Tantangan Dakwah, Kemajuan Teknologi Datang 100 Tahun Lebih Awal

Judul di atas merupakan pernyataan Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA, Imam Besar Masjid Istiqlal dan Rektor PTIQ, saat Bimtek Penguatan Kompetensi Penceramah Agama Angkatan Kedua yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Ri (Jumat, 23/10/2020) di Golden Boutique Hotel, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Peserta bimtek yang berjumlah 70-an orang berasal dari utusan ormas Islam dan lembaga dakwah tingkat nasional. Ada pula utusan peserta dari Pusbintal Mabes TNI, DPP FKPM Dai Kamtibmas Nasional Indonesia dan dari Kementerian Agama sendiri.

Saya tertarik dengan pernyataan Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA karena materi yang disampaikan dengan judul Isu-Isu Aktual Keagamaan sarat dengan persoalan-persoalan masyarakat yang sangat banyak bermunculan di era digital. Hal ini menjadi tantangan dakwah yang harus dihadapi dan diselesaikan oleh para dai.

Bahkan beliau sampai berujar,” Jika persoalan-persoalan masyarakat ini saya jelaskan semua, Anda semua tidak akan bisa tidur!”

Namun ironisnya, justru para dai yang populer, menjadi influencer, di tengah masyarakat dan bermunculan di media TV dan medsos adalah para dai karbitan, dai selebritis, yang tidak memiliki kompetensi keilmuan dari segi isi dan sanad. Banyak masalah keagamaan yang ditanyakan kepada dai karbitan ini yang jawabannya justru sesat dan menyesatkan.

Menurut Prof Nasaruddin, sebagai industri bisnis, ‘agama’ stasiun TV adalah rating. Dai yang memiliki rating rendah, maka tidak akan ditayangkan lagi, walau ilmunya luas dan dalam.

Kesimpulannya, tantangan di atas menjadi pekerjaan rumah para dai. Tidak bisa dipungkiri, kemajuan teknologi yang sangat pesat yang datang lebih awal dari seratus tahun yang akan datang, dalam hal ini teknologi informasi, membuat para dai harus meng-upgrade diri, masuk ke dalam industri broadcast, industri digital, karena umat adanya di sana.

Rakhmad Zailani Kiki, Kepala Bidang Litbang LDTQN Pontren Suryalaya Jakarta

Rekomendasi
Komentar
Loading...