Rebut Kembali Atensimu dengan Digital Minimalism

Apakah kamu pernah mendengar istilah Digital Minimalism. Istilah ini merupakan filosofi penggunaan teknologi di mana seseorang memusatkan waktu onlinenya hanya pada segelintir aktifitas yang telah ia pilih dengan cermat dan membawa manfaat optimal bagi dirinya.

Singkatnya, digital minimalism ialah gaya hidup untuk menggunakan teknologi seefisien mungkin sesuai kebutuhan.

Dalam akun YouTubenya Greatmind, Marissa menyebutkan bahwa seorang digital minimalist dengan senang hati mengabaikan semua aktivitas online yang tidak memberi nilai tambah bagi hidupnya.

Karena menurutnya, jika kamu ingin memiliki kualitas hidup yang lebih baik, maka kamu harus mampu mengembalikan kemampuan konsentrasi dan atensi pada apa yang penting.

Ketika menerapkan minimalisme pada rumah, tanyakan apakah barang itu berguna bagi saya? Kalau jawabannya tidak, ucapkan selamat tinggal pada barang itu.

“Prinsip yang sama saya terapkan pada aplikasi di ponsel. Saya tanya diri, apakah apps ini mempunyai nilai tambah ke hidup saya? Apakah apps ini berguna dalam hidup saya? Jika jawabannya tidak, saya hapus apps itu. Tapi kalau punya kegunaan besar, saya pakai,” ucapnya.

Dari sini, penggunaan aplikasi jadi sangat jelas dan spesifik. Makanya di sini ada aplikasi seperti browser, chat, email, e commerce, bahasa asing, peta dan transportasi.

Marissa mengaku, meski punya twitter, tapi gak ada aplikasinya di ponsel. Untuk menghindari kecanduan dan akhirnya buang waktu.

“Twitter juga saya gunakan secara spesifik, tidak ikut akun manapun karena tidak perlu. Twitter hanya untuk berbagi info tentang apa yang sedang saya kerjakan atau sharing referensi film,” imbuhnya.

Ilustrasi. (Foto: FreePik)
Jangan Sembrono Menggunakan Teknologi

Lalu, mengapa kita perlu protektif terhadap atensi (perhatian/minat)? Karena apa yang kita lakukan, lihat atau dengar dalam keseharian sangat berpengaruh pada cara pandang dan kualitas hidup yang kita miliki. Sehingga menggunakan teknologi digital yang sembrono membuat pikiran penggunanya keruh, sulit fokus.

Penelitian mengungkap bahwa orang yang kesulitan fokus, pikirannya cenderung negatif. Berkutat pada apa yang salah dalam hidup dan melupakan apa yang sebenarnya sudah berjalan baik. Dia juga lebih sering cemas, lemah mental bahkan depresi.

“Nah, kalau sudah begini, gimana mau jadi individu yang fungsional, produktif dan tenteram ya kan?” singgungnya.

Jadi masuk akal ketika Steve Jobs dan Bill Gates tidak memperbolehkan anak-anak mereka main iPad atau punya ponsel pintar sebelum cukup umur di rumah atau di sekolah.

Mereka semua tahu betul dampak buruk penggunaan teknologi yang tidak cermat dan tidak bijak.

Tips Digital Minimalism

Atensi adalah emas, mahal. Maka itu baiknya kita lah yang menggunakan teknologi. Jangan sampai kita biarkan teknologi memanfaatkan kita. Kita yang meraup manfaat sebesar-besarnya dari teknologi, bukan sebaliknya.

Lalu bagaimana berhubungan dengan teknologi ke arah baru yang lebih sehat? Kalau mau, kamu bisa ikuti tips dari Cal Newport, penulis buku best seller, Digital Minimalism; Choosing a Focused Life ini a Noisy World. Caranya?

Pertama, cermati selama 30 hari aplikasi yang tidak memberi manfaat optimal. Setelah melakukan pengamatan selama 3o hari, kamu sudah mengetahui aplikasi mana yang memang kamu butuhkan dan punya manfaat optimal, dan mana aplikasi yang tidak terpakai atau tidak punya nilai tambah. Maka cermati dan putuskan apa yang terbaik untukmu. (Foto: FreePik)
Kedua, ganti waktu yang dulu terisi main gadget dengan aktivitas santai analog yang kamu sukai. Apakah itu kerajinan tangan, membuat sesuatu, bermain alat musik, melukis, menulis puisi, jadi volunteer, baca buku, olahraga atau bergabung komunitas. (Foto: FreePik)

Langkah mengisi waktu dengan aktivitas non digital ini sangat penting. Karena kalau kamu tidak mengisi waktu luang ini dengan kegiatan offline yang menyenangkan, kemungkinan besar kebiasaan main gadget kamu akan kambuh.

Ketiga, setelah bereksperimen selama 30 hari dengan menikmati pikiran yang lebih jernih dan hari-hari yang lebih produktif. Kamu boleh kok mengunduh kembali aplikasi yang tidak esensial ke ponsel. Tapi setelah apa yang kamu lewati dengan kebiasaan baru, kemungkinan besar selera terhadap aplikasi yang tidak banyak memberi manfaat itu sudah hilang. Sehingga akhirnya kamu nggak pakai lagi secara permanen. (Foto: FreePik)

Proses membersihkan kebisingan digital yang bernilai rendah atau bersih-bersih digital ini sangat dibutuhkan oleh setiap pengguna gadget. Sehingga alat yang digunakan itu betul-betul penting dan bisa meningkatkan kualitas hidup bukan justru sebaliknya.

Karena sebagai muslim, Rasul Saw sendiri sudah mengingatkan dengan bersabda, di antara tanda baiknya keislaman seseorang ialah dia meninggalkan sesuatu yang tidak bernilai dan bermanfaat bagi dirinya.

Lantas tertarikkah kamu merebut atensi berharga untuk kualitas hidup yang lebih bernilai dan bermakna?

Rekomendasi
Komentar
Loading...