Safari Dakwah Tasawuf – Sulawesi Utara (Hari II)

Kotamobagu – Hari kedua safari dakwah tasawuf di Kotamobagu diawali dengan kuliah shubuh di masjid At-Tira, Jl. Fajar Bulawan, Mogolaing. Sebelum menyampaikan kajian, Ust. Handri Ramadian, Sekretaris Yayasan Serba Bakti PP Suryalaya Korwil DKI Jakarta memperkenalkan tim yang berangkat.

Ust. Handri menyampaikan kisah keutamaan menahan marah. Sahabat nabi, Abu Bakar Ra saat sedang bersama Rasulullah Saw pernah didatangi dan dimarahi oleh seorang Arab Badui. Pada awalnya Abu Bakar Ra mampu tersenyum namun akhirnya terpancing emosi. Saat itulah Rasulullah Saw meninggalkan Abu Bakar Ra.

Abu Bakar Ra bertanya kepada Rasulullah Saw sebab meninggalkannya. Rasulullah saw mengungkapkan saat Abu Bakar Ra mampu menahan marah, malaikat mengelilingi dan mendoakannya. Namun saat Abu Bakar Ra terpancing emosinya, malaikat pergi meninggalkannya dan Iblis menghampirinya.

“Jadi bapak, ibu jika tergerak untuk marah, upayakan ingat kepada-Nya agar kita mendapat rahmat,” ujarnya kepada jamaah.

Kajian dhuha disampaikan oleh Kyai Wahfiudin. Wakil Ketua Komisi Pendidikan & Kaderisasi ini menjelaskan konsep rukun agama; Islam Iman Ihsan. “Rukun ihsan saat ini kembali marak dikaji setelah cukup lama hilang dalam pembahasan di masyarakat,” ujarnya.

Di akhir kajian Kyai Wahfiudin memberikan talqin dzikir. “Insya Allah jika bapak, ibu istiqamah mengamalkan, Allah Swt akan karuniakan keberkahan dalam hidup kita. Selamat menjalani kehidupan baru,” tutur Ia menambahkan.

Malam hari selepas Isya, Kyai Wahfiudin menghadiri acara halal bihalal komunitas Puasa Senin Kamis (SAINS). Acara dihadiri sejumlah tokoh pemerintah dan agama.

Dalam sambutannya Wakil Walikota Kotamobagu Drs. H. Jainuddin Damopoli sangat mengapresiasi inisiatif komunitas SAINS Sulut atas terselenggaranya acara Halal Bihalal. “Semakin hari komunitas SAINS semakin besar. Mudah-mudahan akan lebih banyak muncul orang-orang shalih di Kotamobagu,” tuturnya.

Dalam ceramahnya Kyai Wahfiudin memaparkan kekuatan akhlak Rasulullah. Saat hijrah ke kota Yatsrib kondisi umat Islam saat itu dalam kondisi miskin dan lemah. “Karena kekuatan akhlak Rasul-lah, umat Islam dapat berkembang bahkan Rasul menjadi pemimpin di Yatsrib,” ungkap wakil talqin TQN Suryalaya.

“Piagam Madinah adalah konstitusi dengan konsep yang sangat unggul pada masanya. Karena mampu merangkum kehidupan lintas agama dan budaya dalam satu kesatuan,” tutur ia menambahkan. (Idn)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...