Saat Abah Sepuh Mendapat Ijazah Shalawat Bani Hasyim

Sebagai umat nabi Muhammad Saw, bershalawat kepada beliau adalah keniscayaan. Bukan hanya sebagai kewajiban, tapi sebagai bentuk syukur dan kecintaan serta kerinduan kepada beliau.

Dari sini lahir aneka bentuk shalawat dengan redaksinya yang beragam. Salah satu bentuk shalawat itu bernama shalawat Bani Hasyim.

Shalawat Bani Hasyim bisa dibilang shalawat khas ikhwan TQN Pontren Suryalaya. Apa sebab? Karena shalawat ini biasa dilantunkan oleh mereka yang menjadi murid TQN Pontren Suryalaya.

Sulit ditemukan shalawat ini di luar lingkungan ikhwan TQN Pontren Suryalaya. Karena shalawat ini biasa dilantunkan dan digaungkan di majelis-majelis dzikir khatam dan manaqib sebelum atau pun setelah kegiatan berlangsung, bahkan selesai shalat fardhu pada saat mushafahah dan dibaca jelang adzan lima waktu.

Dalam buku Himpunan Shalat Sunat Lengkap (HMA. Sodikin Faqih), bacaan berikut ini dinamakan Shalawat Bani Hasyim.

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى النَّبِيِّ الْهَـاشِمِيِّ مُحَمَّدٍوَّعَلَى الِه وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا

“Ya Allah, berikanlah rahmat serta salam kepada seorang nabi keturunan Bani Hasyim, yakni Muhammad beserta keluarganya, semogalah tetap selamat dan sejahtera.”

Kamaludin Koswara menceritakan dalam blognya yang bersumber dari Ayi Abdul Jabbar, “Kehebatan Shalawat Bani hasyim”, Nuqthoh: Bacaan Pembuka Hati. No. 7 Tahun IV. 1 Syaban 1426 H. (Ciamis, September 2005).

Bahwa, suatu ketika, KH. Otong Sidik Djayawisastra (wakil talqin) tengah mendapat kesulitan besar dan menghadap Pangersa Abah Anom, beliau menjawab dengan sebuah sya’ir berbahasa Arab yang artinya:

“Kalau mendapat sebuah kesulitan: pagi sudah rumit, sore makin sempit bacalah shalawat Bani Hasyim sebanyak-banyaknya, nanti Allah akan melepaskan kesulitan itu sebesar apapun besarnya seberat apapun beratnya sehingga pedang pemenggal leher pun (gouletin) bagi orang yang dihukum penggal kepala tidak akan turun”.

Awal ijazah Shalawat Bani Hasyim pun sudah mengandung kisah luar biasa. Diceritakan waktu itu, Abah Sepuh mendapat tugas dari gurunya Mama Agung Syekh Tholhah Kalisapu Cirebon untuk bertabarruk belajar shalawat Bani Hasyim kepada ahlinya yaitu Syaikh Kholil Bangkalan Madura, Abah Sepuh harus berjalan kaki dari Cirebon ke Madura bersama 11 orang murid-murid Syekh Tolhah lainnya, jadi semuanya berjumlah 12 orang.

Singkat cerita, sampailah mereka ke Alas Roban (hutan yang sangat lebat berada antara Pekalongan dan Kendal), waktunya bertepatan saat Maghrib. Ke dua belas orang itu semua memasuki masjid yang saat itu ada orang tua yang sudah berdiri untuk menjadi imam. Orang itu lantas membaca niat dengan bacaan: “Usholli fardlu magribi, pitik ireng, pitik putih, wedus gembel, menda, kebo, pada melebu kabeh. Maring kandange, Allahu Akbar” (Niat saya shalat magrib, ayam hitam, ayam putih, kambing, domba, kerbau semua masuk kandang masing-masing, Allahu Akbar). Baca juga…

Spontan, seluruh rombongan bubar, kecuali Abah Sepuh. Begitu mendengar imam membacakan hal itu dan mereka langsung kembali ke Cirebon. Begitu selesai shalat, Imam menoleh kepada Abah Sepuh yang tinggal seorang diri. Selanjutnya imam berkata sambil tersenyum: “Oh memang koyongono angger wong nganggo otak. Sampeyan Insya Allah berhasil”. (Begitulah orang yang menggunakan otak, kamu pasti berhasil). Kenapa Abah Sepuh tetap bermakmum? Sebab beliau cerdas dan mengetahui sekalipun imam mengucapkan seperti itu, shalat tetap sah sebab ucapan tersebut dilakukan di luar shalat.

Sampai di Bangkalan, ia langsung diijazah shalawat Bani Hasyim oleh Syaikh Kholil. Saat pulang, beliau diantar ke tepi pantai dan disediakan perahu yang hanya muat untuk seorang diri. Beliau mencari-cari pendayung tetapi tidak menemukan bahkan dayungnya pun tidak ditemukan pula. Akhirnya dengan penuh keyakinan, beliau niat membaca Bani Hasyim.

Subhanallah, tiba-tiba perahu bergetar dan mulai bergerak-gerak saat baru dibaca, “Allahumma”, ibarat perahu boat dinyalakan mesinnya kalau jaman sekarang. Abah Sepuh berpikir, pastilah shalawat Bani Hasyim dayungnya. Begitu selesai pembacaan shalawat bani Hasyim, tiba-tiba perahu melesat ke arah barat hingga sampai ke Cirebon. Di Pantai Cirebon, Mama Guru Agung menyambut murid terbaiknya yang telah berhasil menjalankan tugasnya.

Dengan demikian shalawat Bani Hasyim ini memiliki faedah yang besar apabila diamalkan, tergantung situasi dan kebutuhan. Sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah Saw bersabda:

“Siapa yang bershalawat kepadaku, shalawatnya sampai padaku, dan aku bershalawat padanya (mendoakannya) dan dicatat baginya sepuluh kebaikan”. (HR. Thabrani dalam Kitab Al Awsath). Baca juga…

Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa, “siapa yang bershalawat pada Nabi satu kali, maka Allah dan para malaikat-Nya bershalawat padanya tujuh puluh kali ( yakni memberikan rahmat dan mendoakan serta memohonkan ampun)”. (HR. Ahmad).

Dalam Kitab At Targhib, diriwayatkan oleh Imam An Nasai, At Thabrani, Al Bazzar. Nabi bersabda: “Siapa yang bershalawat padaku dari umatku serta tulus dari qalbunya, maka Allah membalas shalawatnya sepuluh kali, Allah angkat sepuluh derajat, Allah catatkan baginya sepuluh kebaikan, dan Allah hapuskan baginya sepuluh keburukannya”.

#abahsepuh #banihasyim #ijazah

Rekomendasi
Komentar
Loading...