Syekh Tolhah Kali Sapu Cirebon (4/4)

Sejak pesantren didirikan pertama kali di Begong hingga pindah ke Trusmi, banyak santri, kiai dan pejabat yang berguru kepada Syekh Tolhah. Dari sekian muridnya ada seorang yang sangat menonjol, ia adalah Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad yang kemudian hari dikenal sebagai Abah Sepuh atau Ajengan Godebag.

Abah Sepuh adalah santri yang paling lama belajar kepada Syekh Tolhah, bahkan sudah menjadi keluarganya.

Semula Syekh Tolhah sudah menunjuk calon penggantinya yaitu putra sulungnya, Kiai Malawi apabila saatnya tiba beliau kembali ke rahmatullah. Namun Kiai Malawi meminta izin untuk pergi ke Mekah dan tinggal di sana untuk menambah ilmu agama beberapa tahun lamanya.

Setelah kembali dari Mekah Kiai Malawi memohon untuk tidak menjadi khalifah TQN menggantikan Syekh Tolhah yang juga ayahnya. Kiai Malawi masuk dalam daftar kiai yang dicari pemerintah Belanda, sehingga dapat mengganggu perkembangan TQN.

Kiai Malawi diketahui Belanda ikut terlibat dalam pemberontakan di Kedongdong yang terjadi sekitar tahun 1890.

Pemberontakan Kedondong di Kabupaten Cirebon yang disponsori para kiai ini sama besarnya dengan pemberontakan Cilegon di Banten dan banyak kerugian diderita pihak Belanda.

Berdasarkan situasi dan kondisi seperti itu, Syekh Tolhah menetapkan penggantinya kepada murid yang memenuhi segala persyaratan untuk menjadi Khalifah/Mursyid TQN, yaitu Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad dari Tasikmalaya.

Pengukuhan pelimpahan kemursyidan dilaksanakan di rumah Syekh Tolhah di Trusmi sekitar tahun 1900.

Meskipun telah resmi menjadi calon pengganti Syekh Tolhah sebagai khalifah TQN, pengajaran TQN dan talqin dzikir di Trusmi dan Kalisapu sewaktu-waktu masih diberikan oleh Syekh Tolhah sendiri dibantu oleh Syekh Mubarok. Syekh Mubarok untuk beberapa tahun berada di Trusmi dan Kalisapu membantu Syekh Tolhah.

Makam Syekh Tolhah di Cirebon.

Karena situasi yang memburuk bagi perkembangan TQN di Cirebon, Abah Sepuh diperintahkan segera membuka pesantren di Tasikmalaya untuk mengembangkan TQN di wilayah Jawa Barat sebelah timur dan pusatnya ditetapkan di Tasikmalaya.

Dengan hijrahnya pusat pengembangan ke Tasikmalaya, maka aktivitas di Cirebon dikurangi sesuai dengan keadaan yang terus berubah.

Syekh Tolhah masih terus memonitor perkembangan yang terjadi di Tasikmalaya. Bahkan sekitar tahun 1908 pernah berkunjung ke Pesantren Suryalaya yang dibangun pada tahun 1905 oleh Syekh Abdullah Mubarok atas prakarsa Syekh Tolhah.

Pada tahun 1935 Syekh Tolhah kembali ke rahmatullah dalam usia yang sangat lanjut. Beliau dimakamkan di Kompleks Pemakaman Gunung Jati karena Syekh Tolhah masih keturunan Sunan Gunung Jari dari jalur Pangeran Trusmi.

Upacara pemakamannya berdasarkan ukuran pada masa itu termasuk upacara yang cukup besar. Sultan kasepuhan dan beberapa pejabat pemerintah dan bangsawan keraton turut hadir.

Dengan wafatnya Syekh Tolhah bin Tolabuddin maka ke Khalifahan TQN di Cirebon berakhir. Khalifah TQN berikutnya berkedudukan di Suryalaya (Godebag) Tasikmalaya. Syekh Tolhah adalah khalifah TQN generasi pertama di Jawa Barat.

(Diambil dari buku Menelusuri Perjalanan Sejarah Pondok Pesantren Suryalaya, yang disusun oleh R.H. Unang Sunardjo SH).

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...