Shalat Nishfu Sya’ban: Sunnah yang Dibid’ahkan

Pertanyaan Ketiga:

Terlebih lagi dalam shalat Nishfu Sya’ban, mereka menetapkan jumlah 100 rakaat. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasul.

Ada beberapa alasan mengapa saya shalat Nishfu Sya’ban 100 rakaat:

Karena shalat Nishfu Sya’ban termasuk shalat Muthlaq, maka jumlahnya bebas. 10 rakaat boleh, 20, 30, bahkan 100 rakaat juga boleh. Kalau kita sanggup 1.000 rakaat juga tidak ada yang melarang, karena shalat Muthlaq. Mengapa kita berani melarang jumlah tertentu dalam shalat Muthlaq? Apakah kalau 99 rakaat boleh, 101 juga boleh lalu khusus 100 rakaat tidak boleh?

Nabi SAW pernah berkata kepada Bilal, sesudah mengerjakan shalat Shubuh sebagaimana berikut: “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku amalan yang engkau kerjakan dalam Islam yang penuh dengan pengharapan karena aku mendengar suara sandalmu di depanku di syurga”. Bilal menjawab tidak pernah aku melakukan suatu perbuatan yang saya harapkan kebaikannya, melainkan pasti aku bersuci dahulu, baik saatnya malam hari atau siang hari. Sesudah aku bersuci aku melakukan shalat sebanyak yang dapat kulakukan”. (HR. Imam Bukhari dan Muslim).

Jabir bin Hayyan, penemu ilmu Kimia sekaligus orang pertama memperoleh julukan Sufi, melakukan shalat Muthlaq 400 rakaat sebelum memulai penelitian. Kalau ada seseorang menganjurkan untuk shalat nisfu Sya’ban 77 rakaat karena dia senang dengan angka 7, boleh saja. Namun daripada saya mengikuti dia, lebih baik saya mengikuti para ulama yang shalih.

Banyak ulama-ulama shalih yang ahli ma’rifat seperti Syekh Abdul Qadir Jailani qs. melakukan shalat Nishfu Sya’ban 100 rakaat, begitu pula dengan imam Ghazali dan ulama lainnya. Maka tidak ada salahnya jika kita mengikuti beliau. Firman Allah SWT, “Dan ikutilah jalannya orang yang kembali kepada-Ku.” (QS. Luqman, 31:15).

Jumlah 100 rakaat ada hadisnya. Meskipun banyak orang yang menolak hadis tersebut. Namun Imam Ahmad berkata, “hadis dhaif lebih aku sukai daripada pendapat pribadi seseorang”.

Pertanyaan Keempat:

Bacaan dalam shalat Nishfu Sya’ban (al-Ikhlash 10 kali setelah al-Fatihah, sehingga dikallikan 100 rakaat menjadi 1.000 kali membaca al-Ikhlash) adalah bacaan yang mengada-ada. Tidak pernah dilakukan juga oleh Rasulullah SAW.

Bacaan yang dibaca dalam shalat nisfu Sya’ban setelah al-Fatihah terserah. Ayat manapun termasuk al-Ikhlas boleh dibaca dalam shalat asalkan ayat al-Qur’an. Tidak ada juga ketentuan bahwa surat al-Ikhlash tidak boleh dibaca beberapa kali dalam satu rakaat.

“Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an.” (QS. Al-Muzammil: 20)

Imam masjid Quba selalu membaca surat al-Ikhlash setiap selesai fatihah, ia selalu menyertakan surat al-Ikhlash lalu baru surat lainnya, lalu makmumnya protes, seraya meminta agar ia menghentikan kebiasaanya, namun Imam itu menolak, silahkan pilih imam lain kalau kalian mau, aku akan tetap seperti ini, maka ketika diadukan pada Rasulullah SAW, maka Rasulullah SAW bertanya mengapa kau berkeras dan menolak permintaan teman temanmu (yg meminta ia tak membaca surat al-ikhlash setiap rakaat), dan apa pula yg membuatmu berkeras mendawamkannya setiap rakaat?” ia menjawab: “Aku mencintai surat al-Ikhlash”, maka Rasul saw menjawab : “Cintamu pada surat al-Ikhlash akan membuatmu masuk surga” (Shahih Bukhari hadits no. 741).

Kesimpulannya, shalat Muthlaq pada malam Nishfu Sya’ban secara berjamaah sebanyak 100 rakaat dengan membaca surat Al-Ikhlash 10 kali setiap selesai Fatihah dibolehkan. Jangan sampai kita mengharamkan apa yang dihalalkan Allah SWT. Jika Nabi SAW saja tidak boleh apalagi kita.

Entah kapan dan dimana peringatan Nishfu Sya’ban pertama kalinya dilakukan dengan ritual peribadatan membaca tahlilan, membaca surat Yasin, dan membaca do’a Nishfu Sya’ban. Yang jelas masyarakat muslim di Mesir dan di Yaman telah melaksanakannya seperti itu dan menjadi tradisi. Padahal, hal itu tidak pernah dilakukan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW dan ini betul-betul merupakan hasil kreasi atau ijtihad para ulama saja.

Ritual peribadatan Nishfu Sya’ban kemudian masuk ke Indonesia, khususnya ke Betawi, yang menurut perkiraan dibawa oleh para ulama atau habaib dari Yaman. Sehingga wajar jika ritual peribadatan Nishfu Sya’ban di Betawi khususnya, tidak jauh berbeda dengan yang ada di Yaman.

Di masyarakat Betawi, peringatan Nishfu Sya’ban seakan telah menjadi acara wajib seperti halnya Maulidan dan Rajaban, yang dilakukan di masjid dan mushala setelah shalat maghrib. Urutan peringatan Nishfu Sya’ban secara umum adalah sebagai berikut: Pertama, pemberian kata pengantar dari seorang ustadz atau kiai setempat yang berisi tentang perihal Nishfu Sya’ban; kedua, membaca tahlil; ketiga, membaca surat Yasin tiga kali yang setelah bacaan surat Yasin yang pertama dilanjutkan dengan berdoa meminta kepada Allah SWT Agar diberikan kesehatan dan diperpanjangkan umurnya, setelah bacaan surat Yasin yang kedua dilanjutkan dengan doa agar Allah SAW memberikan rezeki yang berlimpah dan halal. Setelah bacaan Yasin yang ketiga dilanjutkan dengan doa agar Allah SWT menetapkan iman dan Islam, dan keempat, membacakan doa Nishfu Sya’ban sekaligus menutup acara peringatan Nishfu Sya’ban.

Yang menarik dari peringatan Nishfu Sya’ban di Betawi adalah kegiatan tabarruk (mengambil berkah) yang dilakukan hampir oleh seluruh hadirin dengan meletakan air putih dalam kemasan di tengah-tengah tempat peringatan selama peringatan berlangung. Namun terlepas dari itu semua, Nishfu Sya’ban mempererat jalinan silaturahim dan kebersamaan menjelang datangnya Bulan Ramadhan.

Rekomendasi
Komentar
Loading...