Sejarah Tasawuf

Perkembangan dakwah tasawuf dimulai setelah berakhir masa sahabat dan tabi’in. Pada masa mereka, dakwah ini belum dikenal karena memang belum dipandang perlu. Sebab merekalah orang-orang yang ahli takwa, ahli wara dan ahli ibadah pada zamannya. Secara fitrah dan sudah kehendak Allah, mereka terpanggil untuk bersikap seperti itu. Mereka mengenal dekat Nabi Muhammad SAW. Mereka selalu bersemangat meniru perilaku beliau di segala aspeknya baik lahir maupun batin.

Jadi, meski dakwah tasawuf pada masa itu tidak dikenal, karena memang belum menjadi nama suatu ilmu tersendiri, mereka sejatinya telah mengerjakan praktik-praktik tasawuf itu sendiri. Para sahabat tidak membutuhkan alat/perangkat khusus untuk menyerap aspek batin ajaran Nabi, karena mereka dapat meminumnya langsung dari sumbernya. Tasawuf masih merupakan realitas tanpa nama. Meski demikian, ia adalah satu sisi dari bangunan keberagamaan Nabi dan para sahabatnya.

Meskipun para sahabat dan tabi’in tidak menggunakan kata tasawuf, tapi pada parkteknya mereka adalah para sufi. Mereka adalah para praktisi tasawuf sesungguhnya. Yang dimaksud tasawuf tiada lain adalah, bahwa seseorang hidup hanya untuk Tuhannya, bukan untuk dirinya. Dia menghiasi dirinya dengan zuhud, tekun beribadah, berkomunikasi dengan Allah dengan ruh dan jiwanya di setiap waktu, dan berusaha mencapai berbagai kesempurnaan. Dia meraih apa yang telah diraih para sahabat dan tabiin, yakni tingkat spiritualitas tertinggi.

Para sahabat tidak hanya mengikrarkan iman dan menjalankan kewajiban-kewajiban. Mereka juga menyinari ikrarnya itu dengan perasaan, menambah kewajiban-kewajibannya dengan amal-amal sunnah, menjauhkan diri dari yang haram bahkan dari yang makruh. Sehingga mata hati mereka pun bersinar terang, percik-percik hikmah terpancar dari nurani mereka, dan rahasia-rahasia ilahiah berlimpah dalam jiwa mereka. Begitu halnya para tâbi’în dan tâbi at-tâbi’în (pengikut tâbi’în). Ketiga generasi itu adalah generasi emas dan sebaik-baik masa dalam peradaban Islam. Nabi bersabda, “Sebaik-baik generasi adalah generasi ini, kemudian generasi setelahnya dan generasi yang setelahnya lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di satu sisi, perluasan wilayah Islam dan persinggungannya dengan budaya dan ilmu pengetahuan negeri-negeri lain membawa dampak yang positif bagi umat Islam sendiri. Pada masa ini, perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam sangat pesat. Mereka mulai mengkodifikasi ilmu-ilmu pengetahuan. Lahirlah cabang-cabang ilmu seperti Nahwu, Fikih, Tauhid, Hadits, Ushul Fiqh, Tafsir, Faraid dan lain sebagainya.

Di sisi yang lain, perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi membawa dampak negatif. Pada masa ini justru spiritualitas/semangat ruhaniah Islam sedikit demi sedikit melemah. Umat Islam semakin menjauh dari agama, menjauh dari Allah SWT. Sedikit-demi sedikit ketaatan-ketaatan ritual kian dilalaikan. Badan, pikiran dan hati umat semakin larut dalam kesibukan mengurus kekayaan, barang-dagangan, kekuasaan, teknologi, pengetahuan dan hasrat-hasrat duniawi lainnya.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...