Religiusitas dan Spiritualitas

Religiusitas dan spiritualitas adalah dua hal yang berbeda, namun saling melengkapi satu sama lain. Religiusitas seringkali terpaku pada simbol-simbol keagamaan dan praktik-praktik ritual, sedangkan spiritualitas merupakan inti keagamaan itu sendiri, yaitu keterhubungan seseorang dengan Allah Swt. yang langsung berdampak kepada akhlaknya.

Idealnya, seorang yang religius adalah seorang yang spiritualistik. Namun, pada kenyataannya, sering kita saksikan religiusitas seseorang tidak berimbang dengan spiritualitasnya. Berfiqih, namun tidak bertasawuf.

Contoh tak seimbangnya religiusitas dan spiritualitas bisa dilihat fenomena umrah dan haji di Indonesia. Setiap tahun, ratusan ribu orang melaksanakan umrah dan haji. Bahkan, untuk haji, setiap tahun melebihi kuota, sehingga sebagian orang harus masuk daftar tunggu selama bertahun-tahun, demi bisa menunaikan rukun Islam ke-5 itu.

Sayang, semangat religiusitas ini tak tampak implementasinya. Sampai akhir tahun 2012, Indonesia masih menempati urutan pertama sebagai negara terkorup di Asia Tenggara. Padahal, jemaah umrah dan haji Indonesia merupakan yang terbesar dari negara-negara di Asia Tenggara, bahkan di dunia.

Ironisnya, dalam beberapa kasus, para pejabat yang baru saja pulang ibadah umrah atau haji ditangkap dan dipenjarakan karena kasus korupsi. Dari komparasi kedua fakta tersebut, bisa dikatakan, umrah dan haji di Indonesia adalah relegiusitas yang belum berdampak kepada kehidupan spiritualitas bangsa yang mayoritas penduduknya Muslim ini.

Begitu juga dengan spiritualitas, tidak cukup jika tanpa religiusitas. Ingat Allah, akhlaknya baik terhadap sesama, tapi tidak shalat. Ketika orang lain bertanya, “Kamu sudah shalat?” jawabannya, “Saya enggak perlu shalat, karena saya sudah eling—ingat Allah—setiap saat.”

Itu adalah pemahaman yang keliru. Dia spiritualis, namun tidak religius. Dia bertasawuf, namun tidak berfiqih.

Lalu bagaimana pendapat dari para ulama besar dunia tentang kedua hal itu?

Imam Maliki, seorang ulama besar yang menyusun kitab Al-Muwaththa’ dan menjadi salah seorang Imam dari empat mazhab besar di dunia, berkata, “Barang siapa berfiqih/bersyariat saja tanpa bertasawuf, niscaya dia fasik (tidak bermoral).Dan barang siapa bertasawuf tanpa berfiqih/bersyariat, niscaya dia zindiq (sesat).Dan barang siapa yang melakukan kedua-duanya, maka sesungguhnya dia adalah golongan Islam yang hakiki.” (Kitab Iyqozhul Himam, hal. 6)

Imam Syafi’i pun menasihatkan, “Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (menjalankan syariat) dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya, demi Allah, saya benar-benar ingin memberikan nasihat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (menjalankan syariat), tetapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kenikmatan takwa. Adapun orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih (menjalankan syariat), maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan).” (Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal.47)

Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...