Restu Orangtua adalah Awal Tarekat

Hikmah
Kisah awal perjalanan ruhani Abu Yazid al-Bistami ini mengajarkan, jalan ruhani (tarekat) itu harus dimulai dari rumah kita sendiri, yakni restu kedua orangtua khususnya Ibu. Tarekat itu adalah jalan mencari ridha Allah, sementara ridha Allah itu, seperti dinesehatkan junjungan Nabi SAW, terletak pada ridha kedua orangtua. Tarekat itu adalah jalan untuk meraih cinta Allah, sementara Allah sangat mencintai hamba yang berbakti kepada ibu-bapaknya.

Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Aku bertanya kepada Nabi SAW, ‘manakah amalan yang paling dicintai Allah?’ Beliau menjawab, ‘shalat tepat waktu’, Lalu apa lagi? Beliau menjawab, ‘berbakti kepada orangtua.’ Aku bertanya, lalu apa lagi? Beliau menjawab, ‘’berjihad di jalan Allah’.” (HR. Muttafaqun ‘alaih).

Tareket adalah jalan mencari keselamatan di akherat, sementara surga-neraka itu berada dalam genggaman ibu-bapak.

“Seseorang bertanya kepada Nabi, ‘Wahai Rasulullah, apakah hak kedua orangtua terhadap anaknya?’ Beliau menjawab, ‘Keduanya adalah surgamu dan nerakamu’”. (HR. Ibnu Majah)

Allah swt berfirman, “Allah telah menetapkan agar kalian tidak mengabdi kecuali kepada-Nya, dan berbaktilah kepada kedua orangtua.” (QS Al-Israa: 23).

Tarekat adalah jalan menapaki tasawuf. Sementara inti tasawuf adalah tauhid dan akhlak. Syaikh Abdul Qadir al Jailani berpetuah, tasawuf adalah kokohnya keyakinan kepada Allah dan kemuliaan akhlak kepada sesama mahluk. Bertarekat adalah menumbuhkan benih tauhid dalam dada, sekaligus memperindah akhlak kepada sesama mahluk Allah. Dan mahluk terdepan yang harus dipergauli dengan akhlak terbaik, selain Nabi SAW, adalah ibu dan bapak kita.

Rekomendasi
Komentar
Loading...