Selamat Datang Ramadhan

Marhaban Ya Ramadhan! Tidak lama lagi kita memasuki bulan yang penuh dengan ampunan, penuh dengan keberkahan dan kemuliaan. Di bulan ini umat muslim melaksanan ibadah puasa selama satu bulan penuh dengan tujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

Pelaksanaan ibadah ramadhan tahun ini tidak seperti biasanya. Dunia sedang mengalami pandemi Covid-19. Dalam suasana seperti ini kita tetap bisa memaknai ibadah puasa untuk menanamkan nilai-nilai spiritual.

Manfaat Puasa

Pertama, puasa meningkatkan kepekaan terhadap sesama. Menahan lapar dan dahaga, memunculkan kepedulian terhadap orang-orang yang berkekurangan dalam memenuhi nafkahnya.

Kedua, puasa melatih untuk sabar, mampu mengendalikan emosi dari rasa marah dan benci kepada orang lain. Ketiga, puasa melatih hidup disiplin. Praktek shalat tepat waktu, santap sahur dan buka puasa, dan ibadah-ibadah lainnya melatih kita disiplin beribadah kepada Allah Swt.

Keempat, puasa melatih rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan. Saat berbuka puasa, betapa nikmatnya segelas air, buah dan nasi yang kita makan. Itu semua adalah rezeki dari Allah Swt. Kelima, puasa meningkatkan keimanan dan membuat tubuh sehat jasmaninya.

Puasa Secara Psikologis

Secara psikologis, puasa memiliki dampak yang luar biasa terhadap aspek kognitifafektif dan psikomotorik.

Dari aspek kognitif, puasa membuat pikiran menjadi tenang dan mudah dikendalikan. Kita lebih mudah berpikir jernih dalam mengambil keputusan karena senantiasa mengingat Allah Swt dan bertafakur atas segala nikmat dan ciptaan-Nya.

Prof. Dr. H. Armai Arief, M.A. bersama istri.

Dari aspek afektif, puasa mampu mengendalikan emosi dan hawa nafsu yang selama ini membelenggu. Diri menjadi lebih tenang, sabar, empati serta bersyukur atas nikmat Allah Swt.

Dari aspek psikomotorik, puasa melatih kita meningkatkan amal ibadah, baik ibadah wajib maupun sunnah. Muncul kepekaan terhadap orang yang kurang mampu. Kita lebih tergerak untuk bersedekah dan membantunya secara moral maupun materi.

Pendidikan Keluarga

Puasa merupakan salah satu sarana yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai agama dalam keluarga. Terlebih lagi dalam suasana #dirumahaja karena Covid-19. Kita memiliki banyak waktu untuk berkumpul bersama.

Hubungan dan komunikasi antar sesama anggota keluarga lebih erat terjalin. Inilah saat yang tepat menanamkan nilai-nilai ruhani keagamaan. Kita bisa melakukan ibadah berjamaah dari waktu sahur hingga malam hari. Sepanjang hari itu diisi dengan tadarus quran, sedekah, kajian dan kegiatan yang bermanfaat lainnya.

Momen jelang berbuka puasa bisa digunakan untuk menanamkan pendidikan keagamaan. Ajak anggota keluarga menyimak kajian dari televisi, radio, atau mungkin juga youtube. Bisa juga kajian dibawakan oleh salah satu anggota keluarga, yang lain menyimak dan melengkapi. Kajian bisa dalam konsep sharing sesuatu yang ringan, sederhana namun bermanfaat.

Shalat berjamah adalah suasana yang sangat harmonis. Semua terlibat dalam rangkaian doa, saling bersalaman. Sebelum atau setelah shalat berjamaah bisa diisi dengan tadarus quran. Anggota keluarga saling melengkapi, mengajarkan dan mendengarkan bacaan al-Qur’an anggota lainnya. Bisa diperkaya dengan tadabbur agar nilai-nilai di dalam al-Quran lebih dekat dengan seluruh anggota keluarga.

Ilustrasi keluarga muslim. (Foto: dar-alifta.org).

Tingkatkan kepedulian sosial dengan mengajak anak-anak bersedekah kepada fakir miskin. Jelaskan pentingnya sedekah, membayar zakat fitri dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Harapannya, semua aktivitas positif yang dilakukan sepanjang ramadhan dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan hingga ramadhan yang akan datang.

Reward dan Punishment

Kemudian puasa pada saat pandemi Covid-19 dapat menjadi pembelajaran yang efektif bagi anak. Konsep reward and punishment  bisa diterapkan. Berikan reward bagi anak yang mampu menjalankan puasa dan punishment  bagi yang malas. Bentuk reward and punishment disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing keluarga.

Hal terpenting adalah munculnya kebiasaan-kebiasaan positif yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Pendidikan keluarga bukan hanya dilakukan kepala keluarga, namun keterlibatan semua anggota keluarga.

(Prof. Dr. Armai Arief M.Ag., Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat, Ketua Kordinasi Bidang Pendidikan dan SDM Insani ICMI Pusat)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...