Sekaten, Selamat Datang Sang Kekasih

Dialah kekasih sejati, walau kami belum pernah bertatap muka. Saat ini umat Islam sedang berbahagia dengan hari kelahiran Nabinya. Maulid, adalah ungkapan sukacita, ungkapan cinta umat kepada Nabinya, Nabi yang menuntun mereka dengan penuh kasih sayang dan cinta. Dan Sekaten adalah adalah bentuk ekspresi cinta rakyat Jawa, khususnya Yogyakarta kepada Kekasih NYA.

Travelling kali ini saya berjumpa dengan seorang Mbah Kakung yang masih menganut Kejawen. Bermula dari perjalanan menyisir daerah pantai: ada semacam candi Hindu, tokoh cerita Ramayana dan pengasuh para Pandawa; orang-orang yang menyebut hari dengan tambahan kata Kliwon; dan banyak lagi yang sempat saya dengar sampai seorang pengendara becak di alun-alun utara menjelaskan arti kalimat di gapura Sekaten, “Berlangsung selama sebulan, dari bulan Suro–Sapar,” begitu yang saya dengar. “Hadooohhh saya cuma tahu bulan Januari–Desember, musim hujan dan kemarau,” begitu saya membatin. Nah, daripada saya membatin dengan banyak pertanyaan yang menguing di kepala, datanglah saya kepada mbah yang enggan ditulis namanya itu.

Kalau diizinkan, saya memakai dua kata, Skema Spiritual, yaitu yang terbagi menjadi dua inti: “tarekat”—mencari dan “hakikat”—menyimak. Apa yang dicari dan apa yang disimak? Manusia adalah ciptaan Tuhan yang memiliki nyaris kesempurnaan, diberi akal dan sanubari.

Kekusutan emosi manusia biasanya terjadi karena kurang selarasnya pikiran dan hati nurani. Perlu membuka ”pancer” (sukma sejati/sanubari) dengan menyepi, mengadakan komunikasi dengan Sang Pencipta, menjalankan indra keenam yang sudah tertutup polusi.

Pada waktu Islam belum masuk ke tanah Jawa, masyarakat melakukan kebiasaan mengagungkan kebesaran Tuhan dengan melakukan ritual yang sangat primitif, berdoa di hadapan pohon, misalnya. Sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan bangsa Barat dahulu silam, di Athena kepada Dewa Zeus, misalnya. Tradisi lain yang dilakukan adalah penyucian benda-benda pusaka, benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan luar biasa pada hari-hari yang dianggap keramat.

Penanggalan di Jawa masih berlaku sistem pasaran atau weton, yaitu Pon, Wage, Kliwon, Legi dan Pahing. Pasaran di Jawa memiliki nilai yang kita kenal dengan hitungan Jawa dari primbon. Hal ini masih digunakan di kehidupan “modern”, misalnya untuk menghitung tanggal baik untuk pernikahan. Tak hanya weton yang diperhatikan, tapi juga bulan-bulan yang diyakini baik untuk melakukan pernikahan. Bulan di tradisi Jawa ada 12, yaitu Suro, Sapar, Maulud, Ba’daa Maulud, Djumadilawal, Djumadiakhir, Rejeb, Ruah, Poso, Syawal, Dhulkhaidah dan Besar. Uhuy! Akhirnya saya tahu nama-nama bulan yang dimaksud oleh tukang becak di alun-alun Keraton Yogyakarta.

Sekaten berasal dari kata Syahadatain, yaitu acara peringatan ulang tahun Nabi Muhammad Saw. yang diadakan setiap tanggal 5 bulan Maulud di alun-alun utara Yogyakarta (juga di alun-alun Surakarta secara bersamaan). Upacara itu dulunya dipakai oleh Sultan Hamengkubuwono I, pendiri Keraton Yogyakarta, untuk mengundang masyarakat mengikuti dan memeluk agama Islam. Upacara diisi dengan berbagai kegiatan.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...