Rahasia Muhammadiyah Jadi Ormas Paling Tajir

Seratus delapan tahun bukan waktu yang singkat bagi organisasi keagamaan Muhammadiyah. Ormas yang awalnya didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta yang hanya seluas 9,9 Ha. Dan kini, Muhammadiyah telah menjelma jadi salah satu organisasi keagamaan terbesar di tanah air Indonesia.

Tak ada yang memungkiri organisasi yang didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan ini punya sejarah positif di negeri ini. Muhammadiyah yang telah berstatus badan hukum sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda (1912). Juga telah menjalankan fungsi sebagai nazhir wakaf.

Hal ini sangat lumrah. Dalam pergerakannya, Muhammadiyah tidak bisa melepaskan diri dari urusan perwakafan. Karena bergerak di bidang sosial dan keagamaan, pasti membutuhkan modal dan aset yang besar. Ini yang membuat Muhammadiyah kemudian membentuk majelis khusus yang bernama Majelis Wakaf dan Kehartabendaan.

Majelis ini memiliki tugas pokok untuk mengembangkan dan mengamankan harta wakaf dan harta kekayaan milik Persyarikatan. Selain itu majelis ini juga berfungsi untuk membimbing masyarakat dalam melaksanakan wakaf, hibah, infaq, dan sedekah serta lainnya yang bersifat wakaf.

Keteladanan Kiai Ahmad Dahlan yang mewakafkan diri dan harta bendanya untuk Muhammadiyah menular hingga para pengikutnya. Murid Kiai Sholeh Darat itu pernah satu waktu melelang harta benda di rumahnya. Mulai dari lemari, meja, kursi, jas hingga jam tangan dan lain sebagainya. Itu semua untuk membiayai sekolah dan membayar gaji guru sedangkan kas Muhammadiyah saat itu kosong.

Hingga akhirnya untuk memperluas jangkauan pengembangan dan pengelolaan aset wakaf di seluruh Indonesia dibentuklah Majelis Wakaf dan Kehartabendaan di tiap-tiap provinsi (Pimpinan Wilayah), kabupaten/kota (Pimpinan Daerah), dan kecamatan (Pimpinan Cabang) yang merupakan kepanjangan tangan dari Majelis Wakaf dan Kehartabendaan PP Muhammadiyah.

Aset Muhammadiyah Terus Tumbuh

Dan yang menarik seluruh aset Muhammadiyah baik wakaf maupun non wakaf itu terdaftar atas nama Persyarikatan Muhammadiyah. Inilah yang membuat Muhammadiyah jadi ormas konglomerat di tanah air. Itu semua berawal dari pemikiran “mengkorporasikan” pengelolaan harta benda wakaf.

Bayangkan saja, Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah pernah merilis aset yang dimiliki persyarikatan. Ada amal usaha pendidikan yang jumlahnya terdiri dari 3.370 TK, 2.901 SD/MI, 1.761 SMP/MTs, 941 SMA/MA/SMK, 67 pondok pesantren, dan 167 perguruan tinggi.

Padahal Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia saja menurut data Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan tahun 2017 hanya berjumlah 122 PTN. Jauh lebih sedikit dari yang dimiliki Muhammadiyah 167 Perguruan Tinggi.

Belum lagi amal usaha kesehatan yang tercatat sebanyak 47 rumah sakit, 217 poliklinik, 82 klinis bersalin. Selain itu Muhammadiyah juga memiliki amal usaha ekonomi. Ada 1 bank syariah (saham Muhammadiyah 2,5%), 26 BPR/BPRS dan 275 BMT/BTM, 1 Induk Koperasi BTM, 81 Koperasi Syariah, 22 minimart dan 5 kedai pesisir.

Bukan hanya itu, ada pula amal usaha pelayanan sosial yang memiliki lebih dari 400 panti asuhan, rumah singgah. Sedangkan data lain menyebutkan secara rinci 318 panti asuhan, 54 panti jompo, dan 82 rehabilitasi cacat.

Sebagaimana dikutip dari pwmu.co, bahwa seluruh aset Muhammadiyah itu ada yang menaksir nilainya mencapai 320 triliun. Belum lagi kekayaan kas milik amal usaha yang tersimpan di bank jumlahnya melebihi 1000 triliun. Tak ada yang tahu pasti berapa nilai aset seluruhnya. Tapi jika menengok aset satu kampus saja yang bernilai milyaran bukan tak mungkin lebih dari yang ditaksirkan.

Kekuatan Berjamaah

Yang jelas kekayaan secara berjamaah dalam persyarikatan ini mampu mengalahkan aset orang yang paling tajir di Indonesia. Budi Hartono pemilik Grup Djarum yang pada Maret 2020 asetnya mencapai 232,1 triliun.

Maka benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah Saw agar umat Islam selalu berjamaah termasuk dalam ekonomi. “Hendaklah kalian selalu berjamaah / berhimpun bersama. Hindari perpecahan karena setan bersama yang sendirian dan ia lebih jauh dari yang berdua (disbanding dengan yang sendirian). Siapa yang ingin mendapatkan tempat yang terbaik di surga, maka hendaklah ia berjamaah (HR. At Tirmidzi).

Dalam hadis yang lain, Nabi menegaskan bahayanya bergerak sendirian atau secara individual. “Hendaklah kalian selalu berjamaah/bersama karena serigala hanya menerkam kambing yang sendirian (jauh dari kelompoknya) (HR. Ahmad, An Nasa’i).

Di sinilah pentingnya kita semua berjamaah terutama dalam melakukan wakaf sebagaimana dicontohkan oleh Muhammadiyah. Karena wakaf tidak dapat dimiliki, diwariskan atau dipindah tangankan. Akan tetapi dikelola dan dikembangkan secara professional. Yang manfaatnya serta ganjaran kebaikannya mengalir hingga hari kiamat. Bahkan ketika yang mewakafkan sudah terkubur di dalam tanah.

Rekomendasi
Komentar
Loading...