Rahmat Kemerdekaan

Kembali bangsa kita memperingati HUT RI ke 70 tahun, sebagai wujud rasa syukur atas nikmat dan rahmat kemerdekaan, tidak ada salahnya kita bergembira dalam memperingati HUT RI dengan berbagai atraksi hiburan yang sifatnya menghibur warga atau olah raga yang menyehatkan dan kegiatan syukuran dengan makan-makan bersama sambil berdo’a untuk para pahlawan bangsa dengan menjalin kebersamaan antar warga. Tetapi asal saja kegiatan tersebut tidak melanggar etika masyarakat dan arturan norma agama. Hal seperti pesan Al-Qur’an;

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS An-Nahl: 114).

Fatwa Jihad

Perjuangan fisik untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan dalam segala bentuk dan ajarannya adalah suatu kewajiban agama. Karena segala bentuk penjajahan pada dasarnya adalah pelecehan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan yang mulia dan melanggar HAM. Segala bentuk penjajahan atas manusia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan nilai-nilai kemuliaan manusia dan prinsip keadilan universal serta nilai-nilai ajaran agama.

Disinilah perjuangan membebaskan diri dari belenggu penjajahan memiliki dasar dan justifikasi keagamaan yang kuat. Perjuangan kita sebagai bangsa untuk merdeka sungguh perjuangan yang sangat lama dan tidak kenal lelah. Demikian pula dalam mempertahankan kemerdekaan dari agersi Belanda, semakin memperkokoh keyakinan dan persatuan bangsa untuk merdeka, lepas dari belenggu penjajah, baik melalui perang secara fisik maupun diplomatik.

Bahkan KH. Hasyim Asy’ari tanggal 22 Oktober 1945, mengeluarkan (memfatwakan) Resolusi Jihad, isinya;

  1. Setiap orang wajib memerangi orang kafir (penjajah).
  2. Pejuang yang wafat layak dianggap syuhada.
  3. Orang yang menghambat perjuangan bisa dihukum mati.

Atas dasar resolusi diatas, KH. Maskoer pimpinan Hizbullah dan juga Masyumi menegaskan bahwa melawan penjajah Belanda adalah jihad fisabilillah. Dengan keyakinan ini maka para pejuang jadi bersemangat dalam melawan/mengusir penjajah, serta tidak takut mati. Mereka yang tewas dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan jadi mati sahid dan insya Allah akan masuk surga.

Jadi semangat para pejuang dalam mengusir penjajah saat itu dilandasi semangat keagamaan (spiritualitas). KH. Hasyim Asy’ari tokoh utama pendiri NU, telah berhasil memberi “ruh” spiritual perjuangan dalam melawan penjajah, kepada TNI dan para pejuang. Sehingga akhirnya Belanda melalui Konferensi Meja Bundar Mengakui kemerdekaan Indonesia 1949.

Atas dasar peran kesejarahan dan pemikiran Tokoh NU tersebut, maka wajar bila spirit keagamaan di pulau jawa dan nusantara ini kemudian diwarnai idelogi keagamaan NU.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...