Sekaten, Selamat Datang Sang Kekasih

Pada hari pertama, malam hari, iring-iringan abdi dalem (punggawa kraton) mengangkat secara bersama-sama dua set gamelan Jawa: Kiai Nogowilogo dan Kiai Gunturmadu. Iring-iringan itu bermula dari Pendopo Ponconiti menuju Masjid Agung di alun-alun utara dengan dikawal oleh prajurit Kraton. Kiai Nogowilogo menempati sisi utara Masjid Agung, sementara Kiai Gunturmadu di Pagongan sebelah selatan. Kedua set gamelan itu dimainkan secara bersamaan sampai tanggal 11 bulan Mulud selama 7 hari berturut-turut, dan disiarkan hingga sepanjang Malioboro sehingga semakin menambah nuansa budaya pada atmosfer Yogyakarta.

“Mbak, berhenti di sini dulu boleh nggak? Aku belum pernah makan kerak telor, mau coba biar tahu,” Dian yang menemani saya ke pasar malam Sekaten meminta saya berhenti di salah satu penjaja makanan di area itu. Kerak telor adalah makanan khas Betawi yang terbuat dari beras ketan yang dibakar/digoreng dengan telor dan ditaburi serundeng. Enak sekali dimakan panas-panas. Heran, kan, kenapa makanan daerah Jakarta ada di pesta rakyat Yogyakarta?

Tak perlu bingung, karena memang hampir setiap Pemda yang memiliki program pesta rakyat mengundang berbagai daerah lain untuk mengirimkan perwakilan guna turut serta memeriahkan acara di kota mereka. Para pengunjung jadi mengenal berbagai makanan khas daerah lain. Cukup menarik dan menghibur, potret kesederhanaan yang menyentuh dan mengusik hati saya. Saya jadi tercenung, betapa sederhana tujuan Sultan sebagai pemimpin di negeri Yogyakarta ini: membuat rakyat bahagia! Apa harta paling berharga bagi insan manusia di bumi? Kebahagiaan!

Pada hari Senin bulan April tahun 571, bumi memancarkan sinar yang berbeda, bunga warna-warni, burung-burung kecil, semua bintang muncul di langit, pemandangan yang sulit untuk dirangkai dalam kalimat. Semua orang bersuka cita, seseorang yang sudah mereka tunggu-tunggu datang malam itu. Dari dalam sebuah rumah sederhana cahaya terang memancar, seorang wanita bernama Aminah sekuat tenaga berjuang mengeluarkan bayi dalam rahimnya. Ketika bayi itu lahir, sungguh dia adalah bayi lelaki paling rupawan sejagat raya! Sang kakek pun beranjak menghampiri dan memeluknya.

“Mari kita beri nama dia Muhammad! Semoga kelak cucuku ini disukai dan dipuji di mana pun!” Cerita mengembirakan itu berasal dari kisah 365 Hari Bersama Nabi Muhammad. Nabi yang dijanjikan oleh Tuhan YME akan menyelamatkan dunia yang kacau balau kala itu. Sungguh mengharu biru, sebuah penantian panjang dengan banyak harapan baik untuk masa depan. Terbukti memang apa yang diharapkan kakek Abdul Muthalib kepada cucu lelakinya. Yogyakarta beribu tahun kemudian bersuka cita memperingati lahirnya Muhammad yang kemudian kita sebut dengan Rasullah Saw.

Sekaten layak menjadi salah satu catatan dalam keistimewaan Yogyakarta. Puncak acara Sekaten ditandai dengan keluarnya sejumlah gunungan yang disebut Gerebeg Maulud, yang pada dasarnya menggambarkan sedekah raja kepada rakyat dan menyimbolkan kesejahteraan. Sebuah pemukiman indah di permukaan samudra, semoga rajanya bersuka ria dan menikmati pesta-pesta agung bersama rakyat mereka.

Lalu, saya hanya mampu mengucapkan, “Selamat datang, kekasih sejati putri Khadeeja!” Kini, saatnya mengisi seluruh hati kita dengan sosok agung yang kita cinta, Sosok Nabi Muhammad tersayang. Bersama kami ungkapkan seluruh rasa cinta kami untukmu Duhai Junjungan, Shallallah alaika Ya Sayyidi Ya Rasulallah.

Setelah berpamitan dengan mbah kakung itu, saya membatin dan mencoba siap bertatap muka dengan pujaan hati saya yang sesungguhnya; memantaskan diri ini yang kotor oleh berlapis-lapis debu dari pasir pantai pesisir selatan. (ans)

Rekomendasi
Komentar
Loading...