Puasa Membentuk Kesehatan Mental

Puasa adalah ibadah yang tidak hanya melibatkan aspek lahiriah atau tubuh fisik biologis. Sebab kesuksesan puasa juga dinilai dari bagaimana seseorang melatih jiwanya untuk jadi lebih sabar, lebih bersyukur dan punya daya kontrol diri yang lebih baik.

Sehingga untuk sukses dalam menjalani puasa tidak cukup hanya menyiapkan diri secara fisik tapi juga secara mental spiritual.

Karena kalau dilihat lebih lanjut, tujuan dari puasa ialah bertaqwa. Bertaqwa itu maknanya memiliki kompetensi atau kemampuan diri untuk menghindarkan diri dari aneka siksa baik di dunia dan di akhirat.

Dan kompetensi mengontrol diri (self leadership) ini diperlukan setiap orang baik saat Ramadhan maupun pasca Ramadhan.

Maka menyiapkan mental demi sukses menjalani ibadah penting dilakukan. Itu sebabnya sebelum puasa Ramadhan ada niat yang tertanam dalam qalbu. Dengan niat akan memperkuat jiwa sehingga puasa tidak dijadikan beban atau hambatan.

Tapi justru melalui niat ini ibadah puasa dikukuhkan lillahi ta’ala, membedakannya dari sekadar aktivitas biasa yang misalnya bertujuan untuk riya’ atau pamer.

Niat yang dilakukan juga berfungsi untuk membedakan antara ibadah yang bersifat fardhu dan yang Sunnah. Dengan niat juga untuk dibedakan antara puasa sebagai ibadah atau puasa untuk sekadar diet atau demi tubuh langsing.

Jadi, niat ini bisa membantu untuk membentuk mental yang baik dalam menjalani puasa. Karena dari niat ini akan lahir persiapan yang baik, persiapan fisik misalnya dengan melakukan sahur serta manajemen waktu. Sehingga aktivitas di bulan puasa tetap produktif.

Dalam Mazhab Iman Syafii, niat dilakukan setiap malam yang pada intinya siapa yang berpuasa biasa melakukan refleksi diri serta evaluasi diri demi perbaikan puasa di esok harinya.

Selain niat, yang bisa membantu dalam menyiapkan mental untuk menjalani puasa ialah menggali hikmah serta selalu berprasangka baik pada Allah Swt.

Karena puasa menurut para pakar puasa yang dilakukan dengan baik juga membantu menyehatkan mental seseorang. Dan kesehatan mental seseorang bisa dilihat melalui beberapa indikator.

Misalnya apakah ia produktif? Apakah ia selalu berprasangka baik? Selalu optimis? Apakah ia mampu menghadapi tantangan hidup atau justru menyerah tanpa berjuang? Apakah ia selalu bersyukur dan bahagia atau justru sering mengeluh dan menyalahkan keadaan? Bagaimana perannya bagi lingkungan atau justru hidup secara egoistik dan individualistik?

Karena posisi manusia bisa dikatakan demikian holistik. Baik sebagai makhluk sosial, makhluk jasmani, makhluk ruhani, insan ekonomi serta kedudukannya sebagai hamba Allah dan Khalifah serta fungsi lain sebagainya. Oleh karena itu ketika peran dan fungsi tersebut terganggu, maka bisa dibilang kesehatan mental seseorang juga tengah terganggu.

Maka puasa di bulan Ramadhan ialah momen untuk mengembalikan kesehatan mental seseorang. Sehingga hubungan dengan diri, sesama, lingkungannya kian harmonis dan hubungan dengan Allah juga demikian.

Dan melalui puasa kita banyak berefleksi, melihat diri ke dalam, bagaimana peran, tanggung jawab serta tugas-tugas, apakah berfungsi dengan baik atau tidak, sesuai dengan tujuan penciptaannya.

Rekomendasi
Komentar
Loading...