Rahasia Surah Alam Nasyrah dalam Khataman

Dalam Uquudul Juman yang memuat amaliah TQN Pontren Suryalaya, terdapat wirid khataman. Rangkaian khataman sendiri terdiri dari tawassul, shalawat, istighfar, doa, dzikir serta ayat-ayat tertentu dan surah al Qur’an.

Dan salah satu surah yang termaktub dalam wirid khataman ialah surah Al Insyirah atau disebut juga dengan nama surah Alam Nasyrah atau surah as Syarh yang bermakna kelapangan dada.

Menarik jika kita mengenal lebih jauh menyangkut surah ini. Surah yang terdiri dari delapan ayat ini, secara tartib mushafi, adalah surah yang ke-94. Dan menurut sementara ulama, ia merupakan surah ke-12 yang diterima nabi atau secara tartib nuzuly.

Menurut penulis Tafsir Al Lubab, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA., surah ini berisi uraian mengenai anugerah Allah Swt kepada nabi Muhammad Saw dan berisi tuntunan untuk berusaha sekuat tenaga dengan penuh optimisme.

Guna dan tujuannya ialah menanamkan ketenangan hati menyangkut masa datang dan misi Nabi Muhammad Saw. Menanamkan optimisme ke dalam hati beliau dan juga setiap orang yang meneladani beliau bahwa dalam setiap kesulitan terdapat kemudahan.

Ayat 1 sampai 4

اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَۙ

Bukankah Kami, yakni Allah Swt secara langsung dan bersama siapa yang ditugaskan-Nya telah melapangkan dadamu secara khusus untukmu wahai nabi Muhammad Saw? engkau sejak itu, kini, bahkan masa datang akan selalu merasa tenang.

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَۙ

Dan di samping itu Allah Swt juga telah menanggalkan darimu bebanmu yang selama ini engkau pikul,

الَّذِيْٓ اَنْقَضَ ظَهْرَكَۙ

Yang engkau rasakan sangat memberatkan punggungmu,

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

Di samping itu Kami, yakni Allah Swt meninggikan bagimu sebutanmu, yakni namamu.

Ayat 1 sampai 4 dilukiskan beberapa nikmat besar yang diperoleh oleh Nabi Muhammad Saw, di antaranya:

Pertama ialah kelapangan dada. Lalu apa yang dimaksud dengan dada di sini? Dada yang dimaksud ialah qalbu, sebagaimana disebutkan dalam al Qur’an.

اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ

Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga qalbu mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah qalbu yang di dalam dada. (Al Hajj: 46).

Kelapangan dada yang dianugerahkan kepada Rasulullah atau kepada selain beliau yang tentu dengan kapasitas yang berbeda adalah anugerah Allah Swt semata.

Bahkan dalam ayat yang lain digambarkan bagaimana perbedaan antara orang yang dadanya lapang dan sempit.

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَاۤءِۗ

Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. (Al An’am: 125).

Rahasia Surah Alam Nasyrah dalam Khataman
Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Orang yang berislam dengan penyerahan diri secara penuh kepada Allah akan menghasilkan cahaya yang dapat digunakan oleh pemiliknya untuk membedakan yang hak dari yang batil, yang utama dari yang tidak utama, yang benar dari yang tidak benar.

Kedua, Allah menanggalkan beban Nabi Muhammad Saw. Lalu apa yang dimaksud dengan beban beliau?

Beban itu ialah keterbelakangan masyarakat, kejauhannya dari kebenaran dan petunjuk ilahi. Inilah yang merupakan beban psikologis yang amat berat bagi nabi Muhammad Saw dan semua yang peduli pada masyarakat.

Ketiga, Allah meninggikan nama Nabi Muhammad Saw. Lihat saja misalnya, nama beliau yang mulia disandingkan dengan nama Allah dalam syahadatain.

Kemudian, nama baik beliau yang ditegaskan surah ini bukan saja berdasar pandangan agama Islam, tetapi juga terbukti, antara lain, dengan pengakuan non-Muslim yang objektif tentang keunggulan beliau kendati tolok ukur penilaiannya berbeda-beda.

Misalnya Thomas Carlyle yang menggunakan tolok ukur kepahlawanan. Marcus Dods dengan tolok ukur keberanian moril, Will Durant dengan tolok ukur hasil karya. Michael Hart dengan tolok ukur pengaruh dan masih banyak lainnya. Kesemuanya berkesimpulan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah seorang manusia yang amat agung bahkan manusia terbesar sepanjang sejarah kemanusiaan.

Ayat 5 dan 6

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ

Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,

اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ

sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.

Setelah ayat-ayat yang lalu menguraikan aneka anugerah Allah Swt, maka ayat 5 bagaikan menyatakan: jika engkau telah mengetahui dan menyadari betapa besar anugerah Allah Swt itu, maka dengan demikian menjadi jelas pula bagimu – wahai nabi Agung – bahwa sesungguhnya sesaat sesudah -bahkan bersama- kesulitan ada kemudahan yang besar.

Ayat 5 dan 6 tidak lah berarti bahwa di setiap kesulitan ada kemudahan. Kata al ‘usr yang berbentuk isim ma’rifat itu mengindikasikan bahwa kesulitan di ayat yang kelima dan keenam ialah satu kesulitan yang sama.

Rahasia Surah Alam Nasyrah dalam Khataman
Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Sedangkan kata yusr yang berbentuk isim nakirah menyiratkan, bahwa kemudahan di ayat kelima dan ayat keenam itu berbeda. Sehingga dari sini kita bisa peroleh bahwa di setiap kesulitan ada dua kemudahan.

Ayat 7 dan 8

Maka dengan demikian, yang dituntut hanyalah kesungguhan bekerja dibarengi dengan harapan serta optimis akan kehadiran bantuan ilahi.

فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ

Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),

وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ ࣖ

dan hanya kepada Tuhanmu lah engkau berharap.

Ayat 7 bagaikan menyatakan, maka apabila engkau telah selesai yakni sedang berada di dalam keluangan setelah tadinya engkau sibuk, maka bekerjalah dengan sungguh-sungguh hingga engkau letih atau hingga tegak dan nyata suatu persoalan baru.

Rahasia Surah Alam Nasyrah dalam Khataman
Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Sedangkan ayat 8 seakan menyatakan, dan hendaknya hanya kepada Tuhan Pemeliharamu saja, tidak kepada siapa pun selain-Nya engkau berharap dan berkeinginan penuh guna memperoleh bantuan-Nya.

Dari sini Ikhwan TQN Pontren Suryalaya bukan hanya rutin membaca surah alam Nasyrah di setiap khataman, tapi juga diharapkan bisa memetik pelajaran dari surah tersebut.

Karena surah ini memberi isyarat bagi yang membacanya agar selalu optimis dan produktif. Tidak berleha-leha dan tidak berhenti melakukan aneka hal positif. Serta bersungguh-sungguh dan bersandar hanya kepada Allah Swt.

Rekomendasi
Komentar
Loading...