Siapa Saja Yang Berhak Mendapatkan Talqin Dzikir?

Nabi Saw amat menekankan kepada sahabatnya untuk perhatian pada aspek batiniah ataupun qalbu. Perhatian yang besar terhadap aspek internal manusia yang pasti akan berdampak pada sisi eksternalnya juga diikuti oleh para ulama dari masa ke masa.

Lihat saja Imam Bukhari misalnya, dari ratusan ribu hadis yang beliau hafal dan kumpulkan tidak semua beliau susun dalam satu kitab. Melainkan beliau menyeleksinya secara ketat, yang kemudian beliau susun dalam Jami’ As Shahih Al Musnad min Hadis Rasulillah Saw wa Sunanihi wa Ayyamihi atau yang lebih dikenal dengan Kitab Hadis Shahih Bukhari. Lihat apa hadis pertama yang beliau muat?

Beliau memuat tentang hadis niat yang letaknya di qalbu. Imam Bukhari seakan ingin menekankan bahwa dalam segala sesuatu aspek batin atau qalbu menjadi prioritas utama yang harus diperhatikan.

Demikian juga dengan Syekh Abdul Qadir Al Jilani yang dikutip oleh KH. Ahmad Shahibulwafa Tajul Arifin dalam Miftahus Shudur, bahwa yang wajib bagi setiap manusia adalah mencari kehidupan qalbu ukhrawi dari ahli talqin di dunia sebelum lewatnya waktu (terlambat). Dunia itu ladang akhirat. Siapa yang yang tidak menanam di dunia, maka ia tidak akan menuai hasilnya di akhirat.

Artinya cara perhatian kita terhadap qalbu ialah dengan mendapatkan talqin dzikir. Karena menurut Abah Anom, Nabi Saw mentalqin kalimat thayyibah ini kepada para sahabatnya untuk membersihkan qalbu, menyucikan jiwa, serta mengantarkan mereka menuju hadirat Allah dan meraih kebahagiaan yang suci.

وكان النبي صلى الله عليه وسلم يلقن هذه الكلمة الطيبة للصحابة رضي الله عنهم لتصفية قلوبهم وتزكية نفوسهم وإيصالهم إلى الحضرة الإلهية والسعادة القدسية

Lalu Siapa Saja Yang Berhak Mendapatkan Talqin Dzikir?

Dalam Miftahus Shudur, Abah Anom tidak mengatakan bahwa talqin dzikir ditujukan untuk kelompok masyarakat tertentu. Dengan kalimat lain secara umum siapa saja berhak mendapatkan talqin dzikir.

Justru Pangersa Abah Anom berkata kembalilah kepada keluargamu dan informasikan kepada mereka bahwa talqin dzikir juga untuk diperuntukkan bagi masyarakat dunia dengan aneka profesi, pekerjaan dan mata penghasilan, bahkan untuk mereka yang memiliki pangkat, jabatan serta kedudukan. Talqin dzikir ini telah menjadi ketetapan di kalangan kaum salaf dan mujtahid thariqah, kendati hanya tabarruk (memperoleh keberkahan) atau berharap diakui masuk dalam jalur kesufian. Bukan untuk tujuan menempuh suluk dan pendidikan khusus.

Artinya beliau mengajak kepada kita semua memberikan kabar gembira kepada keluarga menyangkut talqin dzikir. Karena dzikir bisa membantu seseorang terhindar dari maksiat yang bisa menjerumuskan ke neraka. Sebagaimana perintah al Qur’an dalam surah At Tahrim ayat 6.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.

Lebih lanjut, pangersa Guru Mursyid TQN Pontren Suryalaya ini juga menerangkan bahwa talqin dzikir bagi sebagian ahli dunia dengan segala profesi dan kedudukannya itu, mulai dari orang kaya harta, pejabat terhormat, kaum profesional, pengusaha atau industrialis, pelaut, pedagang, pengembala, bahkan orang kampung dengan jalan tabarruk (mengharap berkah), bisa mengusir lalai dari qalbu yang keras, menghapus dosa, terhindar dari bahaya, selamat dari berbagai hal yang tidak diinginkan, dari keburukan, dari mala petaka sehingga qalbunya bersih.

Dengan talqin itu pula, seseorang akan merasakan kekhusuan, kembali memperhatikan negeri akhirat, tidak terlena dengan dunia, dan kemudian ia akan naik secara bertahap ke maqam taubat dan seterusnya.

Dari sini kita bisa melihat, bahwa pengersa guru agung Syekh Ahmad Shahibulwafa membuat kita memahami bahwa dzikir bukan penghambat bagi produktivitas seseorang apapun profesinya, apapun pangkat dan jabatannya. Karena dzikrullah bisa dilakukan di mana saja, kapan saja serta dalam kondisi apapun.

Rekomendasi
Komentar
Loading...