Pentingya Menempuh Jalan Ruhani Dengan Pembimbing

“Bukankah telah datang atas insan suatu masa dari waktu yang – pada masa itu – ia belum menjadi sesuatu yang dapat dikenali? (QS Al-Insan Ayat 1, 76:1).

Manusia sejatinya adalah makhluk ruhaniah. Tubuh hanyalah casing atau cangkang yang didesain untuk menopang ruh melakukan tugas di muka bumi.

Sebelum alam semesta dicipta oleh Allah SWT, kita sudah lebih dulu dicipta di alam ruh. Belum bisa disebut karena masih berwujud ruhaniah.

Setelah basyar (tubuh biologis) telah sempurna maka ruh “diturunkan” masuk ke dalam basyar untuk menjalankan perannya sebagai khalifatullah. 

Dalam perjalanannya di muka bumi manusia pada dasarnya selalu merindukan Tuhannya. Maka banyak ragam olah spiritual yang dilakukan. Hal ini wajar karena memang hakikat diri manusia adalah mahkluk spiritual.

“We are not human beings having a spiritual experience, we are spiritual beings having a human experience”. Teilhard de Chardin.

Pentingnya Olah Ruhani

Orang yang tekun berolah raga akan mendapatkan kekuatan-kekuatan raga, yang tidak dimiliki oleh orang yang tidak berolah raga. Wajar bukan?

Begitu juga dengan orang-orang yang tekun melakukan olah ruhani juga akan mendapatkan kekuatan-kekuatan ruhani. Adapun olah ruhani seperti memperbanyak puasa, shalat malam, sedekah, dzikir, meditasi dan sebagainya.

Kekuatan ruhani membuat kesadaran seseorang tembus ke alam ruhani, membuat orang itu mengalami pengalaman mistik. Di alam ruhani selain ada malaikat, juga ada jin/setan.

Bagaimana membedakan keduanya? Seringkali tipuan setan disangka “karamah” dari malaikat.

Pentingnya Pembimbing Tuhani (Mursyid)

Belajar matematika perlu pembimbing, belajar renang perlu pembimbing, belajar musik perlu pembimbing. Bagi penempuh jalan ruhani, pembimbing mutlak diperlukan. Mengapa?

Karena pembimbing adalah orang-orang yang telah lebih dulu paham/sampai kepada Tuhannya. Mereka tahu jalan kembali kepadaNya. Dalam dunia tasawuf seringkali disebut mursyid.

Mursyid yang berkualifikasi waliyullah adalah ulama pewaris nabi. Ada 3 tugas utama nabi dalam Surat al-Jum’ah / 67:2.

  1. Tilawah, membacakan ayat-ayat Allah. Memperkenalkan kepada orang-orang tentang adanya petunjuk ‘langit’, dan meyakinkan mereka tentang kebanaran ayat-ayat ‘langit’ itu.
  2. Tazkiyah, mensucikan jiwa pengikutnya. Tanpa kesucian jiwa maka makna ayat-ayat yang dibacakan tak akan terpahami dengan baik, tak juga ayat-ayat itu terasakan sebagai penggerak yang memotivasi orang untuk mengamalkannya.
  3. Taklim, mengajarkan ketentuan-ketentuan Allah (hukum, kitab) juga tujuan dan manfaat dari ketentuan-ketentuan tersebut (hikmah).

Beruntunglah kita yang telah memiliki mursyid berkualifikasi waliyullah seperti Syekh. Ahmad Shahibul Wafa Tajul Arifin (qs).

Terima kasih Abah, terima kasih… terima kasih.

Disarikan dari kajian Kyai Wahfiudin Sakam dengan tema, “Wali Mursyid, Pewaris Nabi.” (Idn)

 

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...