Penutupan Training TQNPreneur: Baru Langkah Awal

Kegiatan training entrepreneurship bagi para pengamal Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN) Ponpes Suryalaya diakhiri dengan penutupan secara virtual pada Selasa, 23/6/2020. Dengan demikian, artinya aktivitas wirausaha bagi para peserta baru saja dimulai.

“Apa yang diberikan dalam training TQN preneur itu hanyalah pintu utama, pendobrak. karena mungkin bagi sebagian peserta, training ini adalah sesuatu yang baru,” tegas KH. Wahfiudin Sakam, inisiator kegiatan tersebut, saat menyampaikan sambutan.

Menurutnya, dalam training online yang berlangsung hampir tiga minggu tersebut, para peserta dari berbagai wilayah di Indonesia telah mendapatkan materi dasar tentang keahlian teknologi dan Informasi (IT) untuk bisnis atau berwirausaha.

“Pertanyaannya, apakah mental kita juga sudah siap untuk menghadapi masa depan sebagai seorang entrepreneur?” katanya.

Dirinya berharap harus selalu ada progres yang dibuat oleh para peserta setelah training tersebut usai, dengan cara membangun jaringan kewirausahaan yang tersedia, baik di lingkungan TQN maupun di luar.

Bahkan, Kiai Wahfiudin memberikan target kepada para peserta yang lulus training itu, agar sebulan kemudian bisa membuktikan hasil kewirausahaannya dalam bentuk laba.

“Saya kasih tantangan, dalam sebulan ke depan tolong hasilkan minimal Rp 3 juta dari usaha Anda, lalu buktikan ke saya bahwa keuntungan itu sudah diberikan kepada ibu Anda,” kata Kiai Wahfiudin.

Untuk diketahui kegiatan training TQN Preneur yang diselenggarakan oleh TQN News diikuti oleh sekitar 79 orang. Namun dalam perjalanannya peserta diseleksi setiap naik level, dari mulai level literasi, kreasi, hingga implementasi di mana dinyatakan peserta lulus hanya sejumlah 27 orang.

“Sejumlah 27 orang ini adalah pasukan tempur bagi TQN di masa depan, yaitu untuk kebangkitan ekonomi umat sebagai pendukung dakwah TQN,” demikian ditekankan Kiai Wahfiudin.

Dalam acara penutupan tersebut, diumumkan sejumlah 8 orang peserta terbaik yang masing-masing mendapatkan laptop untuk operasional bisnis ke depan, dan 3 orang peserta teraktif mendapat peralatan pendukung untuk streaming.

Menjawab Tantangan Covid-19

Gagasan pelaksanaan kegiatan Training TQN Preneur diakui oleh inisiatornya, KH. Wahfiudin Sakam, merupakan respon terhadap pandemi Covid-19.

Diprediksi, kalaupun pandemi Covid-19 sudah mereda, namun virus Corona itu tidak benar-benar lenyap. Ia akan tetap ada bersama kehidupan manusia meskipun vaksinnya nanti sudah ditemukan, seperti halnya virus-virus lain seperti influenza, ebola, HIV, yang muncul lalu tidak pernah hilang sampai sekarang.

Tapi masalahnya, virus Corona ini berbeda. Setidaknya jika dilihat dari tiga faktor berikut:

Pertama, virus Corona bisa menulari orang namun tanpa merasakan gejala (asimptomatik), sehingga sulit dideteksi.

Kedua, sangat infeksius sehingga penyebarannya sangat mudah.

Ketiga, sifatnya yang multistrain sehingga virus bisa bermutasi secara khas sesuai dengan genetik manusia yang ditularkannya. Oleh karena itu, beda negara kemungkinan juga berbeda jenis virus coronanya.

Ketiga faktor tersebut membuat virus ini menjadi sulit musnah. Dengan begitu, cara yang efektif untuk mencegahnya adalah menjaga jarak fisik atau physical distancing sesuai rekomendasi berbagai otoritas kesehatan.

Menjaga jarak fisik tentu sangat berpengaruh terhadap kebiasaan hidup manusia, dari mulai cara bekerja, belajar, berbisnis, berwisata dan lain sebagainya. Maka perubahan kebiasaan dalam berbagai aktivitas kehidupan manusia tak bisa dihindari.

Jadi, ke depan situasinya tidak bisa kembali seperti kemarin, semua aktivitas mau tidak mau, suka tidak suka, harus dibiasakan dengan cara jarak jauh.

Maka itu, disinilah letak pentingnya teknologi informasi dan komunikasi (IT), termasuk bagi para entrepreneur. Sekarang, bisnis yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan IT bakalan hancur, kalau tidak stagnan.

Jadi, bagi seorang entrepreneur, penguasaan IT menjadi sangat penting di era pandemi maupun pasca pandemi nanti. Tapi yang juga lebih penting adalah kesiapan mental sebagai seorang wirausaha.

“Menjadi entrepreneur mentalnya harus siap, yakni harus siap merdeka,” kata Kyai Wahfiudin.

Maka menurutnya, wira usaha itu cocok bagi para pengamal tarekat. Sebab, bertarekat pada hakikatnya adalah upaya memerdekakan diri bahkan dari kepentingan dirinya sendiri seperti hawa nafsu.

“Makna Laa ilaaha illallah…, sejatinya adalah pembebasan,” tandas Kiai Wahfiudin.

Dengan memahami bahwa tidak ada tuhan selain Allah, maka seharusnya tidak ada lagi yang perlu dicemaskan dan dikhawatirkan, karena segala hal itu adalah kehendak dan milik Allah Swt.

Dengan begitu, sebagai manusia seharusnya seorang sufi atau salik, ia tidak terkungkung oleh kepentingan hawa nafsunya, termasuk juga oleh pemikiran serta kekhawatiran masa lalunya. Masa depan pasti berubah, dan perubahan itu harus dihadapi bukan untuk dihindari.

Komentar
Loading...