Suka Belanja Jadi Ciri Orang Bertakwa

Di masa resesi saat ini, tidak tepat jika perhatian kita hanya berpusat pada persoalan ekonomi. Karena ekonomi secara sederhana ialah perilaku manusia yang berhubungan dengan kegiatan mendapat uang dan membelanjakannya.

Artinya ekonomi tidak terlepas dari perilaku manusia itu sendiri. Maka al Qur’an sebagai petunjuk manusia, banyak bicara tentang manusia dan menganjurkan agar mengenal dirinya. Bahkan dalam susunan surah terakhir dalam Mushaf al Qur’an diletakkan surah An Nas yang berarti manusia.

Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia tidak bisa dilepaskan dari aneka persoalan yang terjadi. Ujung-ujungnya ialah karena perilaku manusia itu sendiri. Tak aneh jika Nabi diutus hanyalah untuk menyempurnakan makarim al akhlak dari manusia itu sendiri.

Tokoh Mufassir Nusantara, misalnya Prof. Dr. M. Quraish Shihab mengatakan bahwa dalam semua uraian al Qur’an, termasuk dalam bidang ekonomi selalu memandang manusia secara utuh. Al Qur’an memaparkan ajarannya dengan memperhatikan kepentingan individu dan masyarakat.

Individu manusia dilihatnya secara utuh, mulai dari fisik, akal, qalbu dan masyarakat yang dihadapinya dengan menekankan adanya kelompok lemah dan kuat. Tetapi tidak menjadikan mereka dalam kelas-kelas yang saling bertentangan sebagaimana halnya komunisme.

Namun al Qur’an memberi petunjuk dengan mendorong mereka semua itu untuk bekerja sama demi meraih kemaslahatan individu tanpa mengorbankan masayarakat atau pun sebaliknya.

Misalnya al Qur’an mengajak kita untuk menyadari bahwa kita tidak akan mampu membagi rezeki karena keserakahan diri dan rasa tidak puas serta kedurhakaan yang ada pada sebagian manusia.

Padahal pembagian rahmat Allah itu agar kita saling membantu dan bekerja sama sebagaimana dalam tafsir surah Az Zukhruf ayat 32 yang dikutip dalam Membumikan Al Qur’an jilid 2.

Apakah mereka, yakni manusia musyrik, yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu wahai Nabi Agung? Tidak! Kami telah membagi melalui hukum-hukum kemasyarakatan yang Kami tetapkan antara mereka serta berdasarkan kebijaksanaan Kami – baik yang bersifat umum dan khusus – Kami telah membagi-bagi sarana penghidupam mereka dalam kehidupan dunia, karena mereka tidak dapat melakukannya sendiri dan Kami telah meninggikan sebagian mereka dalam harta benda, ilmu, kekuatan dan lain-lain atas sebagian yang lain peninggian beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.

Sehingga mereka dapat saling tolong menolong dalam memenuhi kebutuhan hidup. Karena masing-masing saling membutuhkan dalam mencari dan mengatur kehidupannya. Dan rahmat Tuhanmu yang berupa kenabian yang mengantarmu bersama pengikut-pengikutmu meraih kebahagiaan duniawi dan ukhrawi lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan walau seluruh kekayaan dan kekuasaan duniawi.

Al Qur’an Mengajak Untuk Selalu Berbelanja

Salah satu bentuk kerja sama itu ialah dengan hadirnya kelompok menengah (middle class) dan atas (upper class) yang terus berbelanja (infaq) meski situasi ekonomi sulit. Sebab hal ini dapat memicu pertumbuhan ekonomi terutama menumbuhkan daya beli terutama bagi kelas bawah (lower class) serta menghidupkan UMKM di kalangan masyarakat.

Hal ini sudah diisyaratkan dalam al Qur’an, bahwa salah satu tanda orang yang bertakwa ialah selalu membelanjakan harta di waktu lapang dan sempit, bukan hanya terbatas di jalan Allah. Namun belanja ini tentu dibatasi dengan hal-hal yang prinsip seperti kehalalannya dan mengharapkan ridha Allah Swt dalam aktivitasnya tersebut. Dengan kata lain belanja ini merupakan bagian dari ibadah sosial.

Oleh karena itu, kelompok ekonomi yang mapan jangan menyimpan uangnya ketika sulit. Justru uang itu digunakan untuk saling membantu pemulihan atas resesi yang tengah terjadi.

“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,” (Ali Imran: 134).

Namun perlu diingat, belanja juga jangan sampai membuat diri akhirnya menyesal karena tanpa memperhitungkannya secara bijak. Prinsip keseimbangan juga mesti diterapkan. Tetap mindful saat berbelanja. Sebagaimana disebutkan dalam surah al Isra: 29.

“Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal.”

Jangan Fokus Hanya Persoalan Ekonomi

Kendati demikian, menurut Pendiri Pusat Studi Al Qur’an adalah satu kesalahan fatal bila semua persoalan yang dihadapi satu masyarakat dapat terselesaikan dengan terselesaikannya masalah ekonomi.

Karena jika diibaratkan, seorang dokter yang menemukan seorang pasien yang menderita penyakit pada salah satu organ tubuhnya. Maka pengobatan tidak bisa hanya dilakukan terhadap penyakit yang diderita organ itu dan lepas dari kaitannya dengan organ-organ tubuh lainnya. Karena boleh jadi justru pada organ lainnya itulah penyebabnya. Jika tidak pasien tidak akan sembuh bahkan boleh jadi akan bertambah parah.

Rekomendasi
Komentar
Loading...