Talqin Dzikir untuk Guru-guru Ponpes Mamba’ul Hisan

Kebumen – Ponpes Mamba’ul Hisan yang berada sekitar dua kilometer dari pinggir Pantai Laguna Mirit, Kab. Kebumen mengadakan Pelatihan Guru Transformatif selama dua hari (19-20/2).

Pelatihan yang dimulai Selasa pagi ini melibatkan 35 guru dan asatidz pondok pimpinan KH. Abdul Mufti. Kiai yang sempat tinggal di Jakarta ini pernah menjadi imam masjid Al Mubarak Rawamangun (sekarang TQN Center) sekitar tahun 1975-1995.

Pondok Pesantren Mamba’ul Hisan adalah destinasi kedua dari rangkaian safari dakwah transformatif bersama Kiai Wahfiudin Sakam dan tim. Sebelumnya kegiatan yang sama telah diadakan di Banjarnegara. Rencananya setelah Kebumen, tim akan lanjut ke Jogjakarta.

KH. Abdul Mufti pimpinan ponpes Mamba’ul Hasin. (Foto: Hendra)

KH. Abdul Mufti berharap dalam pelatihan ini peserta dapat meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajarnya. “Teruslah tingkatkan ilmu dan pengetahuan untuk menggapai cita-cita bersama pada tahun-tahun mendatang.” ujarnya saat memberikan sambutan.

Sesi pertama diisi oleh Ustadz H. Handri Ramadian. Narasumber kursus tasawuf di TQN Center Jakarta ini menyampaikan materi 3I, Islam Iman Ihsan. “Tiang agama adalah Islam Iman Ihsan. Jika salah satu tiang ini roboh maka akan roboh juga lainnya. Maka belajar agama harus meliputi tiga tiang ini,” ujar Haji Handri.

Selesai materi 3I, wakil talqin KH. Wahfiudin Sakam menyampaikan talqin dzikir kepada seluruh peserta. “Kita sama-sama belajar dzikir yang tembus masuk sampai ke dalam qalbu.”

Proses talqin dzikir. (Foto: Hendra)

Kiai Wahfiudin menjelaskan mengenai hadis talqin dzikir. “Talqin dzikir jika diberikan kepada orang yang akan mati, baik. Akan lebih baik lagi jika diberikan kepada orang yang masih sehat,” kata Mudir Aam JATMAN.

“Semoga dengan talqin dzikir ini mereka semua bisa menjadi guru yang dapat mentransformasikan murid menjadi ahli ilmu dan dzikir,” demikian disampaikan moderator acara Ust. Saepuloh kepada redaksi. (Hen)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...