Qalbu Jismani dan Qalbu Ruhani (selesai)

Qalbu Jismani dan Qalbu Ruhani (selesai)

KH. Wahfiudin Sakam; Mudir Aam JATMAN, Wakil Ketua Komisi Pendidikan & Kaderisasi MUI Pusat, Wakil Talqin Abah Anom.

Qalbu Ruhani 

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW dijelaskan:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ (رواه إبن ماجة)

Sesungguhnya orang beriman itu, kalau berdosa, akan akan terbentuk bercak hitam di qalbunya.

Semakin banyak dosa dibuat oleh seseorang, semakin banyak pula bercak hitam di qalbunya, sehingga seluruh qalbu dapat menjadi hitam kelam. Qalbu mana yang menjadi hitam karena banyaknya dosa? Apakah jantung orang-orang yang jahat berwarna hitam? Tidak. Jantung para penjahat sekalipun, setelah ditembak mati oleh polisi lalu diotopsi oleh dokter, tetap saja berwarna merah.

Qalbu yang dimaksud oleh hadits di atas adalah qalbu ruhani, qalbu yang menjadi pusat dari ruh (jiwa) seseorang. Di dalam qalbu inilah terdapat iman (keyakinan, komitmen, harapan), kesadaran moral, kecerdasan intellektual, perasaan emosional, dan iradah (kemauan, motivasi, semangat).

Orang Jawa dan Sunda menyebutnya manah, orang Batak menyebutnya roha, orang Cina Singkawang (Kalbar) menyebutnya yong sim, dan orang Dayak dekat perbatasan Serawak (Malaysia) menyebutnya otin ausop. 

Bahasa Indonesia menyebutnya hatinurani. Namun karena dianggap terlalu panjang, dalam percakapan sehari-hari orang malas menyebutnya secara lengkap, lalu menyebutnya dengan hati saja. Padahal hati dalam bahasa Arab adalah kibdun, atau kibdah, atau kabid. 

Di dalam al-Qur’an, qalbu disebut juga dengan lubb (al-lubbu), jamaknya albaab (al-albaab), yang artinya adalah inti (core, kern, kernel). Qalbu adalah inti, atau pusat, dari ruh atau jiwa seseorang. Ini adalah qalbu yang spiritual, bersifat gaib, tidak ada wujud fisiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.