Sekelumit Kisah KH Wahfiudin Dakwah Sufistik di Eropa (1)

Jakarta – Keberangkatan Wakil Talqin TQN Suryalaya, KH Wahfiudin Sakam bersama istri ke Eropa pertengahan Oktober kemarin punya banyak kisah yang menarik. Safari dakwah untuk membumikan kalimat tauhid dimulai tanggal 16 oktober hingga 6 november 2015 dengan destinasi kota Amsterdam – Prague – Bratislava – Saarbrucken – Zurich dan Dublin.

Sekelumit kisah perjalanan Wakil Sekretaris Divisi DIKLAT dan Pengkaderan Lembaga Dakwah PBNU ini disampaikan oleh H. Gusrif saat dzikir khatam di TQN Center Masjid Al Mubarak Rawamangun kamis (29/10). Kyai Wahfiudin mengirimkan kisahnya melalui WhatsApp dengan fasilitas voice note.

Selepas mendarat di Amsterdam jumat (16/10), Kyai Wahfiudin disambut cuaca dingin dengan suhu 5 derajat celcius. Setelah menghangatkan diri di sebuah restoran yang dimiliki orang Indonesia, Kyai Betawi ini langsung masuk hotel untuk merancang berbagai kegiatan. “Alhamdulillah Allah berikan jalan. Banyak tujuan-tujuan yang belum ada konfirmasi, malam itu terbuka,” ujarnya.

Keesokan harinya Kyai Wahfiudin pergi mengunjungi komunitas muslim Indonesia di Rotterdam. Sebagian warga Indonesia di sana memiliki pasangan hidup orang Belanda. Mereka telah banyak mendapat pelajaran fiqih dan aqidah, berwawasan luas sehingga cepat dalam memahami perkembangan situasi global yang terjadi saat ini. “Namun ada dimensi yang hilang, yaitu ketenteraman dan kebahagiaan yang hakiki,” sambung dia.

Kyai Wahfiudin yang belum lama dilantik sebagai wakil ketua komisi pendidikan dan kaderisasi MUI pusat ini membuka kajian dengan materi ‘Mengenal Diri Menggapai Ilahi’. Materi ini memaparkan bagaimana memahami spiritualitas serta mengaktifkan qalbu dengan DIA. Dalam kajiannya, Kyai Wahfiudin menegaskan bahwa memantapkan tauhid bukan hanya secara ilmu dan melaksanakan ibadah-ibadah syariah saja. Namun bagaimana melibatkan rasa, kesadaran hingga terjadi ‘komunikasi’ yang intensif dengan DIA lalu mengalami spiritual experience. “Alhamdulillah talqin dzikir sudah diberikan, begitu juga buku panduan dzikirnya. Insya Allah mereka akan terus mengembangkannya.” lanjutnya.

Beberapa hari kemudian, hal yang sama terjadi di Den Haag. Kyai Wahfiudin menyampaikan jika muslim di sana memiliki sebuah masjid yang sangat besar, bekas gereja yang telah dibeli. “Komunitas mereka sangat kuat, secara sosial dan finansial, karena banyak dari mereka yang menikah dan ber-suamikan pejabat-pejabat pemerintahan,” cetus dia. Di Den Haag talqin dzikir dan buku panduannya juga telah diberikan. Bersambung…

(Idn)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...