Rahasia Khidmat Ilmiah

Istilah khidmat ilmiah sangat akrab di kalangan Ikhwan akhwat TQN Pontren Suryalaya. Istilah ini digunakan oleh seluruh majelis manaqib dan khataman mulai dari pusat sampai ke daerah.

Yang menarik, entah mengapa namanya tidak mauidzah hasanah yang berarti nasehat kebaikan, ataupun ceramah agama atau tausiah diniyah (wasiat keagamaan)?

Jika kita lihat, kata khidmat itu bisa ditinjau dari dua bahasa. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) khidmat itu berarti hormat dan takzim. Berkhidmat berarti bersopan santun, mengabdi kepada dan setia kepada.

Dalam Bahasa Arab kata khidmat itu berasal dari kata khadama yakhdumu yang berarti melayani, membantu, memberi pelayanan, bersikap loyal kepada seseorang. Khidmah bisa diartikan dengan pelayanan, kebaikan, tugas, pekerjaan dan pengabdian. Sedangkan ilmiah bermakna bersifat ilmu, secara ilmu pengetahuan, memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan.

Istilah khidmah ini bisa jadi juga merujuk pada hadis Nabi,

أي الصدقة أفضل قال خدمة عبد في سبيل الله

Sedekah apa yang paling utama? Rasul menjawab: berkhidmah di jalan Allah (HR. Tirmidzi).

Pelayanan dan Ilmu

Dengan demikian, ada dua kata yang ditekankan dalam istilah khidmat ilmiah. Pertama ialah pelayanan. Memberikan pelayanan artinya menyajikan, menyuguhkan dan mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan.

Artinya tidak sekedar uraian dan pembahasan. Tapi konten yang disajikan itu telah dipersiapkan sesuai kebutuhan dan prioritas ikhwan akhwat TQN Pontren Suryalaya sebagai bentuk pelayanan terbaik. Tak hanya membawakan hal yang aktual dan kontekstual namun tetap proporsional sehingga keseimbangan dalam pelayanan itu tetap ada.

Kedua adalah ilmu. Apa yang disajikan dalam khidmat ilmiah itu telah dipersiapkan secara ilmiah atau berdasarkan ilmu. Sehingga apa yang disampaikan bisa dipertanggung jawabkan secara keilmuan.

Tidak sekedar menyampaikan nasehat kebaikan (mauidzah hasanah) yang bisa jadi isinya tak berlandaskan ilmu. Penulis melihat -bisa jadi keliru- bahwa ada kekhawatiran dari Abah Sepuh akan lahirnya fatwa-fatwa keagamaan dari orang saleh tapi tidak alim. Karena ada kecenderungan kita lebih mudah mempercayai mereka yang shalih. Oleh karena itu sejak awal, dinamakan khidmat ilmiah. Agar takzim terhadap ilmu dan berpegang kepadanya.

Lalu, istilah khidmat ilmiah ini juga menunjukkan adanya dorongan dan motivasi yang kuat kepada Ikhwan-akhwat TQN Suryalaya untuk terus belajar dan menguasai aneka ilmu. Itu sebabnya tidak dinamakan tausiah diniyah (wasiat keagamaan) atau ceramah agama. Dengan ilmu yang dimilikinya (apapun ilmunya sesuai bidangnya) itulah kemudian ia bisa berkhidmah untuk Pontren Suryalaya.

Khidmat ilmiah juga tidak dinamakan ceramah atau khitabah. Karena kata ilmiah seakar kata dengan kata ulama. Ulama adalah pewaris Nabi, mereka mewarisi ilmu dari Nabi. Sehingga tak sekedar pandai beretorika tapi juga memiliki kedalaman ilmu dan kemampuan berargumentasi secara ilmiah sekaligus pengamalannya.

Ini sejalan dengan ungkapan Abah Anom yang mengutip penghulu Sufi Syekh Junaid Al Baghdadi, “Siapa yang hendak menyebut dirinya termasuk sufi dan penganut tasawuf Islam hendaklah sanggup mengetengahkan saksi jujur atas pengakuannya. Saksi pertama kitab al Qur’an dan saksi kedua sunnah Rasulullah Saw. Dengan demikian, setiap gerak gerik tasawuf, bidang ilmu dan riyadhah harus berpangkal kepada al Quran dan sunnah,” tulis Abah Anom dalam sambutan buku Thoriqot Qodiriyyah Naqsabandiyyah; Sejarah, Asal-Usul dan Perkembangannya.

Al Qur’an dan sunnah adalah sumber ilmu. Sedangkan ilmu al qur’an dan sunnah diperoleh melalui guru yang bersambung sanadnya. Sebab sangat masyhur ungkapan Abdullah bin Mubarak,

الإسناد من الدين ، ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

“Sanad adalah bagian dari agama, seandainya tanpa sanad, siapapun bisa berkata seenaknya.”

Sehingga amat wajar dinamakan khidmat ilmiah. Tiada lain tujuannya agar lestari apa yang disebut dengan ilmu amaliah dan amal ilmiah sehingga kita semua mencapai keselamatan di dunia dan akhirat.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...