Seorang Sufi Harus Pemberani

Syu’aib bin Harb adalah seorang Sufi dari Madain, Irak yang hidup pada abad 8-9M. Suatu hari, Syaikh Syuaib sedang berada di Makkah. Beliau melihat rombongan Khalifah Harun ar-Rasyid.

“Inilah saat yang tepat aku melepas kewajiban menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar,” gumamnya dalam hati.

Saat rombongan khalifah mendekat, Syuaib berseru, “Hai, Harun! Engkau sudah menyusahkan rakyatmu. Sekarang engkau menyusahkan pula binatang kendaraanmu!”

Khalifah marah dan langsung menyuruh anak buahnya menyeret pria lancang itu ke hadapannya. Khalifah Harun sudah siap duduk di sebuah kursi bertahta permata dan sebilah cambuk di tangannya.

“Dari golongan mana orang ini?” tanya khalifah.

“Dari golongan manusia-manusia fana.”

“Apakah engkau anak buangan ibumu?” tanya khalifah.

“Aku ini anak Adam.”

“Mengapa engkau memanggilku dengan nama kecilku?” tanya khalifah geram.

“Tuhan pun aku panggil dengan namanya sendiri,” jawab Syu’aib. “Aku memanggilnya ‘Ya Allah’, ‘Ya Rahman’. Mengapa aku tidak boleh memanggilmu dengan namamu? Apa yang menghalangiku memanggil nama aslimu? Bukankah kau tahu Tuhan memanggil mahluk-Nya yang tercinta dengan nama yang sederhana ‘Muhammad’? Mengapa pula aku harus memanggilmu dengan gelar, sementara Tuhan memanggil mahluk-Nya yang sangat dicintai-Nya itu dengan nama biasa.”

“Apakah engkau suka aku panggil dengan gelar, seperti Tuhan memanggil mahluk yang dibencinya engan gelarnya, Abu Lahab!”

Mendengar itu semua, Khalifah Harun berkata, “Keluarkanlah orang ini!”

Hikmah

Sebagai seorang Sufi, Syaikh Syu’aib adalah seorang yang zuhud. Dalam ajaran tasawuf, zuhud adalah di antara sifat yang harus dimiliki seorang Muslim yang ingin mendekat kepada Allah. Zuhud adalah, seperti menurut Syaikh Abu Utsman, “meninggalkan dunia dan tidak memperdulikannya.”

Sementara menurut Syaikh Ibn al-Jala, zuhud itu “Memandang dunia dengan sebelah mata untuk kemudian mencampakkannya.

Dalam zuhud, dunia diperlakukan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar hidup. Bagi seorang zahid (pelaku zuhud), pakaian, harta, keluarga, jabatan dan berbagai elemen dunia lainnya hanyalah fasilitas untuk beribadah. Kerja lahir dan kondisi batin difokuskan pada ingatan dan pengabdian kepada Allah swt.

Maka, definisi zuhud yang lain dari Syaikh Abu Sulaiman ad-Darani adalah, “meninggalkan apa-apa yang dapat menyibukkan diri dari mengingat Allah”. Sebab, harta-benda, kekuasaan dan beragam elemen dunia lainnya bersifat melalaikan. Banyak manusia tenggelam dalam kesibukan mengejar dunia. Ia lupa pada Allah, dan akhirnya cenderung acuh dan ingkar pada aturan-aturan-Nya. Inilah akar kesesatan kebanyakan manusia dari jalan Allah.

Namun, sebagaimana ajaran tasawuf lainnya, objek ajaran zuhud adalah pembersihan diri sendiri, tepatnya qalbu/hati nurani dari segala sesuatu selain Allah. Dalam arti, sementara tubuh berada di dunia dan beraktifitas di dalamnya, qalbu tetap ingat dan sadar akan kehadiran Allah. Sebagaimana yang digambarkan Allah dalam firman-Nya, “Sungguh, Aku ciptakan manusia, dan Aku mengetahui setiap bisikan dalam dirinya. Aku ini dekat, lebih dekat dari pada urat lehenya” (QS. Qof: 16).

Ketika qalbu selalu ingat dan sadar akan kehadiran Allah, maka segala aktifitas dalam hidupnya, baik duniawi maupun ibadah, tiada diniatkan selain untuk pengabdian kepada-Nya. Perjalanan zuhud menggiring manusia kembali kepada fitrah penciptaannya, “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan hanya untuk menghamba kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Ketika qalbu selalu merasakan kebersamaan dengan Allah, maka tiada yang dipatuhi dan ditakuti selain Allah swt. Kisah Syaikh Syu’aib tersebut menjadi teladan. Beliau sadar, menegakkan kebenaran dan melawan kemungkaran adalah kewajiban dari Allah. Sementara penderitaan rakyat di sekitarnya yang beliau saksikan adalah akibat keserakahan Khalifah Harun ar-Rasyid. Berbekal rasa takut dan tunduk hanya kepada Allah, beliau berani menasehati Khalifah.

Penguasa dan kekuasaan adalah bagian dari dunia. Dalam hidup, kita tidak mungkin bebas dari relasi kekuasan. Jika berposisi sebagai penguasa, seorang zahid akan menjadikan kekuasaan itu sebagai sarana pengabdian kepada Allah. Jika berposisi di bawah kekuasaan orang lain, sikap apapun yang diambilnya terhadap penguasa, bukan karena menuruti hawa nafsunya, tetapi karena ketaatan pada perintah Allah dan teladan Rasulullah saw.

Oleh: Cecep Zakarias El Bilad

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...