalam jumlah yang banyak di lingkungan pesantren. Di malam hari akan terang benderang dan suara orang berdzikir terus menggema setiap waktu.

Artikel Terkait: Orang Yang di Benci Allah Menurut Syekh Abdul Qadir Jaelani

“Penglihatan” para mursyid TQN tidak meleset. Hanya, waktu itu “penglihatan” yang demikian merupakan rahasia bagi almarhum Syekh Tolhah dan Syekh Mubarok yang pantang diceritakan kepada siapapun sesuai dengan ketentuan dalam TQN.

Setelah kunjungan bersejarah dan penuh karamah dari Syekh Tolhah, Pesantren Godebag secara bertahap mulai terhindar dari berbagai gangguan dan hambatan yang tergolong berat.

(Diambil dari buku Menelusuri Perjalanan Sejarah Pondok Pesantren Suryalaya, yang disusun oleh R.H. Unang Sunardjo SH).

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...