Penting Kamu Tahu! Ini 6 Kekuatan Setan

Setan ditegaskan oleh al Qur’an sebagai musuh yang nyata. Untuk menghadapi musuh, seyogyanya perlu diketahui apa yang menjadi kekuatannya.

Atas izin Allah, setan mempunyai kekuatan. Dan manusia perlu mengenali apa yang menjadi kekuatan setan. Dengan mengetahuinya, diharapkan manusia jadi lebih waspada terhadap tipu daya serta langkah-langkah setan.

وَلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu. (Al Baqarah: 208).

Mufassir kenamaan, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA. menyebutkan ada enam kekuatan setan yang disebutkan dalam karyanya Setan dalam Al Qur’an.

Ketersembunyian

Ketersembunyian menjadi ciri khas setan, dan dalam konteks memperingatkan anak cucu Adam, Al Qur’an memberi peringatan agar tidak tergelincir.

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَآ اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْاٰتِهِمَا ۗاِنَّهٗ يَرٰىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْۗ اِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al A’raf: 27).

Musuh yang terlihat belum tentu mudah untuk dihadapi, apalagi musuh yang tak terlihat dengan aneka tipu dayanya. Setan bisa membisikkan sesuatu kepada seseorang hingga ia yakin bahwa itu merupakan bisikan yang berasal dari lubuk hati terdalam.

Masuk ke Dalam Diri Manusia

Setan bisa masuk ke dalam diri manusia. “Sesungguhnya setan mengalir dalam diri anak cucu Adam sebagaimana mengalirnya darah (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada yang memahaminya secara hakiki, bahwa setan betul masuk dalam diri manusia. ada pula yang memahaminya secara majazi, bahwa potensi negatif itu yang melekat dalam diri manusia.

Dalam hadis lain Nabi Saw menjelaskan, “Tidak seorang pun di antara kamu, kecuali ditetapkan baginya teman yang menemaninya dari (setan) jin.” Para sahabat Nabi bertanya: “Engkau juga wahai Rasul Allah?” Beliau menjawab: “aku juga, hanya saja, Allah membantuku sehingga aku selamat, (atau) ia masuk Islam, sehingga ia tidak menyentuh aku kecuali yang baik.” (HR. Muslim).

Dengan demikian, ada setan yang mendampingi manusia. Dan setan yang mendampingi setiap orang itu dinamai al Al Qur’an dengan qarin. “Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman (setan) yang memuji-muji apa saja yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka putusan azab bersama umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari (golongan) jin dan manusia. Sungguh, mereka adalah orang-orang yang rugi.” (Fusshilat: 25).

Lalu apakah setiap manusia ada qarin nya? Iya, semua ada qarin-nya, tetapi ada yang sekadar mendampingi dan tak mampu mempengaruhi. Yakni bila manusia itu taat kepada Allah dan banyak berzikir.

Ibnu Abi ad Dunya meriwayatkan melalui Abu Hurairah bahwa Nabi Saw bersabda: “setan orang mukmin letih dan kurus, sebagaimana letih dan kurusnya unta dalam perjalanan.”

Lalu ada qarin yang terus-menerus mendampingi sehingga manusia yang didampingi itu tidak dapat melepaskan diri dari gangguannya. Allah menjelaskan dengan firman-Nya:

وَمَنْ يَّعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمٰنِ نُقَيِّضْ لَهٗ شَيْطٰنًا فَهُوَ لَهٗ قَرِيْنٌ وَاِنَّهُمْ لَيَصُدُّوْنَهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ

Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya. Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (Az Zukhruf: 36-37).

Kemampuan Berbentuk dengan Berbagai Bentuk

Kemampuan setan untuk mengubah bentuk ini ada yang menolaknya dan tidak memasukannya menjadi kekuatan setan. Tetapi bagi yang percaya, jin mampu mengubah bentuknya atau memiliki kemampuan menciptakan ilusi.

Dari kemampuannya mengambil aneka bentuk itu, jin dapat mengambil bentuk manusia atau apa pun yang dihormati atau dikagumi, dicintai atau dibenci, atau bentuk apa saja yang pada akhirnya mengantar manusia yang lengah terjerumus ke dalam jurang yang dikehendaki setan.

Sekadar contoh, sebagaimana disebutkan oleh pakar hadis, Badruddin Ibn ‘Abdullah asy Syibli dalam bukunya Gharain al Jinn wa ‘Ajaibuhu mengemukakan suatu Riwayat dengan rentetan perawi-perawi sampai kepada Mujahid yang berkata: “setiap saya shalat, setan selalu berhias (menampakkan dirinya) kepada saya dalam bentuk Ibnu Abbas (sahabat nabi Saw), lalu saya teringat ucapan Ibnu Abbas. Maka saya menyiapkan pisau dan ketika setan itu tampil, saya menikamnya hingga ia jatuh tersungkur.”

Sangat Lihai

Terlepas apakah setan mampu membentuk diri dengan aneka bentuk atau hanya menciptakan ilusi, yang dapat dipastikan ialah bahwa setan amat lihai.

Kelihaian setan baik dari jenis manusia atau jin tercermin antara lain pada kemampuannya menyesuaikan diri, sikap dan ucapannya dengan manusia yang ia hadapi. Taat atau durhaka, kaya atau miskin, sehat atau sakit, dan seterusnya. Singkatnya, setan punya banyak pendekatan dan strategi sesuai dengan yang dihadapinya.

Setan mampu menggambarkan sesuatu yang buruk atau negatif sebagai sesuatu yang indah dan berdampak positif. setan juga sangat ahli mengemas rayuannya dengan kemasan yang indah, misalnya dengan menggambarkan ketulusan, ketika menjerumuskan manusia pertama.

وَقَاسَمَهُمَآ اِنِّيْ لَكُمَا لَمِنَ النّٰصِحِيْنَۙ

Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk para penasihatmu,” (Al A’raf: 21).

Gigih dan Sabar

Tujuan utama setan adalah menjadikan manusia melupakan Allah, mempersekutukan-Nya, bahkan mengingkari wujud-Nya. Setan mengetahui bahwa tujuannya itu tidak mudah. Maka, setan tidak mudah pupus tekadnya untuk menjerumuskan manusia sesuai kehendaknya. Apalagi ia juga telah bersumpah sesaat setelah dikutuk.

قَالَ رَبِّ بِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ

Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, (Al Hijr: 39).

Itu dilakukan setan agar kelak ia mendapat teman di neraka. Bahkan ia dengan gigih dan sabar selalu mempersiapkan langkah-langkah dengan tahapannya.

“Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

Berkolusi

Secara tegas al Qur’an menyatakan, “Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka ada-adakan.” (Al An’am: 112).

Tidak dijelaskan bagaimana bentuk kerja sama itu. Boleh jadi setan merayu manusia, lalu manusia menyambutnya. Bisa juga sebaliknya, nafsu buruk manusia menginginkan sesuatu, lalu ia berhubungan dengan setan dan ketika itu gayung bersambut sehingga terjalin kerja sama antar keduanya. Setan bisa berkolusi dengan hawa nafsu manusia.

Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa setan dapat merasuk ke dalam diri manusia, menyelami jiwanya sehingga mengetahui apa yang menjadi keinginan manusia. Keinginan inilah yang dijadikan setan sebagai pintu masuk atau jembatan untuk memuluskan tujuannya.

Setelah setan memperoleh yang dikehendaki, setan tidak akan membiarkan manusia sendirian, tetapi mendampinginya sampai manusia tadi menjadi setan pula. Menjadikan manusia tidak sekadar durhaka kepada Allah, tapi juga juga mengajak manusia lainnya kepaa kedurhakaan.

Dengan demikian, sekali lagi bahwa setan adalah musuh yang kita hadapi dengan memohon pertolongan Allah Swt. Namun yang perlu digaris bawahi bahwa sejatinya tipu dayanya amat lemah.

فَقَاتِلُوْٓا اَوْلِيَاۤءَ الشَّيْطٰنِ ۚ اِنَّ كَيْدَ الشَّيْطٰنِ كَانَ ضَعِيْفًا ۚ

“..maka perangilah kawan-kawan setan itu, (karena) sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (An Nisa: 74).

Rekomendasi
Komentar
Loading...