Ponpes Suryalaya: Poros Langit dari Timur Jauh

Ponpes Suryalaya: Poros Langit dari Timur Jauh

Hari Senin, 5 September 2016 lalu, usia Pondok Pesantren (Ponpes) Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat telah 111 tahun. Ponpes Suryalaya berdiri pada tanggal 7 Rajab 1323H bertepatan dengan tanggal 5 September 1905, usia yang lebih tua dari Negara Republik Indonesia yang pada tahun ini berumur 71 tahun, bahkan lebih tua dari ormas-ormas Islam di Indonesia, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

Ponpes Suryalaya didirikan oleh Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad dengan modal awal sebuah mesjid yang terletak di kampung Godebag, desa Tanjung Kerta. Nama Suryalaya diambil dari bahasa Sunda, yaitu Surya (Matahari), Laya (Tempat terbit), jadi Suryalaya berarti tempat matahari terbit.

Pada awalnya Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad sempat bimbang, akan tetapi guru beliau Syaikh Tholhah bin Talabudin memberikan motivasi dan dorongan juga bimbingan khusus kepadanya, bahkan beliau pernah tinggal beberapa hari sebagai wujud restu dan dukungannya. Pada tahun 1908 atau tiga tahun setelah berdirinya Pondok Pesantren Suryalaya, Abah Sepuh mendapatkan khirqoh (legitimasi penguatan sebagai guru mursyid) dari Syaikh Tholhah bin Talabudin.

Seiring perjalanan waktu, Pondok Pesantren Suryalaya semakin berkembang dan mendapat pengakuan serta simpati dari masyarakat, sarana pendidikan pun semakin bertambah, begitu pula jumlah pengikut/murid yang biasa disebut ikhwan.

Dukungan dan pengakuan dari ulama, tokoh masyarakat, dan pimpinan daerah semakin menguat. Hingga keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya dengan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah-nya mulai diakui dan dibutuhkan. Untuk kelancaran tugas Abah Sepuh dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dibantu oleh sembilan orang wakil talqin, dan beliau meninggalkan wasiat untuk dijadikan pegangan dan jalinan kesatuan dan persatuan para murid atau ikhwan, yaitu Tanbih.

Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad berpulang ke Rahmattullah pada tahun 1956 di usia yang ke 120 tahun. Kepemimpinan dan kemursyidannya dilimpahkan kepada putranya yang kelima, yaitu KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin yang akbrab dipanggil dengan sebutan Abah Anom.

Pada masa awal kepemimpinan Pangersa Abah Anom juga banyak mengalami kendala yang cukup mengganggu, diantaranya pemberontakan DI/TII. Pada masa itu Pondok Pesantren Suryalaya sering mendapat gangguan dan serangan, terhitung lebih dari 48 kali serangan yang dilakukan DI/TII. Juga pada masa pemberontakan PKI tahun 1965, Abah Anom banyak membantu pemerintah untuk menyadarkan kembali eks anggota PKI, untuk kembali kembali ke jalan yang benar menurut agama Islam dan Negara.

Perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya semakin pesat dan maju, membaiknya situasi keamanan pasca pemberontakan DI/TII membuat masyarakat yang ingin belajar Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah semakin banyak dan mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. Juga dengan penyebaran yang dilakukan oleh para wakil talqin dan para mubaligh, usaha ini berfungsi juga untuk melestarikan ajaran yang tertuang dalam asas tujuan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan Tanbih. Dari tahun ke tahun Pondok Pesantren Suryalaya semakin berkembang, sesuai dengan tuntutan zaman, maka pada tanggal 11 maret 1961 atas prakarsa H. Sewaka (Alm) mantan Gubernur Jawa Barat (1947 – 1952) dan mantan Mentri Pertahanan RI Iwa Kusuma Sumantri (Alm) (1952 – 1953). Dibentuklah Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya. Yayasan ini dibentuk dengan tujuan untuk membantu tugas Pangersa Abah Anom dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.

Setelah itu Pondok Pesantren Suryalaya semakin dikenal ke seluruh pelosok Indonesia, bahkan sampai ke Negara Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam dan Thailand, menyusul Australia, negara-negara di Eropa dan Amerika. Dengan demikian ajaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah pun semakin luas perkembangannya, untuk itu, Pangersa Abah Anom dibantu oleh para wakil talqin yang tersebar hampir di seluruh Indonesia dan juga wakil talqin yang berada di luar negeri seperti yang disebutkan di atas.

Pada masa kepemimpinan Pangersa Abah Anom, Pondok Pesantren Suryalaya berperan aktif dalam kegiatan Keagamaan, Sosial, Pendidikan, Pertanian, Kesehatan, Lingkungan Hidup dan Kenegaraan. Hal ini terbukti dari penghargaan yang diperoleh baik dari presiden, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, bahkan dari dunia internasional atas prestasi dan jasa-jasanya. Dengan demikian eksistensi atau keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya semakin kuat dan semakin diperlukan oleh segenap umat manusia.

Informasi mengenai sosok dan ketokohan Pangersa Abah Anom sebagai Mursyid yang memiliki peran dalam penyebaran TQN tersebar ke seluruh dunia. Banyak ulama tarekat yang mengagumi beliau. Sayyid Muhammad bin Alaway bin Abbas Al-Maliki ra., ulama Suni terkemuka di Makkah, mengungkapan bahwa Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin qs. (Abah Anom) Adalah Sulthon Awliya fi Hadza Zaman. Bahkan Syaikh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani, sufi kenamaan dari Cyprus, menyebut Pangersa Abah Anom sebagai Sufi Agung di Timur Jauh.

Penyebutan terhadap Pangersa Abah Anom sebagai Sufi Agung di Timur Jauh bukan tanpa alasan. Sudah ratusan bahkan ribuan orang yang datang untuk ditalqin dan menjadi murid beliau dari seluruh Indonesia dan dari manca negara karena ditarik secari ruhani.

Semasa beliau hidup, Ponpes Suryalaya juga berperan menjadi pesantren kilat bagi mereka yang tobat dan ingin dibersihkan qalbunya. Sebagai Wali Mursyid, dengan kewenangan yang dimilikinya, Pangersa Abah Anom menguatkan poros langit di Ponpes Suryalaya, dengan membimbing qalbu-qalbu santri atau muridnya yang datang untuk ditaqlin agar tersambung (wusul) dengan Allah SWT. Setelah Pangersa Abah Anom wafat pun (5 September 2011), Ponpes Suryalaya tetap menjadi “poros langit dari timur jauh” karena orang-orang masih terus berdatangan untuk ditalqin oleh para wakil talqin Pangersa Abah Anom yang masih setia menjalankan tugasnya dan meyakini bahwa Pangersa Abah Anom masih membimbing mereka dari balik tabir, dari alam yang berbeda. (Dari berbagai sumber).

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

There are 5 comments for this article
    • Admin at 11:33

      Admin salah ketik, langsung kami perbaiki. Terimakasih

    • Admin at 10:28

      Alhamdulillah, ruhani murid selalu terhubung dengan mursyid…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.