Renungan Kiai Dimhari Ini Patut Kita Resapi

Masa kecil kita dibangga-banggakan orang tua, kelak diharap menjadi orang yang berjaya, maka kita dipilihkan sekolah ternama supaya cita-cita itu terlaksana.

Pendidikan agama dan mengaji al-Quran, dianggap tidak menjanjikan kesejahteraan dan kebahagiaan, maka diabaikan dan tidak dipentingkan.

Masa remaja kita sudah asik dengan pelajaran duniawi. Berlomba-lomba meraih prestasai tertinggi. Hasrat mengaji tidak lagi terdeteksi.

Masa dewasa kita berkeluarga. Semua waktu tersita untuk keluarga, mengejar karir duniawi. Mengaji dan belajar agama belum ada waktunya. Bahkan di antara kita ada yang berkata, nanti saja setelah purna.

Sekarang… usia sudah menjelang senja, kerja dan tugas sudah purna, jabatan dan kedudukan sudah terlengserkan, mengaji al-Quran belum juga menjadi keinginan.

Ada saja seribu alasan. Sibuk mengurus cucu kesayangan, menuntaskan tugas yang belum terselesaikan, menyiapkan bekal anak-anak untuk menghadapi kehidupan masa depan, dan seabreg lagi alasan yang dikemukakan.

Sadarlah teman, matahari kehidupan sudah menuju ke haribaan, gerbang kematian sudah terpampang di depan, kapan lagi kita akan mengaji al-Quran. Yuuk kita mengaji.

[KH. Dimhari Noor Hasyim, Ketua Yayasan Serba Bakti (YSB) Pontren Suryalaya Korwil DI Yogyakarta, Pengasuh Pondek Pesantren Tahfidz Latifah Mubarakiyah, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta)

Rekomendasi
Komentar
Loading...