Sudan Ajarkan Kami Tentang Cinta

Fase awal membangun Islam di kota penuh cahaya, Rasulullah Saw mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Keduanya memiliki banyak perbedaan; budaya, cara hidup, cara fikir, sifat dan watak. Persamaan hanyalah satu, sama-sama dalam bingkai syahadatain dan berada di bawah satu naungan yang sama, yaitu Islam.

Ada sebuah kisah yang tersohor sebagaimana yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik. Rasulullah mempersaudarakan sahabat mulia Abdurrahman bin Auf Ra yang saat itu belum beberapa lama tiba di Yastrib dengan sahabat mulia Sa’ad bin Rabi.

Abdurrahman bin Auf yang notabene adalah “mantan” milyarder Mekkah ditawari Sa’ad bin Rabi setengah dari apa yang ia miliki.

“Saudaraku, aku seorang terkaya di Madinah. Ambillah separuh hartaku yang kau suka, aku juga memiliki dua istri, pilih yang kau suka, dan nikahilah!”

Sungguh sesuatu hal yang “mustahil”kecuali ada akar keimanan yang tertancap kokoh dalam hati dua orang mulia ini.

Begitulah Rasul membangun Islam. Mempersaudarakan 2 kelompok yang berbeda, menyatukan batangan lidi yang berserak, mengumpulkan benih yang terpencar. Dan begitu pula lah yang kami rasakan di Sudan.

Sudan bagi kami ibarat Yastrib di masa awal hijrah. Sudan menyatukan kami yang tak sama, mempersaudarakan kami yang berbeda jalan. Bukan hal yang mustahil apa yang kita lihat dari kisah Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Rabi, karena itu nyata terjadi di negeri 2 nil ini.

Ikhwan TQN Pontren Suryalaya, studi di Omdurman Islamic University Sudan.

Kelak negeri ini akan kami rindukan karena hangatnya dekapan ukhuwah yang ditanamkan dan diajarkan pada kami. Kelak kami akan merindukan indahnya melihat senja dibarengi iringan manusia dengan latar belakang berbeda, manhaj berbeda, berjalan menuju pengajian yang sama. Kelak kami akan merindukan ketika ukhuwah tak lagi diukur dengan materi dan lembaran-lembaran juneh semata.

Kelak kami akan sangat merindukan bagaimana Sudan mengajarkan tentang cinta. “Cinta yang hakiki bukanlah cinta antara dua insan yang berbeda jenisnya, namun cinta seorang muslim lainnya yang saling bergandengan tangan menuju cinta dan ridha Allah SWT”.

(M Ruhiyat Haririe, Ikhwan TQN Pontren Suryalaya, Mahasiswa Omdurman Islamic University Sudan)

Rekomendasi
Komentar
Loading...