Startup Agritech Ini Didirikan Karena Ingin Lebih Bermanfaat

Tanihub, sebuah startup yang bergerak di bidang agritech. Telah berhasil menyabet penghargaan Indonesia Original Brands Award 2020 dari SWA Media.

Dirintis sejak tahun 2016, startup ini mampu meningkatkan produksi petani hingga 30 % dan menaikkan pendapatan petani 50 %.

Bukan hanya itu, startup yang berawal dari ruko berukuran 3×4 m di kawasan Lenteng Agung ini telah menyalurkan dana masyarakat mencapai US$ 6,2 juta yang setara dengan 86,8 miliar rupiah untuk 140 proyek budidaya tanaman dan pembiayaan transaksi penjualan.

Ada tiga unit usaha yang dimilikinya, tanihub sebagai platform e-commerce hasil tani, tanifund untuk pendanaan mitra petani atau layanan peer-to-peer lending (P2P), dan tanisupply untuk pengelolaan rantai pasok.

Ivan Arie Sustiawan yang menjabat Ceo dan Co-Founder mengaku awalnya bergabung ialah karena panggilan jiwa bukan karena pertimbangan akal. “Panggilan jiwa ini yang kalau berhasil ya diridhai kalau tidak yang dicoba aja. Sesimpel itu,” ungkapnya.

Sebelum bergabung, ia sendiri sudah malang melintang selama 15 tahun di berbagai perusahaan. Tapi kemudian diminta untuk bergabung memimpin startup yang sudah bermitra dengan lebih dari 35 ribu petani.

Awalnya ia bertemu dengan anak muda yang hanya menjual mimpi. Tetapi karena believe system-nya meyakini bahwa hal ini adalah sesuatu yang akan besar. Akhirnya ia rela meninggalkan karir dan berjuang bersama anak muda lainnya yang bermodalkan harapan tanpa masa depan yang jelas.

“Anak-anak muda ini bukan memikirkan bagaimana agar mereka kaya. Tetapi mimpi mereka ialah agar lebih bermanfaat untuk orang banyak, dimulai dari uang yang sangat terbatas. Bisa dibilang modal nekat,” ucap Ivan.

Petani sempat menanyakan kepadanya di awal berjalannya startup ini, “mas kok kalian mau ya mengurusi kami di saat banyak pilihan kalian di kota?”

“Setiap orang punya pilihan dan pilihan itu tidak semata-mata karena materi. Dan pilihan ini yang kita ambil,” jawabnya.

Bahkan tak sedikit pula yang meremehkan (undersestimate) apa yang dilakukan anak-anak muda ini. “Mungkin perjalanan tidak akan mudah, tetapi kalau bukan kamu siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi?” yakinnya.

Motivasi Kekuatan Doa

Ivan mengungkapkan kepada timnya kekuatan apa yang membuatnya bertahan. “Tahukah kalian, yang buat kita maju ini? Itu doanya para petani. Bayangkan setiap lembar rupiah yang kita tambahkan ke mereka, itu doa mereka luar biasa. Dan doa meraka ada yang langsung di depan ada yang di belakang kita,” katanya.

Yang di depan kita menyampaikan sesuatu yang membuat terenyuh. Apa sih kamu untungnya membantu kita? Kenapa sih kamu membantu kita? Hal itu yang terus mereka tanyakan.

Ia menilai, doa tulus petani yang gak bisa dibayar dengan uang. Dan itu yang akan bisa diceritakan ke anak cucu ke depan. Dan itu yang membuat kami membangun tanihub bersama mereka.

Ivan bercerita bahwa embrio dari startup ini adalah social movement. “Mimpi kita adalah agriculture for everyone. Kita ingin siapa saja punya akses ke pertanian. Access to market and access to financial.

Ivan menambahkan bahwa pondasi dari startup ini adalah Agriculture, Technology dan Social impact. Sedangkan untuk valuesnya ada empat hal yang diterapkan dalam tim yaitu, people centric, fearless, transparency dan aligned autonomy.

Kolaborasi Untuk Inovasi

Selain itu, ivan juga menyatakan bahwa startup ini terus melakukan kolaborasi karena prinsipnya ialah learning is never ending process (belajar adalah proses yang tidak ada akhirnya).

Menurutnya, untuk terus melakukan inovasi, harus mau men disrupt diri kita sendiri supaya tidak kuno. Karena kalau kita kuno otomatis tempat kita di museum. Kita harus selalu menggali ilmu baru.

“Itulah kenapa kita kolaborasi dengan IPB untuk memunculkan ide-ide baru. Untuk bisa kita terapkan di pertanian kita yang nantinya bisa dinikmati bahkan oleh generasi setelah kita,” jelasnya.

Ivan mengingatkan bahwa mental sebagai pebisnis biasanya mental untuk mengalahkan. Kompetisi itu memang menciptakan market, tapi sering kali menghambat market. Sementara kolaborasi itu pasti menciptakan market dan meningkatkan pertumbuhan.

“Saya selalu bilang sama temen-temen, ada sisi di mana kita kuat di sisi ini dan kita lemah di sana. Kita gak mungkin kuat di segala lini, kita bukan superman,” pungkasnya.

Jangan Cari Bintang

Lalu ia juga berpesan bahwa di dalam tim kita tidak mencari bintangnya. Jangan pernah merasa diri sebagai bintang. Tapi sebagai pemain tim.

Inilah yang membuat temen-temen tidak ingin menonjolkan dirinya satu sama lain. Tapi bagaimana mereka memberikan kontribusi terbaik secara tim tanpa perlu menonjolkan diri sendiri.

Dalam memilih tim, Ivan lebih memilih mereka yang bisa beradaptasi dengan culture ketimbang yang hanya pintar dan berpengalaman.

Yang penting dalam menjalankan startup ini, kata Ivan adalah persiapkan mental, percaya akan impian yang besar dan impian itu bisa memberikan impact yang besar untuk orang lain dan diri sendiri.

“Banyak anak muda yang mau jalan dengan mengandalkan modal. Modalnya gimana nih? Gak bisa jalan kalau gak ada modalnya. Kalau ingat 4 tahun lalu, kita gak pernah ngebicarain modal uangnya. Cuma udah merasa yaudah kita jalanin aja, kita buat planningnya alhamdulillah ada jalan,” pungkasnya.

Apa yang dilakukan untuk memberikan manfaat seluas-luasnya bisa mendatangkan kebaikan yang lebih luas. Karena dalam Islam seseorang diukur dari seberapa luas kemanfaatannya bagi sesama. Sebagaimana sabda Nabi Saw, “sebaik-baik kamu ialah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Rekomendasi
Komentar
Loading...