Syekh Abdul Qadir Al Jilani: Pentingnya Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan menjadi masalah serius di berbagai negara di dunia. Indonesia jika tak berhati-hati pun tak luput dari problem global tersebut. Bencana kelaparan terjadi di negara dengan ekonomi yang tengah merosot. Terlebih di masa pandemi yang bisa dibilang memporak-porandakan ekonomi global.

Islam yang menekankan keharmonisan sosial dan keseimbangan sebetulnya paling vokal dalam menyerukan kedamaian. Kedamaian yang dikehendakinya niscaya dengan keharmonisan. Bagaimana hukum ditegakkan, harta tidak dimonopoli kaum tertentu, ekonomi yang berkeadilan, serta politik yang beretika serta menjunjung nilai-nilai kejujuran dan kebenaran.

Stimulus yang dilakukan instrumen dalam ajaran Islam seperti zakat dan wakaf dinilai berkontribusi dalam mencegah kelaparan dan mewujudkan ketahanan pangan. Belum lagi semangat persaudaraan dan hubungan silaturahim yang terus diperbaiki dan diperkuat, secara pasti dari dalam menyatukan spirit kemanusiaan dan merajut kesatuan kemanusiaan.

Nabi Muhammad Saw sebagai role model umat manusia hendaknya diteladani. Nilai dan ajaran-ajarannya kembali dihidupkan untuk kemaslahatan bersama. Sebab misi yang beliau bukan untuk keegoisan pribadi melaikan rahmat bagi semesta.

Beliau dan para ulama yang meneladani beliau mesti kembali “dihadirkan” dalam kehidupan saat ini. Bukan hanya nama, sejarah dan kisah perjuangannya, tapi bagaimana kasih sayang dan cintanya yang besar itu bisa terpatri dalam setiap umatnya. Sehingga lahir rasa kepedulian dan empati terhadap sesama.

Kebutuhan pokok bagi manusia adalah kebutuhan sandang. Manusia memerlukan makanan dan minuman yang bisa membantunya memperoleh energi untuk beraktivitas. Tanpanya, manusia bisa lemah, lunglai tak berdaya bahkan kehilangan nyawa.

Itu sebabnya, memberi makan kepada mereka yang lapar akan mendapatkan ganjaran kebaikan yang besar dari Allah Swt bahkan masuk surga-Nya.

اعْبُدُوا الرَّحْمَنَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَأَفْشُوا السَّلَامَ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

Sembahlah yang Maha Kasih, dan beri makanlah, serta sebarkan salam, maka kamu akan masuk surga dengan damai (HR. Tirmidzi).

Dalam hadis yang lain riwayat Imam Bukhari, nabi ditanya, Islam manakah yang paling baik? Nabi Saw menjawab, “kamu memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.

Menyangkut ketahanan pangan bersama ini, Sulthanul Aulia Syekh Abdul Qadir Al Jilani juga memberikan catatan yang patut kita renungkan.

قال الشيخ عبد القادر الجيلاني :فتشت الأعمال كلها ، فما وجدت فيها أفضل من إطعام الطعام ، ولا أشرف من الخلق الحسن . أود لو كانت الدنيا بيدي أطعمتها الجائع

Syaikh Abdul Qadir Al- Jilani mengatakan: Aku sudah memeriksa semua amal-amal kebajikan. Ternyata aku tidak menemukan amal kebajikan yang lebih utama dari memberi makanan dan lebih mulia dari perangai yang baik. Aku ingin, seandainya dunia ini ada di tanganku, pasti aku akan menggunakannya untuk memberi makan orang-orang yang lapar.

Dari sini kita belajar bahwa ketahanan pangan mendapat perhatian yang serius dalam Islam. Bukan hanya sekadar memberi makan yang lapar, tapi bagaimana agar tidak terjadi bencana kelaparan. Bagaimana menjaga stabilitas agar ketahanan pangan tidak terancam. Bagaimana mengelola sumber daya alam yang baik dan bijak. Bagaimana solidaritas nasional dan global itu terbentuk, tidak tamak dan serakah dengan mengedepankan kepentingan pribadi.

Rekomendasi
Komentar
Loading...