Spiritualitas Kaum Muda: Berani untuk Berkarya

Pelemahan rupiah terhadap dolar menjadi trending topic akhir-akhir ini. Dampak yang ditumbulkannya cukup luas, memengaruhi berbagai sektor ekonomi dan usaha. Tidak sedikit yang menyalahkan pemerintah, mengeluh terhadap keadaan namun tidak melakukan sesuatu untuk perubahan. Minimal untuk dirinya sendiri.

Di lain sisi, ternyata masih banyak orang-orang yang tetap optimis dan yakin dalam kondisi yang cukup berat ini. Salah satunya adalah kaum muda yang berani untuk berkarya, memberikan solusi bagi negeri.

Mungkin banyak dari kita yang belum pernah mendengar nama Nadiem Makarim, sosok kunci dibalik keberhasilan Go-Jek. Fenomena Go-Jek telah membius puluhan ribu orang untuk bergabung. Bagaimana kisah Nadiem mendirikan Go-Jek, disampaikannya dalam acara d’Preneur di Menara Bank Mega, Jakarta, Rabu (26/8/2015).

“Saya dididik dari kecil untuk kembali dan berkontribusi ke Tanah Air, walaupun seumur hidup lebih sering sekolah di luar negeri. Orangtua saya sangat nasionalis, dan karena itu passion saya untuk Indonesia sangat besar.” Maka selepas meraih gelar MBA dari sekolah bisnis nomor wahid di dunia, Harvard Business School, Nadiem kembali ke Indonesia.

Kesibukan bekerja selama di Jakarta, Nadiem memilh banyak menggunakan transportasi ojek dalam aktivitasnya. Dalam sehari bisa lima kali naik Ojek. Ada hal yang sering mengganggunya, biaya naik ojek seringkali ditembak. “Mungkin karena wajah saya bertampang Arab” celoteh pengusaha muda kelahiran 4 Juli 1984 ini.

Setelah melakukan penelusuran, ternyata biaya ojek yang tinggi dikarenakan sedikitnya order yang masuk alias waktu tunggu yang terlalu lama. Berangkat dari hal inilah dia termotivasi mencari solusi bagaimana agar waktu tunggu mendapatkan order bisa dipersingkat. Nadiem mempunyai impian besar agar pengendara ojek meningkat derajatnya, bukan hanya dari sisi pendapatan, namun juga harga diri. Nadiem pun memberanikan diri keluar dari perusahaan dan merintis usahanya.

Dalam menjalankan bisnis Go-Jek, pria yang pernah bergabung selama 3 tahun di lembaga konsultan ternama McKinsey & Company mengingatkan, bahwa fokus bisnis adalah untuk memberikan manfaat bagi orang banyak. Sisanya menyerahkan diri pada keberuntungan atau anugerah yang kuasa.

Dalam QS 9:128, kita dapat belajar tentang tiga (3) karakter utama Rasulullah:

  1. ‘Aziizun ‘alaihi maa ‘anittum, Ia merasakan dengan payah apa yang menjadi deritamu (empati). Hal ini mutlak harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Rasulullah selalu memikirkan bagaimana nasib umatnya. Ketertindasan kaum lemah oleh penguasa, kemiskinan dan perbudakan yang terjadi.
    Empati diwujudkan dengan melakukan penelitian, penelusuran, pengamatan, mengapa banyak yang menderita? Bagaimana kita bisa berkontribusi mengurangi penderitaan orang?
  2. Hariishun ‘alaikum, Ia sangat ingin untuk membaikkan keadaanmu (reformasi). Setelah Rasulullah mendapatkan petunjuk dari Allah, Beliaupun kembali turun ke masyarakat untuk melakukan aksi perubahan.
    Dalam kisah memulai usahanya, Nadiem mengakui bahwa banyak orang yang mempunyai ide dan pikiran yang sama dengan dia. Yang membedakan adalah, “saya melakukan eksekusi ide tersebut”.
  3. Bil mu’miniina rauufurrahiim, Terhadap sesama orang beriman, sangat besar cinta kasihnya. Rasulullah begitu mencintai umatnya sampai saat menjelang wafat, Sang Nabi membawa permohonan do’a kepada Allah agar menjamin umatnya di akhirat kelak.
    Seluruh upaya yang kita lakukan haruslah dalam koridor kecintaan kepada umat. Bagi yang sudah mulai usaha, bentuk kecintaan bisa dalam melakukan pelayanan yang baik terhadap pelanggan, promo yang menarik dan selalu memberikan kualitas terbaik.

Semoga akan banyak muncul anak-anak muda yang selalu mencari solusi bagi saudara-saudaranya yang menderita. Pemerintah mempunya peran, orang tua juga mempunyai peran sendiri. Dan begitupun generasi muda, Berani untuk Berkarya. (Idn)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...